Home Hiburan Aperture dan Labyrinths (Libraries), Dwi Pameran Tunggal di ROH Galeri

Aperture dan Labyrinths (Libraries), Dwi Pameran Tunggal di ROH Galeri

Jakarta, Gatra.com - ROH galeri menghadirkan Aperture dan Labyrinths (Libraries), dwi pameran tunggal yang berurutan menampilkan karya-karya Davy Linggar (l. 1974, Jakarta) di Galeri Apple dan Heman Chong (l. 1977, Malaysia, besar di Singapura) di Galeri Orange. Pameran ini dibuka untuk publik mulai 11 Desember 2022 hingga 8 Januari 2023.

Aperture menghadirkan karya lukisan baru Davy Linggar yang menjangkau apa yang selama ini ditangkap matanya dengan kejelian yang lahir dari benaknya. Tangkapan ini terbentuk sepanjang kurun waktu tertentu dari berbagai tempat dan konteks berbeda. Pada sejumlah panel kayu berukuran identik, lukisan-lukisan yang dihasilkan mengantar penglihat pada ambang mimpi yang mengaburkan batas antara kenyataan dan khayalan.

Dalam pameran ini, Linggar menaruh titik berat pada eksplorasi lukisan-lukisan kecil. Karya- karya lukisnya dibuat dengan niat memahami hubungan antar dirinya dengan memori-memori tertentu berkenaan dengan waktu dan tempat yang tertuang pada karyanya.

Adapun Heman Chong, atas dasar praktik berlapis dan transdisipliner keseniannya, banyak mengungkap kerumitan sosio-politik dunia kita. Labyrinths (Libraries) berkisar di antara sejumlah seri karya yang membuka pemahaman atas kerumitan-kerumitan yang menyelimuti kekaryaannya dan menampilkan sejumlah karya dalam beberapa format berbeda, termasuk instalasi, lukisan, dan performans.

Tangan-tangan di Karya si Pemalu

Davy Linggar di depan karya lukisnya di ROH Galeri (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)
Davy Linggar di depan karya lukisnya di ROH Galeri (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)

Komposisi dalam lukisan Davy Linggar banyak menampilkan kejelian fotografis dan sebagian lainnya memasukan elemen abstraksi dan guratan pensil. Meski setiap karya dilukis pada panel kayu berukuran 20 x 20 cm yang terkesan identik, urat kayu pada setiap panel memunculkan garis usia pohon yang berbeda-beda.

Melihat lebih ke dalam karya lukis Linggar, kita bisa menemukan banyak lukisan dengan objek tangan. Soal ini, Linggar mengakui bahwa dirinya – dalam fotografi maupun lukisan — mempunyai ketertarikan khusus terhadap tangan-tangan manusia.

Tangan, katanya, dalam gesturenya yang bermacam-macam bisa menceritakan banyak hal. “Kan saya orangnya pemalu, tertutup. Kalau mau cerita pasti dengan menggunakan bahasa yang tidak langsung,” kata Davy Linggar, saat ditemui di sela pembukaan pameran, Sabtu (10/12).

Beberapa karya lukis Davy Linggar yang menjadikan tangan sebagai objek (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)
Beberapa karya lukis Davy Linggar yang menjadikan tangan sebagai objek (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)

Bagian pameran Aperture menampilkan sederetan 50 karya yang memang saling bercakap satu sama lain, membentuk apa yang hampir seperti instalasi tunggal dari ekspresi estetika Linggar. Warna, corak dan saturasi merupakan salah satu aspek integral yang tak lepas dari Aperture.

Sejumlah lukisan seperti Vogue, Respite, dan Lustrate sengaja dibuat monokromatik, menyajikan permainan antara kontras mentah dan tekstur sebagai titik fokusnya, boleh jadi berniat merujuk pada karya fotografi hitam-putih Linggar. Sejumlah lukisan, seperti Red Hot dan Unlikely, dibasuh dalam warna tunggal yang dengan tegas mengekspresikan ketajaman suasana tertentu.

Baca Juga: Menelusuri Pengalaman Personal Chiharu Shiota di Museum MACAN

Karya lain seperti Journey, Vague, Bliss, Rapture, diekspresikan dalam warna yang lebih alami dan organik — coklat, hijau, dan krem — yang merespon karakter panel kayu lukisan. Perjalanan menuju dunia penuh warna beroleh corak pastel pada Jolly dan Sheer dan hinggap di titik ujung pelangi pada Jaded dan Boiling.

Selain dari aspek-aspek di atas, ada banyak kemungkinan merasuk ke dalam Aperture, karena setiap lukisan berbicara banyak. Menilik ide dalam sebuah potret dan meninjaunya dalam konteks hari ini atau bagaimana gambar-gambar itu mewakilkan gaya hidup kosmopolitan masa kini adalah dua dari banyak jalan menerka karya-karya di pameran ini.

