Home Pendidikan Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, Gerebeg Stunting dengan Bantuan Dana Pemerintah Australia

Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, Gerebeg Stunting dengan Bantuan Dana Pemerintah Australia

Oleh: Dr. Krisdiana Wijayanti, Bdn., M.Mid. dan Tim*

5 desa lokus stunting di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yaitu Desa Purworejo, Sidomulyo, Klopoduwur, Sendangwungu, dan Balongrejo menjadi fokus penanganan stunting melalui proyek Enhancing the Role of Community Volunteers through breastfeeding companying, nutrition enrichment and sanitation improvement in stunting prevention and control program based on local wisdoms yang didanai oleh pemerintah Australia melalui Skema Hibah Alumni (Alumni Grant Scheme) yang diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia.

Dana ini berhasil di raih oleh Dr. Krisdiana Wijayanti, Bdn. MMid dosen Poltekkes Kemenkes Semarang, yang merupakan alumni universitas di Australia. Kegiatan melibatkan dr. Martha Irene Kartasurya, M.Sc.Ph.D dosen Universitas Diponegoro, ahli gizi komunitas dan konsultan penanganan stunting tingkat nasional, Susi Tursilowati, SKM, MSc.PH seorang nutritionist dan Bekti Putri Harwijayanti, SST. MTr.Keb, dosen dengan fokus penelitian stunting yang juga merupakan anggota tim penerima hibah.

Kegiatan dari proyek ini diawali dengan rapat koordinasi eksternal yang di hadiri oleh stakeholder kabupaten Blora yaitu Sekretaris Daerah, Bappeda, Dinas Kesehatan, Puskesmas pemangku 5 desa sasaran dan dipantau oleh ketua TPPS (Tim percepatan penurunan Stunting). Apresiasi diberikan oleh Sekretaris Daerah Komang Irawadi, SE, M.Si. atas keberhasilan grantee mendapatkan pendanaan untuk masyarakat Blora.

Gerebeg stunting ini dilaksanakan dengan mendayagunakan masyarakat desa setempat. Sejumlah 25 ibu dari kelompok dasawisma dilatih menjadi relawan pendamping ibu menyusui agar berhasil memberikan ASI eksklusif sebagai upaya mencegah stunting pada Balita. Selain mendapat pendampingan, ibu menyusui juga mendapatkan ASI booster (pelancar ASI) berupa kukis (kue kering) yang mengandung daun papaya.

Bahan makanan olahan ini tidak pahit walaupun berbahan dasat daun papaya, karena sudah memelui proses pengolahan. Olahan daun papaya berbentuk kukis ini menjadi lebih diminati terutama bagi ibu muda karena rasanya tidak pahit. Kukis ini membantu meningkatkan produksi ASI sehingga diharapkan ibu tidak berhenti menyusui karena alasan ASI tidak cukup.

Tidak hanya memfasilitasi masyarakat dengan pelatihan pembuatan kukis, proyek ini juga memberikan secara langsung kukis daun papaya kepada 25 ibu menyusui. Dua (2) keeping kukis diberikan setiap hari selama 4 minggu.

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pendampingan ibu menyusui oleh volunteer ASI yang juga telah memberikan pengetahuan tentang ASI dan ketrampilan menyusui dari saat ibu hamil. Dengan pemahaman yang cukup akan manfaat ASI ditambah kemampuan menyusui dengan teknik yang benar dan mengkonsumsi Kukis daun papaya, maka produksi ASI akan melimpah sehingga bayi mendapatkan ASI eksklusif.

Kegiatan lain dari proyek ini adalah pelatihan pembuatan olahan bahan makanan lokal yang mendukung pencegahan dan penanganan stunting. Dengan pelatih dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Blora, sejumlah 25 ibu muda dilatih memasak nuget lele dan abon labu ayam.

Pemilihan bahan olahan ini didasarkan dari hasil focus group discussion (FGD) yang melibatkan stake holder seperti dinas Kesehatan, puskesmas, dinas ketahanan pangan dan masyarakat desa. Protein hewani dipilih karena merupakan makanan terbaik pada stunting.

Penyerahan nuget lele dan abon labu ayam kepada balita stunting. (IST)

Lele dan ayam sebagai sumber protein yang baik, mudah didapat dan terjangkau harganya bagi masayarakat Blora. Sedangkan bentuk nuget dan abon dipilih karena bentuknya menarik dan diminati oleh anak kecil.

Selain memberikan pelatihan mengolah abon labu ayam dan nuget lele, proyek ini juga memberikan bantuan secara langsung makanan tambahan kepada balita stunting. Sejumlah 25 balita stunting menerima 1 paket nuget lele dan abon labu ayam setiap minggu selama 4 minggu.

Bahan makanan tambahan tersebut digunakan sebagai lauk 3x sehari berselang seling sehingga balita tidak bosan. Dampak dari pemberian makanan tambahan ini adalah adanya peningkatan berat badan balita stunting 0,534 kg dalam 2 minggu pemberian.

Mengingat stunting juga bisa disebabkan karena faktor sanitasi lingkungan yang tidak memadai, maka proyek ini juga melibatkan bapak bapak kepala keluarga (KK). Sejumlah 25 KK diberikan pemahaman tentang lingkungan sehat melalui pelatihan.

Pelatihan sanitasi sehat. (IST)

Materi seputar rumah dan jamban sehat, pengelolaan sampah, pencahayaan dan sirkulasi udara dalam rumah diberikan untuk selanjutkan bisa dideseminasikan kepada KK lain yang tidak berkesempatan mendapat pelatihan.

Untuk mengukur keberhasilan pelatihan ini, peserta diberikan pre dan post tes. Terdapat peningkatan pengetahuan pasca pelatihan dilihat dari rerata nilai yang didapat peserta pelatihan. Hasil aplikasi dari pelatihan ini adalah adanya kegiatan gotong royong membersihkan rumah dan lingkungan di masyarakat yang terjadwal dan disepakati oleh warga untuk dilaksanakan bersama.

Beberapa kegiatan dari proyek yang akan berjalan adalah diseminasi sanitasi sehat kepada masyarakat termasuk didalamnya pengelolaan lahan pekarangan dengan penanaman kelor dan labu. Seperti diketahui kelor merupakan tanaman kaya akan zat gizi yang baik untuk semua umur.

Sedangkan labu kuning sangat mudah tumbuh di wilayah Blora dan tidak kalah kandungan gizinya dengan jenis sayuran yang lain. Disamping itu produk olahannya berupa egg roll waluh sudah banyak diproduksi oleh UMKM sebagai produk khas Blora yang menambah penghasilan bagi masyarakat. Tujuan utama penanaman kedua jenis tanaman ini adalah membuat halaman bersih dan menghasilkan bahan makanan yang bermanfaat dalam mencegah stunting.

Melihat dampak positif dari proyek ini dalam keberhasilan membentuk volunteers, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat, membangkitkan budaya gotong royong, meningkatkan berat badan balita stunting dan memberdayakan bahan pangan lokal, maka model pencegahan stunting ini bisa dipertimbangkan sebagai kebijakan baru melengkapi kebijakan sebelumnya dalam upaya gerebeg stunting, menuju Blora Zero Stunting.

Dr. Krisdiana Wijayanti, Bdn., M.Mid. adalah Dosen Pasca Sarjana Poltekkes Kemenkes Semarang

*Tim:

- dr. Martha Irene Kartasurya, M.Sc.Ph.D adalah Dosen Universitas Diponegoro

-Susi Tursilowati, SKM, MSc.PH adalah Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang

- Bekti Putri Harwijayanti, SST. M.Tr.Keb adalah Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang