Home Internasional Gempa Turki-Suriah: Korban Tewas Sudah Melewati 15.000 Orang

Gempa Turki-Suriah: Korban Tewas Sudah Melewati 15.000 Orang

Ankara, Gatra.com - Jumlah korban tewas akibat gempa di Turki dan Suriah sudah melewati angka 15.000 pada Kamis dini hari (9/2). Harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat di antara puing-puing bangunan yang runtuh mulai memudar.

Di Turki selatan, orang-orang mencari tempat tinggal sementara dan makanan dalam cuaca dingin yang membekukan, dan menunggu dengan raut wajah sedih di tumpukan puing, tempat keluarga dan kerabat mereka yang telah terkubur.

Tim penyelamat masih berusaha dan menemukan beberapa orang hidup. Tetapi banyak orang Turki mengeluhkan kurangnya peralatan, keahlian, dan dukungan untuk menyelamatkan mereka yang terjebak—kadang-kadang bahkan ketika mereka hanya dapat mendengar suara teriakan minta tolong.

“Pihak berwenang hanya mampu mencapai 2-3 persen dari bangunan yang runtuh, di beberapa daerah yang terkena dampak,” kata sumber.

“Di mana negara? Kemana saja mereka selama dua hari? Kami memohon kepada mereka. Mari kita lakukan, kita bisa mengeluarkan mereka,” kata Sabiha Alinak, dekat bangunan runtuh yang tertutup salju di kota Malatya, tempat kerabat mudanya terjebak.

Baca Juga: Mengapa Gempa di Turki dan Suriah Mematikan?

Di Antakya, tampak puluhan jenazah, sebagian ditutupi selimut dan seprai, dan lainnya di dalam kantong jenazah, dijejerkan di tanah di luar rumah sakit. Seorang korban selamat, Melek, 64 tahun mengatakan dia tidak melihat tim penyelamat. 

“Kami selamat dari gempa, tapi kami akan mati di sini karena kelaparan atau kedinginan,” katanya, dikutip Arabnews, Kamis (9/2).

Ada pemandangan serupa di Suriah utara, yang juga dilanda dua gempa besar hari Senin. Duta Besar Suriah untuk PBB mengakui rezim di Damaskus menghadapi kurangnya kemampuan dan kurangnya peralatan. Dia menuduh akibat sanksi Barat.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengakui bahwa tanggapan awal pemerintahnya terhadap bencana tersebut tidak memadai, tetapi bersikeras menyebut bahwa itu sudah membaik.

“Kami akan menjadi lebih baik besok dan nanti. Kami masih memiliki beberapa masalah dengan bahan bakar, tetapi kami akan mengatasinya juga,” kata Erdogan dalam kunjungan ke Kahramanmaras, untuk mencari penyebab masalah dan melihat upaya penyelamatan dan bantuan.

Seluruh jalan di Kahramanmaras, kota terdekat dengan pusat gempa, hancur menjadi puing-puing. Ratusan tenda didirikan sebagai tempat berteduh di stadion olahraga. Sekitar 50 mayat terbungkus selimut tergeletak di lantai gedung olah raga.

Korban gempa pasti bertambah

Saat operasi pencarian dan penyelamatan berlanjut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa jumlah korban meninggal bisa melebihi 20.000.

Gempa serupa di wilayah tersebut pada tahun 1999, menewaskan sedikitnya 17.000 orang.

Pejabat Turki mengatakan sekitar 13,5 juta orang terkena dampak di daerah yang membentang sekitar 450 km dari Adana di barat, hingga Diyarbakir di timur. Di Suriah, orang tewas sejauh selatan Hama, 250 km dari pusat gempa.

Beberapa yang meninggal di Turki adalah pengungsi dari perang Suriah. Kantong jenazah mereka tiba di perbatasan dengan taksi, van, dan ditumpuk di atas truk bak datar untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.

Lebih dari 298.000 orang telah kehilangan tempat tinggal dan 180 tempat penampungan bagi para pengungsi telah dibuka, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Suriah. Semua itu mengacu pada daerah-daerah yang berada di bawah kendali pemerintah, dan tidak dikuasai oleh faksi oposisi.

Di Suriah, upaya bantuan diperumit oleh konflik yang telah memecah belah negara dan menghancurkan infrastrukturnya.

