Home Ekonomi Bukan Sulap Bukan Sihir, Pedagang Pasar Ungkap MinyaKita Jadi Gak Langka Kalau Ada Kunjungan Pejabat

Bukan Sulap Bukan Sihir, Pedagang Pasar Ungkap MinyaKita Jadi Gak Langka Kalau Ada Kunjungan Pejabat

Jakarta, Gatra.com - Pedagang sembako Pasar Kramat Jati mengungkapkan fakta soal pasokan MinyaKita yang menjadi program andalan pemerintah. Hendri, salah satu pedagang yang ditemui Gatra.com mengatakan pasokan MinyaKita seret alias barang sulit didapat.

Hendri pun menilai pemerintah salah langkah. Program MinyaKita belakangan justru hanya menguntungkan pedagang, alih-alih konsumen yang menjadi target stabilisasi harga minyak goreng. Keterbatasan stok membuat pedagang menjual dengan harga di atas ketetapan Rp14.000 per liter. Bahkan MinyaKita bisa dijual oleh pedagang di kisaran Rp16.000 - Rp17.000 per liter.

"Sekarang tujuan pemerintah buat rakyat itu harganya murah, kenyataannya enggak. Faktanya, toko yang untung gede bukan rakyat. Jualnya pasti lebih dari Rp14.000 di toko - toko karena barangnya enggak ada (langka), dikasih 2 - 3 dus sebentaran habis," ujar Hendri di depan lapak sembakonya di Pasar Kramat Jati, Jumat (17/3).

Meski kenyataan di pasar banyak MinyaKita dijual di atas HET (harga eceran tertinggi), Hendri mengungkapkan bahwa selama ini tidak ada pengawasan langsung dari Satgas Pangan. Termasuk tidak ada pedagang yang ditindak. 

Padahal, para penjual MinyaKita di Pasar Kramat Jati, kata Hendri sebelumnya telah menandatangani perjanjian di atas materai ihwal ketentuan penjualan MinyaKita. Tapi, seperti halnya hukum pasar bekerja, stok langka di saat permintaan tinggi secara otomatis akan mengerek harga.

Sejak dipasarkan hampir setahun lalu, Hendri mengakui konsumen banyak yang beralih ke MinyaKita. Bahkan, minyak curah saat ini cenderung kurang diminati lantaran harga yang relatif lebih tinggi dari MinyaKita. Ia menyebut saat ini minyak curah dalam jerigen dipatok sekitar Rp17.000 per liter.

Hendri pun blak-blakan, menurutnya MinyaKita baru dibanjiri ke pasar pada hari saat para pejabat melakukan pemantauan harga pangan jelang bulan Ramadan. Padahal, sehari sebelumnya pun stok masih terbilang langka.

Pejabat Datang, MinyaKita Muncul di Lapak

Omongan Hendri terbukti kebenarannya. Saat Gatra.com lakukan pantauan di lokasi kunjungan Kepala Badan Pangan Arief Prasetyo Adi dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso itu banyak berdiri tenda-tenda dadakan dengan logo salah satu produsen MinyaKita. Tumpukan dus MinyaKita hingga jejeran pouch MinyaKita pun terpampang di setiap tenda-tenda dadakan tersebut.

"Tidak langka ya baru hari ini, kalau pejabat datang baru enggak langka. kemarin masih langka, baru hari ini di bagi-bagi, saya dapat (jatah) 20 dus," ungkap Hendri sedikit meradang.

Hendri mengaku gerah dan ingin menyampaikan langsung fakta kelangkaan stok kepada pejabat negara yang datang saat itu. Namun, menurut Hendri, aspirasi itu tak sempat sampai ke telinga dua pimpinan di sektor pangan itu. 

Adapun Hendri mengusulkan agar pemerintah harus siap untuk membanjiri MinyaKita di pasaran secara konsisten. Lagi-lagi Hendri berpacu pada hukum pasar, saat barang sudah melimpah di pasar secara otomatis pedagang pun akan menjual dengan harga lebih murah.

"Menurut saya banjiri pasar, toko  minta 100 (dus), kirim 200 (dus). Dia (toko) mau jual mahal ya enggak laku dia, otomatis jual murah ke pasar, ke rakyat," imbuhnya.

Sementara Arief dalam kunjungannya di Pasar Kramat Jati itu meyakinkan bahwa stok MinyaKita sebelum puasa dan lebaran tersedia. Ia mengatakan pendistribusian MinyaKita ke Pasar Kramat Jati sebanyak 10 truk atau setara 9.600 liter yang dilakukan oleh Rajawali Nusindo dan Apical Group.

Menurutnya, pendistribusian MinyaKita itu merupakan hasil tindak lanjut kesepakatan sebelumnya antara produsen dengan pemerintah untuk menyalurkan MinyaKita ke ID Food sebanyak 22,78 juta liter dan 7,07 juta liter ke Perum Bulog.

Arief pun meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pasokan MinyaKita. Pasalnya, Rapat Koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi tanggal 6 Februari 2023 lalu, telah diputuskan penambahan pasokan minyak goreng untuk kebutuhan dalam negeri dari sebelumnya sebanyak 300.000 ton menjadi 450.000 ton.

"Selain itu, di tingkat konsumen, pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan dan stabilisasi Minyakita dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 14.000/liter," imbuh Arief.

Menyitir data Sistem Informasi Pasar dan Kebutuhan Pokok, Kementerian Perdagangan harga rata-rata MinyaKita secara nasional per 17 Maret 2023 yaitu Rp15.100 per liter atau naik 7,09% dibandingkan harga pada 2 Januari 2023 sebesar Rp14.100 per liter.

334