Home Gaya Hidup Makin Banyak Platform, Penayangan Film Daerah Harus Konsisten

Makin Banyak Platform, Penayangan Film Daerah Harus Konsisten

Yogyakarta, Gatra.com - Kalangan perfilman nasional menyatakan perkembangan film daerah berbasis kebudayaan lokal harus terus didukung lewat konsistensi penayangan di berbagai platform. Pendanaan pembuatan film oleh Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta patut dijadikan contoh daerah lain.

Hal ini menjadi benang merah di diskusi ‘Disrupsi Teknologi terhadap Dunia Perfilman Lokal’ di Jogja National Museum (JNM) Kota Yogyakarta, Selasa (20/12). 

Diskusi yang diselenggarakan FlipFlopTV menghadirkan sutradara Hanung Bramantyo dan Djenar Maesa Ayu sebagai narasumber.

“Fenomena film pendek dan film lokal, saya menyebutnya film daerah yang terus bermunculan di banyak tempat seperti Palu, Makassar, Riau, dan lainnya patut didukung serta diapresiasi,” katanya mengawali diskusi.

Menurutnya, kehadiran film pendek dan daerah ini seiring semakin banyaknya ruang tayang yang disediakan berbagai platform, di luar festival dan komunitas. Selain lewat Youtube, kehadiran platform televisi berbayar menambah jumlah ruang tayang.

Keberagaman platform tayang membuat sineas tidak melulu mengandalkan tayang di bioskop atau ruang pemutaran besar untuk mempublikasikan karyanya.

“Yang dibutuhkan sekarang ini adalah konsistensi penayangan dari pengelola platform untuk film-film karya daerah yang berciri khas budaya lokal. Dengan konsistensi, kehadiran film daerah akan lebih beragam,” jelas sutradara film Bumi Manusia ini.

Hanung juga mengingatkan pengelola platform tayang untuk memperhatikan intelektual properti (IP). Intelektual properti seharusnya disepakati sejak awal kerja sama untuk kesejahteraan kreator film.

“Soal kekayaan hak cipta ini, DIY saya kira menjadi contoh yang tepat bagi banyak daerah maupun pengelola platform. Keberadaan Dana Keistimewaan (Danais) yang digelontorkan untuk membuat film dengan ciri khas daerah menjamin kreator tidak harus memikirkan pasar namun tetap mendapatkan kesejahteraan dari nilai intelektual propertinya,” jelasnya.

Kehadiran Danais hingga Rp200 juta dari Pemda DIY untuk pembuatan satu film daerah bisa dicontoh dan diterapkan daerah lain.

Djenar Maesa Ayu berpandangan kehadiran platform tayang bagi film daerah ini seperti menyediakan pasar bagi kreator film dalam negeri.

“Ketika bioskop tidak bisa mewadahi, maka mereka inilah yang menyediakan tempat dan waktu pada film daerah akan mendapatkan nilai. Ini sepadan di tengah pergeseran paradigma perfilman kita sekarang ini,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini festival dan komunitas tidak lagi melulu menayangkan berbagai film idealis atau independen. Demikian juga dengan bioskop yang tak lagi menitikberatkan penayangan film komersial. 

Ruang-ruang tayang yang diberikan platform akan menjadi pelarian untuk ajang penayangan di luar festival, komunitas, maupun bioskop.

Sebagai platform televisi berbayar, Presiden Direktur dan Founder FlipFlop TV Ricardo Tobing menyatakan pihaknya ingin menjadi rumah besar bagi komunitas film dan sineas daerah.

“Kehadiran kami akan fokus menghasilkan konten-konten film lokal yang mengangkat kebudayaan. Kami ingin mengangkat lebih tinggi potensi para sineas di daerah dan melepas ketergantungan Jakartasentris,” ungkap Ricardo.

Dengan melibatkan seniman, sineas, maupun komunitas film di daerah, diharapkan akan hadir berbagai produk sinema yang mampu mengangkat nilai-nilai budaya. Bahkan penggunaan bahasa daerah akan menjadi nilai tambah bagi sebuah film untuk bisa dinikmati seluruh warga Indonesia.

Diluncurkan hari ini, FlipFlopTV membuka kesempatan kerjasama tanpa kriteria khusus bagi kalangan perfilman daerah. Kerja sama ini tidak sebatas pada ide film, namun juga pada pendanaan pembuatan film.

“DIY menjadi tempat peluncuran FlipFlopTV karena ini adalah oase bagi seniman, kreator maupun komunitas film. Banyak nama besar perfilman yang lahir dari sini,” tutupnya.

56