Home Sumbagsel Merajut Ekosistem Mangorve Kala Tambak Membentang

Merajut Ekosistem Mangorve Kala Tambak Membentang

OKI, Gatra.com - Petakan tambak udang dan ikan bandeng membentang luas di pesisir timur yang ada di desa Seimpang Tiga Abadi, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel). Aktivitas petani tambak dengan masif merambah hutan mangrove sejak tahun 1990-an.

Ekosistem mangrove barrier (penghalang) terjadinya intrusi (masuknya air laut ke daratan), abrasi, serta menyerap karbon. Secara ekologi, eskosistem mangrove merupakan tempat pemijahan (nurseri) ikan dan biota laut lainnya secara alami. Sebagai paru-paru bumi, hutan mangrove menjadi aspek penting dalam kehidupan. Ia juga melindungi masyarakat pesisir dari risiko terkena gelombang tinggi.

Sejarahnya, sejak 30 tahun lalu, suku Bugis (Sulawesi Selatan) dan suku Jawa asal Lampung, merambah hutan mangrove guna membuka tambak udang windu dan ikan bandeng secara tradisional. Ribuan hektar hutan mangrove yang berstatus hutan lindung (HL) beralih menjadi petakan-petakan besar tambak. Satu petak tambak berukuran 2 hingga 5 hektar (ha) atau 20.000 sampai 50.000 m2. Saat ini, ada sekitar 4.000 hektar (ha) tambak dengan status kawasan Alokasi Penggunaan Lain (APL). Sedangkan 1.500 ha tambak lainnya berada di wilayah HL.

Topografi atau bentang lahan Desa Simpang Tiga Abadi, terdiri dari daerah pantai dan dataran rendah dengan luas mencapai 10.100 ha (data desa) dihuni sekitar 3.560 jiwa dari 1.180 kepala keluarga (KK). Sebagian besar tanah gambut dan rawa-rawa serta terpengaruh oleh pasang surut. Mayoritas mata pencaharian warganya adalahan petani tambak.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pembukaan lahan tambak baru masih terus terjadi. Tak ayal, penebangan mangrove tidak terhindarkan sebagai akses masuk ke areal tambak warga, maupun berubah menjadi petakan tambak. Tidak ada jalan darat menuju tambak. Petani tambak rata-rata memiliki perahu motor sebagai satu-satunya transportasi ke lokasi tambak.

"Mata pencaharian warga di sini (Desa Simpang Tiga Abadi) 70 persen petani tambak udang windu dan ikan bandeng. Selebihnya tanaman pangan, palawija dan kebun sawit," tutur Sekretaris Desa Simpang Tiga Abadi, Imam Bukhori kepada Gatra.com, Selasa (15/11).

Menurutnya, pengelolaan tambak masyarakat masih tradisional. Produktivitas juga mengandalkan luas petak yang dimiliki. Kendati demikian, produksi tambak pada kurun waktu 15 tahun terakhir tidak lagi memuaskan petani tambak. Iklim yang tidak menentu menjadi faktor menurunnya hasil yang didapat. Termasuk makanan yang tersedia di alam seperti plankton dan ganggang juga berkurang. Petani memberi perangsang untuk pakan.

"Sejak 2006 lalu, perkembangan udang dan ikan bandeng terbilang sangat lamban. Bisanya 3 bulan sudah bisa panen, berubah menjadi 6 bulan sekali waktu panen. Akibat pertumbuhan yang lamban," ujarnya.

Faktor cuaca yang tidak menentu, apalagi musim hujan berkempanjangan menjadi faktor lambannya pertumbuhan udang dan ikan bandeng. "Berdasarkan pengalaman kami dan para orang tua, pertumbuhan justru akan cepat jika perubahan iklim berjalan secara normal. Untuk hasil saat ini, satu petak berukuran 2 ha, menhasilkan 1,5 kwintal udang windu dan 7 kwintal ikan bandeng. Setidaknya berkurang 50 persen dari sebelumnya (sebelum 2006)," paparnya.

Merubah Paradigma

Guna mengurai permasalahan perambahan kawasan hutan mangrove di pesisir Timur Sumsel, itu Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melalui program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) mengajak petani tambak dan para istri untuk terlibat dalam mengelola ekosistem mangrove agar tetap terpelihara.

Dalam mengubah paradigma dari perambah menjadi petani yang ramah, dibutuhkan kerja sama (sinergi) semua pihak tidak terkecuali kaum sitri yang cenderung menghabiskan banyak waktu di rumah. Problem umum yang dihadapi petani terutama petani konvensional, bagaimana meningkatkan nilai dari hasil pertanian yag diperoleh.

"Pola pendekatan yang kami lakukan untuk memelihara ekosistem mangrove bagaimana pihak-pihak terutama petani tambak memanfaatkan lahan yang ada secara maksimal dengan kearifan lokalnya, sehingga tidak merambah kawasan hutan mangrove di sekitarnya," Manajer Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) YKAN, Deni Setiawan.

