Home Hukum Dapati CCTV Rumahnya Mati, Sambo: Beruntung Itu Rusak

Dapati CCTV Rumahnya Mati, Sambo: Beruntung Itu Rusak

Jakarta, Gatra.com - Terdakwa kasus pembunuhan Brigadir J, Ferdy Sambo, mengaku beruntung karena CCTV di rumah dinasnya di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, rusak, pada saat peristiwa penembakan terhadap Brigadir J terjadi. Pasalnya, jika CCTV tersebut dalam kondisi hidup, maka ia tak akan bisa membuat skenario tembak-menembak untuk menutupi penembakan yang sebenarnya terjadi.

"Jadi, istilahnya, mohon maaf, Yang Mulia, beruntung itu rusak. Kalau itu tidak rusak, pasti saya tidak berani membuat seperti cerita ini, karena ada barang bukti," aku Ferdy Sambo, dalam persidangan terhadap Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf, di PN Jakarta Selatan, Rabu (7/12).

Lebih lanjut, Sambo mengatakan bahwa ada beberapa hal pasca-penembakan yang dipikirnya dapat mendukung skenario tembak-menembak yang ia ciptakan. Meski begitu, ia tak merinci detail beberapa keuntungan yang ia maksud itu.

"Jadi, saya lihat di olah TKP itu ada beberapa hal yang menguntungkan pasca-kejadian, seperti CCTV itu, Yang Mulia. Jadi saya melanjutkan saja cerita tembak-menembak itu. Saya mohon maaf," ujar Ferdy Sambo.

Rusaknya CCTV itu diketahui Sambo, karena ia sempat bertanya pada asisten rumah tangga (ART) Diryanto alias Kodir mengenai kondisi CCTV di rumahnya. Menurut Sambo, hal itu ia tanyakan pada Jumat (8/7) malam, yakni pasca-penembakan terjadi.

"Setelah kejadian, [saya] tanyakan ke Kodir, Yang Mulia, 'CCTV di dalam hidup enggak?'. Kodir menyampaikan, 'Rusak, Pak'. Saya juga tidak terlalu mendetail dan tidak mengecek lagi," aku Ferdy Sambo.

Kendati demikian, Sambo tak dapat memastikan kapan tepatnya waktu penembakan itu terjadi. Namun, ia menegaskan bahwa ia hanya menanyai Kodir mengenai kondisi CCTV dan memutuskan percaya kepada ART-nya itu, karena ia adalah orang yang menjaga rumah dinas Ferdy Sambo.

"Seandainya CCTV itu hidup tidak akan seperti ini," tutur Sambo lagi..

Sebelumnya Ferdy Sambo menyatakan bahwa peristiwa penembakan itu terjadi setelah ia mengucapkan kalimat "Hajar, Chad!" kepada Bharada E, usai ia memarahi Brigadir J yang menjawabnya dengan nada melawan, saat ia bertanya pada ajudannya itu terkait dugaan peristiwa pelecehan yang terjadi di Magelang, Jawa Tengah.

Sambo mengaku, lesatan peluru panas dari Bharada E itu membuatnya kaget, sehingga ia meminta Bharada E untuk berhenti. Tak hanya itu, ia mengaku panik dan tidak tahu cara untuk dapat menutupi peristiwa penembakan yang terjadi. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk membuat skenario tembak-menembak. Setelah itu, ia pun mengambil senjata Brigadir J yang ada di pinggang korban, sebelum akhirnya menembaki sejumlah titik di rumahnya dengan senjata itu, untuk mendukung skenario tembak-menembak yang ia ciptakan.

40