Linggar mungkin berniat mengundang pengunjung untuk mengalami lukisan-lukisannya dalam kedekatan yang amat manusiawi. Untuk mempelajari cara melihat Aperture dengan pikiran, serta merasakan hal-hal di luar pemahaman yang hadir dalam lukisannya.

Pembaca Tanpa Emosi hingga Kejutan di Balik Dinding

Heman Chong di depan karyanya di ROH Galeri (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)
Heman Chong di depan karyanya di ROH Galeri (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)

Seseorang berjalan mengelilingi ruangan, tangannya memegang sebuah ponsel. Sembari berjalan, ia membaca artikel yang ada di ponselnya itu keras-keras. Penampilan ini adalah bagian dari salah satu karya Heman Chong berjudul Everything (Wikipedia) (2016).

Pembacaan itu dimulai dengan laman artikel hari ini dari Wikipedia yang diakses langsung dengan koneksi internet, pembaca melafalkan artikel tanpa emosi. Setelah satu halaman habis dibaca, ia lanjut membaca artikel lain sesuai tautan yg dapat dipilih dengan bebas dari laman pertama, begitu seterusnya hingga waktu performans selesai.

Heman Chong menyebut performans berdurasi ini adalah usaha percuma menyuarakan representasi keutuhan pengetahuan manusia. Kaitan antara tautan demi tautan pada akhirnya mengantar pembaca pada artikel yang sama sekali tidak berhubungan dengan artikel pertama pada laman artikel hari ini.

“Titik berat dari performans ini adalah suara, karena suara menjadi cara kita untuk menyampaikan sesuatu. Suara adalah sesuatu yang asing. Suara adalah satu bagian dari tubuh kita yang tak terlihat, tapi itu sesuatu yang sangat khas tentang diri kita,” ucap Heman Chong.

Baca Juga: Pameran 'Age of Consent' yang Menyajikan Ruang Digital bagi Seni Media Baru

Di karya lain, Chong menampilkan Labyrinths (Libraries) (2022 - sekarang) yang merupakan sekumpulan gambar yang menyerupai peta-peta ruangan, yang terbangun dari petak-petak sempit. Ruang-ruang ini amat tertata, dengan hampir tak ada sisa untuk improvisasi. Garis-garis horizontal dan vertikal memenuhi permukaan lukisan, membentuk jalan yang ditentukan dalam benak kita tanpa harus beranjak lepas.

Bahasa visual dalam setiap lukisan yang ditemukan pada Labyrinths (Libraries) adalah getaran konstan antara ruang positif dan negatif; memantik ketertarikan dalam memikirkan bagaimana gagasan dapat dengan mudah diselubungi atau disembunyikan di balik gagasan lainnya.

Karya itu dipajang bersamaan dengan karya Cover (Versions) (2009 - sekarang) yang adalah seri sampul buku yang dibayangkan menjadi lukisan. Judul buku yang dipilih diambil dari daftar panjang nan istimewa yang terus bertambah berkat rekomendasi yang dikirim kepada seniman dari teman-temannya. Sebagian besar buku-buku ini belum pernah dibaca saat ia melukisnya, namun akan dibaca suatu saat nanti.

Karya Heman Chong, Cover dan Labyrinths (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)
Karya Heman Chong, Cover dan Labyrinths (Gatra/Hidayat Adhiningrat P.)

Lalu, beranjak ke bagian belakang galeri, pengunjung akan melewati sebuah dinding yang membentuk lorong. Di balik sana ada sebuah kejutan. Namun, besar kemungkinan Anda akan terkejut dengan cara yang tak biasa karena di sana hanya ada ruang kosong.

Ini adalah (Free) Trade (2022) yang menjadi karya baru Heman Chong yang mengapropriasi arsitektur bilik pasar seni yang ditransposisi dalam keadaan temporer berskala besar di tengah ruang galeri. Karya ini disebutnya sebagai patung minimalis yang dibangun dari sekumpulan instruksi yang akan dikonstruksi kapan saja dipamerkan.

Karya ini lahir dari ketertarikan Chong pada infrastruktur kehidupan sehari-hari. (Free) Trade mentransposisi bilik pasar seni yang serba ada dengan lugas ke dalam galeri, menghasilkan ruang kontemplasi yang lepas dari struktur seperti paviliun pada taman-taman atau dermaga pada danau.

Jika Anda mengharapkan sebuah ruang yang penuh dengan karya seni, mungkin Anda akan kecewa. Namun jika Anda ingin mengeksplorasi imajinasi, karya ini tepat dinikmati. Karena, melalui kekosongan dan ketiadaan inilah kita dapat sama-sama memikirkan kemungkinan dari ruang-ruang ini sebagai situs dengan makna yang timbul dari khayal.

345