Menurutnya, yang tidak banyak diketahui atau terabaikan mengenai peran ekosistem mangrove itu sendiri untuk keberlangsungan pertumbuhan udang atau ikan yang dibudi dayakan. Disamping yang wajib untuk diperhatikan bahwa ekosistem mangrove menjadi penghalang (barrier) terjadinya intrusi (masuknya air laut ke daratan), abrasi, serta menyerap karbon.

"Makanya, selain menanamkan pemahaman terkait fungsi ekologi dari mangrove, kami (YKAN) mengekplore permasalahan petani, mulai dari cara budi daya tambak yang tidak kalah penting bagaimana meningkatkan value hasil panen sehingga memiliki nilai jual tinggi. Sekarang bagaimana ekosistem mangrove terjaga, hasil didapat bertambah," katanya.

Deni menyebut, pemberdayaan kemampuan para istri mengolah makanan berbahan baku ikan dan undang menjadi hal penting untuk mendapatkan value sehingga memiliki nilai jual yang besar. Yang dilakukan, mengundang pakar atau praktisi yang berhasil menembus pasar hingga di warung dan mini market dari olahan ikan terutama ikan hasil laut seperti tuna.

"Untuk melatih dan menambah kemampuan serta rasa percaya diri kepada ibu-ibu petani tambak di Simpang Tiga Abadi dan Sungai Lumpur, YKAN mendatangkan ibu Nuraeni yang terbilang berhasil mengelola hasil ikan menjadi bahan olah siap konsumsi dan menembus pasar minimarket di Makasar. Ibu Nuraeni juga merupakan wanita tangguh yang mendedikasikan dirinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyaraat khususnya kaum perempuan pesisir," katanya.

Lanjutnya, Nuraeni mengajari para istri petani tambak agar terampil mengolah ikan hasil tambak berbahan baku ikan bandeng mejadi abon, prestro dan membuat nugget. "Andai hal ini bisa dimaksimalkan warga di sini (Simpang Tiga Abadi), tentu ini yang akan justru memberi nilai tambah. Dibanding dijual berupa ikan fresh yang hasilnya terkadang tergantung pada pengepul (tengkulak)," katanya.

Selain itu, dengan melihat potensi alam yang melimpah sambung Deni, YKAN juga melibatkan akademisi sekaligus peneliti Universitas Sriwiraja (Unsri), untuk mengolah buah nipah (nypa) salah satu ekosistem mangrove yang banyak ditemukan di perairan Tulung Selapan hingga ke muara selat Bangka, menjadi bahan utama makanan yang dikatakan mengandung serat dan baik untuk tubuh.

"Meski tergolong jenis mangrove, nipah memiliki buah seperti buah palem menyerupai sawit. Namun jenis ini hanya dapat berkembang biak di kawasan perairan pasang surut. Nah itu hal ini ada Dr Indah Widiastuti untuk berbagi pengetahuan sekaligus praktik membuat makanan dari tepung serta gula nipah," imbuhnya.

Ia juga menambahkan, dalam peningkatan nilai ekonomis hasil petani tambak, pihaknya berkomitmen untuk mendampingi hingga memiliki kemasan dan layak jual di pasar luas tidak terkecuali pada minimarket yang ada di OKI, dan Sumsel secara luas. "Ini tergantung kegigihan mereka. Kami berkomitmen untuk memfasilitasi sampai batas kemampuan yang kami punya. Untuk hasil olahan ikan bandeng, bahkan kami juga membantu untuk mengajukan izin edar dari lembaga terkait," katanya.

Kepala Desa Simpang Tiga Abadi, Samri HM menyampaikan, dengan bantuan dari program MERA warganya (petani tambak) terbuka wawasannya bagaimana cara yang tepat untuk mengelola tambak. Fungsi mangrove sangat besar untuk kesuksesan bertani tambak secara tradisonal.

"Masyarakat saat ini sudah banyak mengerti. Tentunya bagaimana produktifitas tambak meningkat, hutan mangrove juga tetap terawat," katanya.

Pemerintah desa tambahnya, juga terus berupaya agar perekonomian masyarakat tidak tersendat. Sentuhan teknologi budi daya tambak perlahan didapat, seperti pembuatan pakan serta nutrisi untuk udang dan ikan, supaya pertumbuhannya tidak terganggu dan hasil panen bisa melimpah.

"Alhamdulillah, dengan kegigihan masyarakat anak-anak di sini juga sudah banyak mengenyam perguruan tinggi. Bahkan jurusannya juga disesuaikan dengan potensi alam di sini yakni perikanan," katanya.

