Home Ekonomi Kepala BIN Sampaikan 4 Potensi Ancaman Global pada 2023

Kepala BIN Sampaikan 4 Potensi Ancaman Global pada 2023

Sentul, Gatra.com – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan, mengatakan, berdasarkan foresight intelijen, analisis big data BIN, dan counterpart intelijen dunia, pada tahun 2023 ada empat potensi ancaman global yang harus menjadi perhatian.

Ancaman dan tantangan tersebut, kata Budi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepala Daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah se-Indonesia di Sentul City, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/1), yakni:

1. Perang Rusia versus Ukraina

Perang antara kedua negara tersebut diprediksi masih akan berlangsung lama dan diperparah dengan potensi penggunaan senjata nuklir dengan skala terbatas.

Baca Juga: Ekonom Prediksi Indonesia Mampu Lalui Ancaman Krisis Global Pada 2023

Perang Rusia versus Ukraina tersebut telah mengakibatkan berbagai dampak terhadap berbagai negara, di antaranya mengganggu pasokan energi dan pangan dunia.

Selain itu, kata Budi, situasi konflik geopolitik Cina dan Taiwan di Selat Taiwan juga akan semakin memprihatinkan. Pasalnya, akan memengaruhi jalur logistik dunia.

Dampaknya, ujar Budi, banyak negara terpaksa harus menerapkan nasionalisme yang sempit atau langkah-langkah proteksionisme untuk mengamankan dan memenuhi kebutuhan dalam negerinya masing-masing.

2. Terbengkalainya infrastruktur sejumlah negara Eropa

Budi menjelaskan, mulai banyak infrastruktur sejumlah negara di Eropa mulai terbengkalai karena kekurangan biaya sebagai dampak dari inflasi. Ia mencontohkan Italia yang tengah mengalami krisis listrik dan kesulitan pangan.

Sedangkan beberapa negara di Afrika yang 90% atau sangat tergantung pada impor gandum dari Rusia dan Ukraina, terancam kelaparan dan kemiskinan ekstrem.

Adapun terhadap Indonesia, lanjut Budi, juga dihadapkan pada pekerjaan rumah yang sangat besar. Pasalnya, per Januari tahun ini, Indonesia menjadi negara net importir komoditas pangan, khususnya gandum, kedelai, beras, daging, dan bawang putih.

Menurutnya, peran seluruh pemerintah daerah (pemda) di Indonesia sangat penting untuk mengatasi potensi terjadinya krisis pangan. “Peran pemda ini memang sangat dibutuhkan,”katanya dalam keterangan pers.

3. Krisis mata pencarian, meningkatnya PHK dan pengangguran global

Ia menjelaskan, krisis mata pencarian dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta angka pengangguran global tersebut diperparah pembiayaan anggaran negara dan perusahaan yang menjadi lebih kompleks.

Menurutnya, hal tersebut karena masuknya konsep ekonomi hijau atau ekonomi ramah lingkungan yang mayoritas pemda dan industri lokal belum familiar dan belum siap dengan skema dan business model ekonomi tersebut.

“Yang jika kita salah dalam pengelolaan maka akan sangat berpotensi akan meningkatkan beban utang serta rentan terhadap perubahan teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, ada juga yang menggambarkan bahwa 2023 merupakan tahun ancaman resesi dan inflasi yang dampaknya akan berpengaruh sampai ke daerah, bahkan lingkungan terkecil.

“[Dampaknya] mengena dan dirasakan oleh ekonomi rumah tangga di sudut-sudut kota, di kabupaten hingga pelosok-pelosok desa,” ujarnya.

4. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan dampak tingginya inflasi global. Ini berakibat melambungnya beban impor yang sangat berdampak terhadap industri nasional, meningkatnya angka pengangguran, dan menurunnya daya beli masyarakat.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Masih Dianggap Baik di Tengah Ancaman Resesi Global, Kok Bisa?

Meskipun Indonesia diprediksi tidak akan terkendala resesi, Budi mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2023 diperkirakan hanya di kisaran 4,7%-5,3%.

“Dari hasil foresight intelijen dunia menunjukkan bahwa akan terjadi ketimpangan wilayah dan antarkelompok masyarakat di satu daerah yang semakin tinggi. Sehingga hal tersebut berpotensi mengurangi pertumbuhan di daerah kurang lebih 1,2%,” ujarnya.

Budi mengatakan, berdasarkan foresight (tinjauan masa depan) dari analisis intelijen dunia bahwa situasi perekonomian 2023 sebagai tahun yang “gelap” dan penuh ketidakpastian. “Istilah intelijen disebut dengan winter is coming,” ujarnya.

96