Home Apa Siapa Kenangan Tsunami Aceh 2004: Syahrul Yasin Limpo dan Pertemuannya dengan Anak Yatim

Kenangan Tsunami Aceh 2004: Syahrul Yasin Limpo dan Pertemuannya dengan Anak Yatim

Jakarta, Gatra.com - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memiliki kenangan yang bersinggungan dengan musibah Tsunami Aceh pada 2004 lalu. Ia pun mendapatkan penghargaan sebagai Relawan Kesehatan atas individu yang berkomitmen, untuk melakukan upaya kemanusiaan dalam respon darurat bencana gempa dan tsunami Aceh.

Syahrul yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Selatan segera berangkat ke Aceh ketika mendapatkan kabar bila terjadinya musibah di Aceh. Setelah menggelar rapat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang kala itu masih dipimpin oleh Gubernur Amin Sjam, berkomitmen memberikan bantuan rumah jenis knockdown untuk korban gempabumi dan tsunami. 

Syahrul Yasin Limpo dan rombongan relawan dari Makassar pun terbang ke Aceh. Ketika rombongan relawan yang dikirim tiba di sana, mereka ditempatkan di lantai II Rumah sakit Umum daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA). Saat itu, baru selang beberapa hari gelombang tsunami menghancurkan Aceh.

Semalam suntuk Syahrul Yasin Limpo mengaku tidak bisa tidur nyenyak.

"Di lantai I RSUDZA, aroma kematian merebak. Mayat masih tergeletak di antara puing. Saya tidak dapat membayangkan betapa mengerikan musibah tersebut. Saya berdoa semoga orang Aceh dapat bertahan dengan cobaan yang di luar nalar manusia," ujarnya, Senin (26/12).

Esok harinya, Syahrul Yasin Limpo berkeliling. Ia dan tim mencari lokasi yang tepat untuk membangun rumah bantuan dari Pemerintah Sulsel. Dengan susah payah, akhirnya ia tiba di Lhoknga, Aceh Besar, yang merupakan salah satu daerah yang disapu bersih oleh gelombang tsunami.

Perkampungan di tepi pantai hingga radius tiga kilometer habis dilumat gelombang.

Di sana, Syahrul mengunjungi Pesantren Hidayatullah, yang berada di Gampong Nusa. Pesantren yang diasuh Teungku Mursalin.

Di pesantren tersebut, Teungku Mursalin menampung 2.000 lebih pengungsi yang berasal dari kampung sekitar. Dengan fasilitas seadanya, sosoknya mengelola pengungsi. Sejumlah bantuan kemanusian yang berasal dari lembaga internasional juga sudah tiba di daerah itu.

Ketika datang ke Hidayatullah, Syahrul langsung berkomitmen membangun delapan unit ruang, dua diperuntukkan sebagai Pustaka, dan sisanya sebagai tempat belajar santri. Di kemudian hari komitmen itu diwujudkan oleh Bupati Gowa periode 1994-2002 tersebut.

Ada yang menarik kala itu. Seorang anak yatim berkaos putih dan bercelana pendek warna merah. Bocah itu selalu memegang tangan Syahrul. Kemanapun Syahrul melangkah, sang anak selalu mengikuti. Jemarinya tak mau lepas dari pergelangan tangan politisi Partai NasDem, ini.

Anak kecil itu merengek kepada Syahrul, agar membawanya ke Jakarta, atau kemanapun Syahrul akan pergi. Dia sudah tidak punya siapa-siapa di Aceh. Kedua orangtuanya menjadi korban gempa bumi dan gelombang tsunami.

"Kala itu, saya belum dapat memenuhi permintaan anak itu. Benar bahwa saya sudah memiliki rencana mengadopsi 20 anak korban tsunami untuk disekolahkan di Jakarta, tapi kuotanya sudah penuh," paparnya.

Ada 20 anak adpopsi korban tsunami Aceh kini telah lulus sarjana. Bahkan ada yang telah menjadi dokter. Tapi ada yang masih mengganjal di ingatan Syahrul. Ia teringat kembali kepada sang yatim yang merengek kepadanya.

Setahun lalu, ia meminta teman-temannya melacak keberadaan sang yatim. Bermodal foto ketika si anak dan Syahrul berada di Pesantren Hidayatullah, pencarian pun di mulai. 

Teungku Mursalin pun ikut melakukan pencarian. Dia menjumpai Camat Lhoknga, Aceh Besar, memberitahu tentang kisah tersebut. Sang camat memberitahu keuchik dan sekretaris desa di bawah binaannya. Tapi tak satupun berhasil menemukan jejak sang yatim.

“Setelah kunjungan ke Pesantren Hidayatullah pada bulan Maret 2022, pak Syahrul masih mencari anak yatim itu. Tapi belum juga membuahkan hasil. Ia sangat rindu ingin bertemu dan melakukan sesuatu kepada anak tersebut,” katanya.

Hingga kini, pencarian sang anak masih berlanjut. Zaini Djalil berharap bahwa Syahrul berhasil menemukan sang yatim.

“Semoga saja Pak Syahrul berhasil bertemu kembali dengan anak itu," katanya.
 

129