Home Ekonomi Kontroversi Kebijakan Moneter Turki

Kontroversi Kebijakan Moneter Turki

Jakarta, Gatra.com - Kontroversi kebijakan moneter Turki menjadi sorotan banyak pihak. Pada saat inflasi tinggi, depresiasi ekstrim mata uang lira, dan kenaikan aliran modal ke luar negeri, otoritas moneter Turki mengambil langkah tidak biasa. Melawan arus. Membiarkan suku bunga rendah atau bahkan menurunkan suku bunga acuan.

Ekonom, Cem Oyvot dari Universitas Greenwich di London, inflasi tinggi Turki disebabkan oleh kesalahan kebijakan moneter, fiskal dan inkonsistensi pada doktrin bank sentral independen, independensi Central Bank of The Republic of Turkiye (CBRT). Kebijakan moneter dan fiskal digunakan oleh Erdogan (presiden Turki) untuk mempengaruhi pemilih.

Inflasi tinggi yang bersifat persisten merupakan masalah utama perekonomian Turki sejak tahun 1970-an akhir hingga saat ini. Inflasi tinggi disebabkan oleh permasalahan sisi permintaan (demand pull inflation) dan penawaran (cost push inflation) sekaligus.

Pertumbuhan ekonomi Turki yang tinggi tidak berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh masalah struktural, defisit current account dan capital account. Perekonomian Turki mengimpor lebih banyak barang dan jasa dibanding ekspor. Aliran modal keluar (capital outflow) lebih besar dibanding aliran modal masuk (capital inflow).

Perekonomian Turki mengalami overheating. Peningkatan permintaan tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Turki secara aktual lebih besar dari potensinya. Pertumbuhan ekonomi tinggi disertai oleh kenaikan inflasi dan suku bunga.

 

Overheating Ekonomi Turki

 

Overheating perekonomian Turki dapat diamati pada sejumlah indikator, pertumbuhan ekonomi tinggi diikuti oleh suku bunga tinggi. Hal ini menyebabkan cost of fund (biaya dana) menjadi mahal. Permintaan kredit berkurang yang menyebabkan penurunan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi terkoreksi).

Kapasitas perekonomian Turki tidak mampu mengimbangi kenaikan permintaan dalam negeri. Ketidakseimbangan sisi permintaan dengan penawaran menyebabkan inflasi naik secara persisten (permanen). Inflasi tinggi berlangsung dalam jangka panjang.

Kapasitas perekonomian yang rendah, tidak mampu memenuhi kenaikan permintaan domestik, menyebabkan impor meningkat. Akibatnya, defisit current account semakin lebar. Perekonomian Turki dipaksa untuk berproduksi melebihi kapasitas yang dimiliki. Pertumbuhan aktual lebih besar dari potensinya.

Lira pun mengalami depresiasi sangat tajam. Hal ini disebabkan oleh memburuknya fundamental ekonomi Turki, inflasi mencapai 85,5% pada Oktober 2022. Terjadi capital outflow, investor mengalihkan asetnya dari Turki ke aset keuangan berdenominasi dolar AS dan euro.

Inflasi tinggi Turki menyebabkan wage-price spiral. Inflasi tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menyebabkan upah riil turun yang mendorong kenaikan upah nominal untuk mengimbangi kenaikan harga kebutuhan pokok. Kenaikan upah kembali mendorong inflasi ke atas (cost push inflation).

Ibarat mesin, perekonomian Turki dipaksa untuk berproduksi melampaui kapasitas terpasang yang menyebabkan overheating. Terjadi tekanan upah dan harga. Impor meningkat untuk memenuhi permintaan domestik dan pinjaman terlalu tinggi yang menyebabkan harga aset naik (asset bubble) dengan yield rendah.

 

Kesalahan Kebijakan dan Kelembagaan

 

Pemahaman Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengenai kebijakan moneter menjadi sumber masalah perekonomian Turki. Erdogan mengintervensi otoritas moneter untuk menerapkan regim suku bunga rendah pada saat inflasi tinggi. Kebijakan ini menciptakan kekacauan ekonomi, inflasi semakin jauh dari target CBRT sekitar 5%.

Ekonom Greenwich University, Cem Oyvot di Euro News, 2022, menyebutkan kesalahan kebijakan ekonomi makro Turki sejak beberapa tahun lalu, dimulai dari kebijakan uang murah (suku bunga rendah) pada saat inflasi tinggi. Kebijakan ini menguntungkan para konglomerat pendukung Presiden Erdogan, terutama pengusaha konstruksi dan properti.

Para politisi Turki menggunakan kebijakan fiskal longgar untuk mempengaruhi pemilih. Kebijakan defisit fiskal diarahkan untuk mendukung program pemerintah, termasuk kenaikan upah bagi pegawai pemerintah. Masalahnya, pencetakan uang baru masih menjadi alternatif kedua membiayai defisit setelah surat berharga negara (government bonds).

Inkonsistensi pemerintah Turki terhadap prinsip bank sentral independen dengan inflation targeting framework yang diperkenalkan pada tahun 2001. Bank sentral Turki, CBRT seharusnya fokus pada menjaga inflasi dan nilai tukar. Terbebas dari tekanan dan kepentingan politik.

Apa hikmah yang dapat dipelajari dari Turki? Untuk mencegah inflasi tinggi yang persisten, pemerintah Indonesia harus fokus mengatasi masalah struktural perekonomian pada sisi pasokan. Meningkatkan efesiensi produksi, mengurangi ongkos transportasi, memotong rantai pasok melalui digitalisasi, mendorong inovasi melalui R&D, dan meningkatkan productivity growth.

Pada sisi kelembagaan, menjaga independensi kebijakan moneter yang menekankan pada kredibilitas kebijakan moneter dan central banker (pengambil kebijakan). Kebijakan moneter dijalankan dengan fokus pada pengendalian harga, seperti yang ditargetkan dan diumumkan ke publik setiap tahun.

Akhirnya, kita perlu berkaca pada Uni Eropa dengan konsistensinya pada konstitusinya, article 108, yaitu Undang Undang yang mendasari pembentukan European Community: “Neither the ECB, nor a national central bank...shall seek or take instructions from Community institutions or bodies, from any government of member state or from any other body”.

 

 

Oleh:

 

Muhammad Syarkawi Rauf

Dosen FEB Unhas dan Komisaris Utama PTPN IX

2436