Memang yang masih terus derjuangkan dikatakan Samri, yakni masih banyak status lahan tambak yang masih Hutan Lindung (HL) mencapai 1.600 ha. "Mudah-mudahan hal ini juga dapat diperjuangkan menjadi kawasan APL (alokasi penggunaan lain). Dengan begitu ada kenyamanan dalam pengelolaan tambak di kemudian hari," harapnya.

Peran Perempuan Pesisir

Sumber daya alam di kawasan pesisir tidak bisa dianggap sepela. Banyak sekali yang bisa digarap atau diolah bernilai ekonomi. Hanya saja, keterbatasan pengetahuan atau keterampilan dan minimnya pengalaman menjadikan, bahwa kawasan pesisir selalu menjadi area masyarakat secara ekonomi dan pendidikan rendah terutama bagi kaum wanita (istri). Meski tidak sedikit yang dapat hidup mewah.

"Peranan istri itu tidak bisa dikesampingkan. Mereka (kaum wanita) juga harus mampu menopang ekonomi keluarga. Melalui keterampilan yang kita miliki, umumnya perempuan kan keterampilannya memasak. Jadi dari keterampilan itu bisa kita kembangkan. Suami sebagai nelayan atau petani tambak, bagai ikan yang dihasilkan diolah menjadi makanan yang bernilai ekonomi," tutur Nuraeni, enterpreneurship sekaligus aktivis wanita asal Makasar, menginspirasi kaum istri Petani Tambak Desa Simpang Tiga Abadi, Rabu (16/11).

Kemampuan dan pengalaman saat merangkak menuju kesuksesan sebagai enterpreneurship, didistribusikan kepada ibu-ibu petani tambak untuk bisa memaksimalkan sumber daya yang didapat agar bisa mapan dan mandiri. Ia juga mengajari, bukan hanya mengubah ikan menjadi makanan siap saji seperti abon bandeng, bangdeng presto dan nugget bandeng, melainkan menjadi wanita yang percaya diri (confidence).

"Untuk sukses, bukan hanya kita memiliki keterampilan. Tetapi juga rasa percaya diri, karena tidak selalu usaha berjalan lancara. Adakalanya kita mengalami kondisi sulit. Di sini kita tidak boleh patah semangat harus tetap optimis. Dan masalah utama istri-istri dipesisir kurang pencaya diri, akibat image terhadap mereka yang tergolong susah dan identik pendidikan rendah," ucapnya.

Ia menyadari permasalahan infrstruktur, minim juga kerap menjadi kendala. Apalagi penerangan (PLN) belum teraliri, moda transportasi yang sulit. Untuk gambaran menuju Desa Simpang Tiga Abadi, bila dari Kota Palembang, mengendai mobil ditempuh kurang lebih 4-5 jam. Kemudian menggunakan speedboat kurang lebih 3 jam. Namun, menuju ke desa ini juga jika dari Jakarta, menggunakan pesawat ke Pangkalpinang, Bangka Belitung, baru menggunakan speedboat kurang lebih 2 jam menyeberangi selat bangka.

"Apa yang dialami masyarakat di pesisir relatif sama. Oleh karenanya, kita bisamengembangkan jenis olahan yang bisa tahan lama. Abon, nugget juga bandeng presto memiliki ketahanan relatif lama walau tanpa pendingin," terangnya. Untuk harga, 100 gram abon ikan bisa dijual Rp25.000. Bandeng presto lima ekor dihargai Rp35.000. "Untuk hitungan ekonomi, hasil olahan juga bisa menambah nilai. Di sini juga ada nilai ekologi, bagaimana kita bisa mendapat nilai tambah dengan tetap menjaga alam sekitar," imbuhnya.

Sedangkan untuk harga penjualan udang dan ikan bandeng fresh sendiri perkilogramnya kisaran Rp15.000 untuk ikan bandeng, dan Rp25.000 jenis udang windu. Pangsa pasar sendiri selain ke OKI dan Kota Palembang, hasil penan juga dijual ke pengepul yang membawa ke Lampung dan Pulau Jawa (Jakarta).

Nur (begitu siapa disapa) juga mengingatkan, faktor higienis juga harus diperhatikan. Selain memiliki rasa untuk bisa menjangkau pasar menengah, hal ini (higienis) menjadi penting. Karena umumnya untuk olahan jenis ini biasanya dibutuhkan bagi mereka yang memiliki tingkat kesibukan atau kerja kantoran.

"Baru selanjutnya dipikirkan mengenai kemasan dan izin edar. Kalau sudah memenuhi standar dan dapat konsisten, maka Insya Allah kita akan merasakan hasilnya," ujarnya.

Ia juga menyebut, dari kerja kerasnya, dari awal bermodalkan Rp.1,5 juta. Kini dengan mengorganisir kaum ibu-ibu di Pesisir Sulawesi tempat tinggalnya, usahanya sudah beromset hinggat ratusan juta setiap bulannya dari berbagai olahan yang dihasilkan.

