Home Nasional Kepala BNPT Instruksikan Kian Gencarkan Kampanye Kontraradikalisasi Daring

Kepala BNPT Instruksikan Kian Gencarkan Kampanye Kontraradikalisasi Daring

Jakarta, Gatra.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si., terus menginstruksikan jajarannya untuk kian menggencarkan kampanye kontraradikalisasi daring (online) guna membangun kedamaian di ruang digital.

Rycko dalam keterangan pers, Minggu (16/7), meminta jajarannya kian kreatif dalam membangun public awareness, baik secara luring (offline) turun ke lapangan maupun daring sehingga Indonesia yang harmoni bisa terus terjaga.

“Gunakan berbagai macam platform digital untuk membangun kesadaran publik agar menolak apapun itu ideologinya, yang mengajarkan tentang kekerasan, tidak bisa menerima perbedaan, membenci sesama ke kelompok, apalagi membenci pemerintah, menentang ideologi kita,” kata dia.

Ia menjelaskan, pihanya terus memperkokoh ketahanan generasi muda Indonesia dari paparan radikalisme demi mencapai visi Indonesia Emas 2045. Ketahanan generasi muda merupakan salah satu pilar utama dalam membangun masa depan yang kuat bagi Indonesia.

Salah satu tantangan nyata yang dihadapi generasi muda saat ini, adalah godaan untuk bersimpati terhadap gerakan radikal dan ekstrem lewat janji emansipasi palsu yang berseliweran di internet.

Rycko mengatakan, arus informasi yang masuk melalui internet kini sudah tidak dapat dibendung lagi. Salah satu ekses negatifnya adalah banjirnya pesan bermuatan ideologis yang dapat memberi pengaruh kontraproduktif, terutama kepada generasi muda.

“Sekarang sudah tidak bisa dibendung lagi berbagai informasi yang masuk ke seluruh lapisan masyarakat, baik secara langsung, secara offline, maupun online,” ujarnya.

Menurut Rycko, ideologi ini masuk, karena sekarang sel-sel yang membangun ideologi kekerasan bukan hanya dengan kegiatan terbuka. Hasil penelitian dalam laporan I-KHub BNPT Counter Terrorism and Violent Extremism Outlook Tahun 2023 juga mengonfirmasi kerentanan generasi muda Indonesia.

Interaksi online yang belakangan menjadi tren arus utama, terutama pada masa pandemi Covid-19. Kelompok ekstremis memanfaatkan untuk melakukan radikalisasi secara daring atau online.

“Tiga tahun masa pandemi kita lebih banyak menggunakan interaksi sosial online. Ternyata ini dimanfaatkan dengan menggunakan radikalisasi online yang disebut dengan online radicalization,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dari online radicalization ini kelompok paling banyak meningkat terpaparnya adalah pemuda, perempuan, dan anak-anak. Atas dasar itu, pihak terus berupaya membangun public awareness atau kesadaran publik.

Publik yang mempunyai kesadaran bahanya terorisme yang tinggi, tidak akan gampang terjerat janji-janji surgawi yang ditawarkan kelompok radikal ekstrem. “Sehebat apapun mereka mengajarkan ideologi kekerasan, kalau masyarakat menolak, enggak akan ada gunanya,” kata dia.

28