Home Politik SMRC: Jokowi Effect Berpengaruh Positif pada Elektabilitas Prabowo

SMRC: Jokowi Effect Berpengaruh Positif pada Elektabilitas Prabowo

Jakarta, Gatra.com – Memasuki tahun 2023, kepuasan publik atas kinerja presiden Joko Widodo (Jokowi) berpengaruh positif pada elektabilitas Prabowo Subianto. Padahal, sebelum 2023, hubungannya berkorelasi negatif. Kesimpulan itu terungkap dalam hasil kajian yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Evaluasi Kinerja Presiden dan Pilihan Capres 2024 di Pemilih Kritis” yang dirilis baru-baru ini.

Hasil kajian yang didasarkan pada analisis hasil serangkaian survei SMRC pada pemilih kritis sejak Juni 2021 sampai Mei 2023 menunjukkan pola hubungan antara kinerja Jokowi dan elektabilitas Prabowo mengalami perubahan sejak November 2022. Pada periode Juni 2021-Oktober 2022, kinerja Jokowi berkorelasi negatif dengan elektabilitas Prabowo. Namun setelah itu, dalam periode November 2022-Mei 2023, korelasinya berubah menjadi positif.

“Prabowo terlihat mendapat insentif elektoral atas positifnya penilaian publik terhadap kinerja Jokowi sejak November 2022,” kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani. Deni menjelaskan, perubahan tersebut terjadi seiring dengan rentetan peristiwa yang memperlihatkan kedekatan harmonis antara Jokowi dengan Prabowo.

Sejumlah pernyataan atau celotehan Jokowi ditafsirkan mendukung atau mengarah pada capres Prabowo. Di antaranya pernyataan bahwa presiden berikutnya giliran Prabowo, pernyataan tentang perlunya Indonesia mempunyai pemimpin yang berani, dan sebagainya. Selain itu, ada pula simpul pertemuan dari Jokowi dan lingkarannya yang memiliki sinyalemen mendukung capres asal Partai Gerindra tersebut.

Pertemuan tersebut di antaranya pertemuan Prabowo dengan Gibran, keberadaan relawan Jokowi yang mengusulkan Prabowo selain Ganjar, agresifitas Prabowo bersama Jokowi seperti kegiatan menanam mangrove yang tidak memiliki hubungan langsung dengan Kementerian Pertahanan, dan lain-lain.

“Itu semua terjadi memasuki 2023 sampai sekarang,” ujar Deni.

Grafis 1

Sementara itu, kinerja Jokowi konsisten berhubungan positif dengan elektabilitas Ganjar. Jika kinerja Jokowi dinilai semakin baik, maka elektabilitas Ganjar cenderung mengalami kenaikan. Begitupun sebaliknya. Hubungan positif antara kinerja pemerintah dan elektabilitas Ganjar semakin erat sejak November 2022.

Grafis 2

Hal sebaliknya terjadi pada Anies. Kinerja Jokowi konsisten berhubungan negatif dengan elektabilitas mantan gubernur DKI Jakarta tersebut. Jika kinerja Jokowi dinilai semakin baik, maka elektabilitas Anies cenderung menurun. Begitupun sebaliknya. Hubungan antara kinerja pemerintah dan elektabilitas Anies menjadi semakin negatif sejak November 2022.

Grafis 3

Deni mengatakan survei dilakukan dengan menggunakan sumber atau responden dari kalangan pemilih kritis. “Pemilih kritis” adalah pemilih yang punya akses ke sumber-sumber informasi sosial-politik secara lebih baik karena mereka memiliki telepon atau cellphone sehingga bisa mengakses internet untuk mengetahui dan bersikap terhadap berita-berita sosial-politik. Mereka umumnya pemilih kelas menengah bawah ke kelas atas, lebih berpendidikan, dan cenderung tinggal di perkotaan. Mereka juga cenderung lebih bisa memengaruhi opini kelompok pemilih di bawahnya. Total pemilih kritis ini secara nasional diperkirakan 80%.

Pemilihan sampel dalam survei ini dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD). RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Survei terakhir dilakukan pada 23-24 Mei 2023 dengan sampel sebanyak 915 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Margin of error survei diperkirakan ±3.3% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.

118