Sementara, Dr Indah Widiastuti menuturkan, minimnya pengetahuan dan keterampilan meski banyak potensi alam di sekitar tidak akan menjadi apa-apa. "Seperti tanaman nipah, di sebagian daerah memang ada yang sudah mengolahnya bahkan ekspor. Seperti lidi nipah, menjadi bahan baku kerajinan keranjang dan lainnya. Dari buah bisa menghasilkan tepung nipah, atau kolang kaling. Belum lagi bonggolnya yang muda bisa diambil nira sebagai bahan baku gula," katanya.

Peneliti juga akademisi Fakultas Pertanian Unsri, mengungkapkan dari uji gizi kadar karbon hidrat pada nipah banyak mengandung serat ketimbang pati. Serat yang terkandung di dalamnya bersifat fungsional baik untuk menurunkan kolesterol, menurunkan lemak dan juga gula darah. "Keunikannya tepung nipah ini, selain kaya serat juga bisa mengenyangkan. Sementara sifat pangan biasa hanya mengenyangkan," katanya, yang juga terus mengembangkan penelitiannya yang baru dimulai pada 2021 tersebut.

Mangrove dalam Angka

Wilayah timur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang berseberangan dengan Provinsi Bangka Belitung, dianugerahi beranekaragam mangrove. Aktivitas pembukaan tambak dan industri perkebunan, menyumbang semakin terkikisnya landskape pesisir. Dalam 30 tahun terakhir kawasan hutan mangrove di Sumsel, terus berkurang.

Data Direktorat Jenderal (Dirjen) Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, pada 1990 hutan mangrove di pesisir Sumsel, yang ada di Kabupaten OKI berkisar 48.515 ha, di 2010 berkurang menjadi 27.162 ha, dan 40.020 ha di 2021. Dari toal luasan hutan mangrove di OKI, 70 persen atau 30.000 ha berada di kawasan hutan lindung.

"Berdasarkan data di atas, kita dapat melihat hilangnya tutupan hutan mangrove terjadi rentang dari 1990 ke 2010 salah satu faktor pembukaan tambak yang masif," katanya. Data citra satelit, luas tambak di Kabupaten OKI, mencapai 39.721,46 ha dengan 22.046 petak.

Untuk luas hutan mangrove dan tambak di Desa Simpang Tiga Abadi, yakni mencapai 1.561,377 ha dengan rincian 75 persen kawasan dengan alokasi pengguaan lain (APL), 23 kawasan hutan lindung (HL), dan 2 persen hutan produksi (HP). Adapun luas tambak yaitu 2.438,46 ha, 63 persen di kawasan APL dan 37 persen masuk HL.

"Dibandingkan dengan daerah pesisir lainnya, di OKI ini cukup menarik. Karena terjadi sedimentasi (pengendapan) keluar, adapun di pesisir lainnya umumnya abrasi akibat dihempas ombak akibat hilangnya atau menurunnya ekosistem mangrove yang membentengi daratan," terangnya.

Sementara, Koordinator Pogram MERA YKAN, Saryadi menyampaikan, komposisi hutan mangrove yang terdapat di pesisir Kabupaten OKI, ditemukan 22 jenis tumbuhan terdiri atas 12 jenis mangrove mayor, 3 jenis mangrove minor, dan 7 jenis ikutan. Di hutan mangrove ini juga dihuni beberapa satwa mamalia 9 jenis 7 famili, herpetofauna 12 jenis dari 9 famili, dan 115 jenis burung dari 45 famili.

Sedangkan untuk sumber daya ikan di perairan pesisir OKI terdapat 15 ordo, 40 famili dan 56 spesies. Komposisi tertinggi di zona utara terdapat 35 spesies.

Untuk di setiap zona sendiri terdapat 7 spesies ikan, yakni parang-parang, senangin, pari elang, tebal sisik, duri, gelamo dan duri kawat. Selanjutnya, sumber daya non ikan terdapat 9 famili dan 12 spesies. Komposisi tertinggi berada di zona utara 9 spesies. Adapun 3 spesies non ikan yang ditemukan di setiap zona yakni, udang cakrek, belangkas dan sotong.

"Nilai manfaat pilihan ekosistem mangrove di desa pesisir OKI, dihitung dengan mengacu pada nilai keanekaragaman hayati ekosistem mangrove Indonesia, yaitu, US $ 1500 /km/tahun atau US $ 15 /ha/tahun (US$ 1=Rp.2.029,92) (Ruitenbeek, 1992). Maka nilai total keanekaragaman hayati (biodiversity) ekosistem mangrove di desa pesisir OKI, adalah Rp1.255.544.848.125 per tahun dengan luas ekosistem mangrove kurang lebih 40.014 ha," beber alumni Fakultas Kehutanan Undip ini.

420