Baca Juga: Sudah Lebih 12.000 Korban Meninggal Dunia akibat Gempa Turki-Suriah

“Pengiriman bantuan kemanusiaan PBB melalui Turki ke jutaan orang di Suriah barat laut, dapat dilanjutkan pada Kamis setelah operasi jangka panjang dihentikan gempa,” kata pejabat PBB.

Di kota Aleppo, Suriah, staf di rumah sakit Al-Razi merawat seorang pria yang terluka dan mengatakan lebih dari selusin kerabat termasuk ibu dan ayahnya tewas, ketika bangunan tempat mereka tinggal juga runtuh.

Tekan Eropa untuk Bantuan Suriah

“Presiden Suriah Bashar Assad tampaknya mencari keuntungan politik dari gempa tersebut, dan mendesak agar bantuan asing dikirim melalui wilayahnya, tujuannga untuk menghilangkan isolasi internasionalnya,” kata para analis.

Sebuah LSM yang berbasis di AS, Misi Pemberdayaan Global, memobilisasi sekitar US$10 juta bantuan kemanusiaan dalam 24 jam terakhir, untuk para korban gempa.

Pada hari Rabu, Erdogan mengunjungi daerah Turki yang terkena dampak untuk memeriksa kerusakan akibat gempa dan berbicara dengan para penyelamat.

“Awalnya, 10.000 lira Turki ($500) atau sekitar Rp 8 Juta akan dialokasikan untuk setiap warga yang terkena dampak gempa,” katanya.

Setelah bencana, petugas SAR, serta petugas medis, juga telah tiba di Turki dan Suriah serta bantuan dari seluruh penjuru dunia.

Pemerintah kota Turki telah mengerahkan ratusan personel penyelamat mereka sendiri.

 Meskipun upaya penyelamatan domestik telah dikritik karena tidak cukup memadai oleh penduduk setempat, tanggapan internasional yang cepat terhadap bencana tersebut mendapatkan pujian.

Kepemimpinan Arab Saudi mengarahkan Pusat Bantuan dan Bantuan Kemanusiaan Raja Salman untuk mengoperasikan jembatan udara, membawa pasokan medis, tempat berlindung, makanan, dan bantuan logistik kepada para korban.

Baca Juga: Presiden Turki akan Bangun Daerah Dilanda Gempa Selama Setahun

Dana darurat PBB mengalokasikan US$25 juta untuk respons kemanusiaan di wilayah tersebut.

Asosiasi Turkiye untuk Solidaritas Pencari Suaka dan Migran telah mengirim tim yang terdiri dari 300 pekerja dan sukarelawan ke Antakya dan Hatay, serta penerjemah dan anjing penyelamat. Penyelamat dari migran akan ditawarkan dukungan psikologis melalui asosiasi.

Seorang warga Urfa, Baris Sakir dilaporkan selamat dari gempa berkat desain rumahnya yang modern.

“Namun, masih ada beberapa retakan di dalam rumah dan kami tidak berani masuk kembali ke dalam. Kami sekarang tinggal di sekolah seni rupa, tempat saya mengajar pelajaran piano. Putra kecil saya masih menghadapi pasca-trauma,” katanya kepada Arab News.

Restoran dan hotel menawarkan makanan dan akomodasi gratis kepada mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa bumi. Pemerintah kota Turki mengirimkan wadah makanan kepada penduduk setempat serta membayar akomodasi mereka.

Sementara itu, kota Istanbul menghadapi masalah karena tim penyelamat berusaha menghentikan kebakaran di pelabuhan Iskenderun, pada hari Rabu. Kota Ankara memulai perbaikan di bandara Hatay yang rusak. Saluran komunikasi telah terganggu secara signifikan oleh gempa tersebut.

Di Hatay, lebih dari 2.000 bangunan hancur, dan hanya 2-3 persen yang dapat dijangkau oleh tim penyelamat.

Pihak berwenang memperingatkan bahwa banyak anak-anak yang diselamatkan itu ternyata dibiarkan tanpa pendamping di rumah sakit setempat, dan itu berpotensi terjadinya penculikan.

“Alam memberi kita waktu tepat 23 tahun setelah gempa 1999,” kata Cem Say, seorang ilmuwan komputer terkemuka Turki, mengacu pada gempa besar di barat laut negara itu pada 1999.

Tahun lalu, Turki menghabiskan sekitar US$1,3 miliar untuk program-program manajemen bencana—sekitar 0,5 persen dari pengeluaran anggaran pemerintah pusat. Tetapi para ahli menggambarkan dana itu tidak mencukupi.

147