Home Sumbagteng Gara-gara ini, NTPR Riau Tertinggi se Indonesia

Gara-gara ini, NTPR Riau Tertinggi se Indonesia

Pekanbaru, Gatra.com - Mata Syamsuar nampak mematut-matut tabel Nilai Tukar Petani (NTP) yang baru saja dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau itu. Mulutnya komat-kamit mengeja kolom demi kolom.

“Alhamdulillah, beruntung Riau punya sawit. NTP Riau naik terus dan kemudian menjadi yang tertinggi di Indonesia di akhir tahun 2022. Menaiknya NTP ini tentu menjadi pertanda bahwa perekonomian Riau membaik pasca Covid-19,” Gubernur Riau ini sumringah.

Adapun angka-angka yang dibaca bekas Bupati Siak dua periode ini antara lain; November 2022 NTP Riau 151,97. Angka ini meningkat 5,64% ketimbang NTP Riau bulan sebelumnya yang berada di angka 143,86. Bulan Desember, angka itu lagi menjadi 152,94. Inilah yang kemudian membikin NTP Riau melesak jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 109,00.

Indeks Harga yang Diterima petani (lt) di Riau juga menjadi yang tertinggi nasional; 175,09 dari 126,82. Sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) 114,49 dari Ib nasional 114,84.

Kalau kemudian angka ini dibandingkan dengan NTPR usaha tani lain seperti usaha tani tanaman pangan, NTPR kelapa sawit jauh lebih tinggi, mencapai 164,96. Sementara tanaman pangan hanya 90,60 dan hortikultura sebesar 100,37.

KH. Suher juga ikut sumringah dengan angka-angka itu. Lelaki 56 tahun ini tak menampik kalau kesejahteraan petani sawit telah berangsur membaik tiga bulan terakhir.

Dan yang membikin Ketua DPW Apkasindo Riau ini bangga, melejitnya NTP Riau melejit lantaran digendong” oleh indeks Nilai Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) kelapa sawit dengan angka 164,96.

“Waktu larangan ekspor April tahun lalu, kami memang benar-benar terpuruk. Harga TBS cuma sekitar Rp800-Rp1.200/kg. Kondisi ini langsung berdampak pada NTP Mei yang hanya 136,03. Bulan Juni melorot ke angka 133,68 dan Juli, anjlok tajam ke angka 118,40,” rinci lelaki asal Petapahan Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar ini.

Setelah kondisi membaik, NTP Agustus kata Suher mulai naik ke angka 133,35, September 139,27 dan seterusnya hingga kemudian di Desember 2022 menjadi 152,94.

“Bagi kami, kondisi ini sebenarnya tidak lepas dari bagusnya koordinasi antara Gubernur Riau dengan Kejaksaan Tinggi Riau. Sejak Oktober lalu, Kepala Kejaksaan Tinggi Riau, Dr. Supardi, SH, MH, telah membentuk Tim Pendamping Pokja Penetapan harga TBS petani yang setiap hari Senin dan Selasa dirapatkan di Disbun Riau,” katanya.

Dampak dari pengawasan melekat Kejati Riau itu kata Suher, dari Oktober sampai Desember, harga TBS Riau tertinggi di Indonesia. Padahal sebelumnya harga TBS di Riau sempat lebih rendah dari Kalimantan Barat, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Memang sejak awal Desember harga TBS cenderung turun lantaran harga CPO dunia turun. Walau harga TBS itu turun, tetap saja masih tertinggi di 22 provinsi penghasil sawit,”katanya.

Dari apa yang dijabarkan oleh Suher tadi, agaknya tak ada yang bisa membantah kalau daya beli di Riau tinggi, itu tidak lepas dari keberadaan sawit. “Pengaruh sawit di Riau ini ngeri-ngeri sedap juga lah. Apalagi 68% sawit di Riau dikelola oleh petani. Itulah makanya, begitu harga TBS anjlok, multi plyer effek nya sangat signifikan menyumbang inflasi di Riau,” katanya.

Lantaran itu, para petani sawit kata Suher sangat berharap agar semua pihak mau sama-sama menjaga kondusifitas hulu hingga hilir sawit itu. “Tengoklah, dengan sawit, semua sentra ekonomi berputar, mulai dari tukang tempel ban, warung, pasar tradisional, angkutan, tenaga kerja, toko saprodi, leasing kenderaan, perbankan, pasar modern, pajak dan simpul ekonomi rakyat lainnya ikut merasakan,”ujarnya.

Dan bagi Suher, Riau sangat beruntung punya jutaan hektar sawit yang tumbuh subur. “Coba bandingkan dengan provinsi non-sawit, NTP mereka hanya di kisaran 103 hingga 107,” Suher membandingkan.


Catatan: Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan oleh petani dan dinyatakan dalam persentase.

Contoh: Petani mendapat hasil dari usaha pertaniannya Rp1 juta per bulan. Di sisi lain dia harus mengeluarkan biaya hidup sekeluarga sekitar Rp1,5 Juta per bulan. Ini berarti, pertaniannya masih minus untuk biaya hidup. Maka NTP nya Minus.

NTP ini juga menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Semakin tinggi NTP (di atas 100), secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani (surplus). Jika NTP = 100 berarti petani mengalami impas (pendapatan petani sama dengan pengeluarannya).

Sebaliknya jika NTP kecil dari 100, maka petani mengalami defisit (pendapatan dari usahatani lebih kecil dari kebutuhan sehari-hari).


Abdul Aziz

337