Home Nasional Consensys: Kesadaran Privasi Indonesia Tertinggi di Asia dan Nomor 2 Dunia

Consensys: Kesadaran Privasi Indonesia Tertinggi di Asia dan Nomor 2 Dunia

Jakarta, Gatra.com – Indonesia merupakan negara dengan kesadaran privasi dan pemberdayaan tertinggi di Asia dan nomor dua di dunia memungkinkan Indonesia menjadi negara yang paling progresif dan menjanjikan dalam mengarah ke internet yang didukung oleh pengguna dan berpusat pada komunitas.

Lead Marketing Consensys, Nicole Ardamar, dalam siaran pers diterima pada Rabu (28/6), menyampaikan, itu merupakan hasil survei pendapat global yang pertama kali dilakukan mengenai web3 dan crypto yang dilakukan Consensys, perusahaan teknologi perangkat lunak terkemuka dalam bidang web3.

Nicole menyampaikan, survei yang dilakukan secara daring oleh YouGov, grup periset data daring dan analitik teknologi internasional tersebut, sejumlah 77% responden menjawab bahwa mereka telah memberikan nilai tambah pada Internet, persentase yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara lain dan semua negara Asia yang disurvei, misalnya Jepang dengan sejumlah 40%.

Survei juga mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang paling peduli terhadap privasi di Asia dan hanya kalah dari Nigeria secara global, yakni 92% responden menyatakan bahwa privasi data penting bagi mereka.

“Indonesia juga menempati peringkat kedua dalam keinginan untuk membagi keuntungan yang diperoleh perusahaan dari data pengguna 81%, serta untuk memiliki lebih banyak kontrol atas data pengguna mereka 89%,” ujarnya.

Selain itu, Indonesia juga menempati peringkat pertama di Asia dalam keyakinan terhadap kepemilikan digital, yang menunjukkan bahwa mereka seharusnya memiliki hal-hal yang mereka ciptakan di Internet.

Masyarakat Indonesia juga lebih sadar akan konsep Web3.0 dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Asia, yakni sebanyak 23% responden menyatakan bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang Web3, dibandingkan di Jepang yang hanya 9%.

Berbeda dengan beberapa negara Asia lainnya, lanjut Nicole, Indonesia memiliki persepsi yang paling positif dan progresif terhadap crypto, di mana crypto dianggap sebagai mata uang masa depan yakni 17% dan memiliki potensi untuk kepemilikan digital sebesar 15%, serta sebagai alternatif terhadap ekosistem keuangan tradisional sejumlah 9%.

Temuan ini menunjukkan bahwa Indonesia, dengan populasi pemuda yang dimilikinya, sangat terbuka terhadap konsep-konsep Web3.0 dan berada pada posisi yang baik untuk menjadi salah satu yang terdepan dalam pergeseran paradigma menuju internet yang didukung oleh pengguna dan berpusat pada komunitas.

“Hasil-hasil tersebut juga menggambarkan pengguna Indonesia sebagai builder dan pencipta yang berorientasi ke masa depan, yang berkontribusi pada transformasi era baru Internet,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam penelitian atau survei ini melibatkan sampel survei sebanyak 15.158 orang berusia 18–65 tahun selama masa penelitian dari 26 April hingga 18 Mei 2023 di 15 negara pada benua Afrika, Amerika, Asia (termasuk 1.015 responden dari Indonesia), dan Eropa.

Hasil survei ini memberikan wawasan yang menarik dan unik tentang pemahaman dan pandangan publik terhadap ekosistem web3 dan crypto secara keseluruhan, melampaui survei-survei sebelumnya yang hanya mempertimbangkan persepsi orang-orang terhadap investasi dalam aset crypto.

Survei ini mengeksplorasi topik-topik seperti privasi data, jejak karbon crypto, siklus berita terkini, dan kepemilikan digital. Temuan survei menunjukkan bahwa orang-orang di seluruh dunia termotivasi untuk berkontribusi dan yakin bahwa mereka memberikan kontribusi yang berharga secara daring.

“Hasil riset menunjukkan bahwa orang-orang secara global termotivasi untuk membangun dan mempercayai bahwa mereka memberikan kontribusi secara online yang berharga,” katanya.

Survei ini dilakukan di 15 negara, yaitu Argentina, Brasil, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Meksiko, Nigeria, Afrika Selatan, Korea Selatan, Filipina, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Ia menyampaikan, hasil survei memberikan gambaran yang kuat tentang tingkat kesadaran yang luas terkait crypto dan dorongan yang kuat untuk kepemilikan, serta keyakinan terhadap masa depan crypto yang positif dan kesadaran crypto yang luar biasa, yakni sebanyak 92% dari peserta survei menunjukkan kesadaran terhadap crypto.

Kemudian, keyakinan yang kuat terhadap masa depan crypto. Lebih dari sepertiga dari responden yang sudah akrab dengan industri ini, mengungkapkan keyakinan mereka terhadap potensi crypto sebagai masa depan uang sejumlah 37% dan kepemilikan digital 31%, melebihi asosiasi dengan spekulasi sebanyak 25% atau penipuan sejumlah 26%.

Keinginan untuk memiliki lebih banyak. Sebanyak 50% responden percaya bahwa mereka memberikan nilai tambahan pada internet, sementara 67% dari mereka percaya bahwa mereka seharusnya memiliki apa yang mereka ciptakan di internet. Namun, hanya 38% responden yang merasa bahwa mereka diimbangi secara memadai untuk nilai dan kreativitas yang mereka berikan pada internet.

Selanjutnya, keprihatinan terkait privasi data. Sebanyak 83% responden mengungkapkan bahwa privasi data merupakan hal yang penting bagi mereka, 70% percaya bahwa mereka seharusnya mendapatkan bagian keuntungan yang perusahaan dapatkan dari data mereka, dan 79% menginginkan lebih banyak kendali atas identitas mereka di Internet.

Hasil survei menunjukan adanya peningkatan keinginan secara umum untuk memiliki kontrol terhadap identitas online, data yang dibagikan, dan keuntungan yang lebih adil bagi mereka yang berkontribusi melalui wadah online.

Dalam dunia baru ini, web3 dan kripto memungkinkan jaringan peer-to-peer global yang memberdayakan individu. Web3 membantu mengatasi keinginan-keinginan ini dengan menggeser kontrol identitas dari pihak ketiga kepada individu, serta membangun paradigma baru dalam penciptaan nilai dan pembentukan komunitas.

Menurutnya, orang-orang yang terlibat dalam kripto dan web3, baik sebagai pengembang perangkat lunak, pemegang aset kripto, atau menciptakan atau membeli NFT, bukan hanya sekadar 'pengguna' seperti biasanya didefinisikan, tetapi secara langsung berkontribusi dan membantu membangun komunitas dan ekosistem mereka secara keseluruhan.

Consensys melihat pemberdayaan para builder sebagai tujuan utama, dan berfokus pada mendukung orang-orang di mana pun untuk melihat potensi web3, peran yang dapat dimainkannya dalam kehidupan mereka, dan alat-alat yang mereka butuhkan untuk memulai.

“Survei ini mengonfirmasi munculnya paradigma kepercayaan terdesentralisasi yang memberdayakan pengguna dan komunitas. Era para builder sejalan dengan etos web3 dimana setiap orang dapat berkontribusi,” kata Joe Lubin, Pendiri dan CEO Consensys.

92