Home Hukum Sambo Klaim Putri Marah Karena Dilibatkan dalam Skenario Tembak-menembak

Sambo Klaim Putri Marah Karena Dilibatkan dalam Skenario Tembak-menembak

Jakarta, Gatra.com - Terdakwa kasus pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo, mengatakan bahwa Putri Candrawathi sempat marah padanya atas peristiwa penembakan yang telah menewaskan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, pada Jumat (8/7) silam.

Mulanya, Sambo bercerita mengenai peristiwa yang terjadi pada Sabtu (9/7), atau satu hari pasca-penembakan. Saat itu, ia menyampaikan kepada Putri mengenai peristiwa yang terjadi pada hari sebelumnya.

"Tanggal 9, begitu bangun pagi, saya bangunkan istri saya. Istri saya menanyakan, 'Ada apa kemarin?'. Saya sampaikan, 'Richard menembak Yosua'," kata Sambo, dalam persidangan terhadap Bharada E, Ricky Rizal, Kuat Ma'ruf, di PN Jakarta Selatan, Rabu (7/12).

Tak hanya itu, Sambo juga menyampaikan pada Putri bahwa ia telah menyampaikan kepada Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo, bahwa peristiwa yang terjadi di rumahnya pada Jumat (8/7) adalah peristiwa tembak-menembak, yang dipicu oleh peristiwa pelecehan yang Brigadir J lakukan pada Putri Candrawathi.

"Saya sudah melaporkan ke Bapak Kapolri bahwa ini tembak menembak, karena kamu dilecehkan oleh Yosua," ungkap Sambo.

Mendengar pernyataan Sambo, Putri Candrawathi lantas marah pada sang suami. Pasalnya, sebelumnya ia telah berpesan pada Sambo agar tak mengatakan pada siapa pun terkait peristiwa pelecehan yang Putri alami.

"Istri saya marah. Istri saya menyampaikan, 'Dari awal, saya enggak mau ini diketahui orang, (tentang) peristiwa di Magelang. Kenapa kamu libatkan saya?'. Saya bilang, 'Tidak mungkin ada tembak-menembak tanpa ada penyebab'," kata Sambo.

Namun, rupanya penjelasan itu tak pula membuat kemarahan sang istri mereda. Putri Candrawathi tetap merasa tak terima, bahkan meski Sambo mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab dengan peristiwa yang terjadi.

"Makanya, saya sangat berdosa melibatkan (Putri) dalam skenario ini," ujar Sambo.

Sebelumnya Ferdy Sambo menyatakan bahwa peristiwa penembakan itu terjadi setelah ia mengucapkan kalimat "Hajar, Chad!" kepada Bharada E, usai ia memarahi Brigadir J yang menjawabnya dengan nada melawan, saat ia bertanya pada ajudannya itu terkait dugaan peristiwa pelecehan yang terjadi di Magelang, Jawa Tengah.

Sambo mengaku, lesatan peluru panas dari Bharada E itu membuatnya kaget, sehingga ia meminta Bharada E untuk berhenti. Tak hanya itu, ia mengaku panik dan tidak tahu cara untuk dapat menutupi peristiwa penembakan yang terjadi. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk membuat skenario tembak-menembak. Dalam skenario itu, peristiwa tembak-menembak disebut terjadi karena adanya pelecehan yang Brigadir J lakukan pada Putri Candrawathi.

Setelah itu, ia pun mengambil senjata Brigadir J yang ada di pinggang korban, sebelum akhirnya menembaki sejumlah titik di rumahnya dengan senjata itu, untuk mendukung skenario tembak-menembak yang ia ciptakan.

44