Home Ekonomi BTN Akad Massal KPR 10 Ribu Rumah Dukung Program Pemerintah, Erick: Carikan Solusi bagi Milenial

BTN Akad Massal KPR 10 Ribu Rumah Dukung Program Pemerintah, Erick: Carikan Solusi bagi Milenial

Jakarta, Gatra.com – Direktur Utama (Dirut) Bank BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan, Akad KPR Massal serentak 10 ribu unit rumah merupakan upaya pihaknya mendukung pemerintah merealisasikan Program Sejuta Rumah, khususnya mempermudah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memiliki rumah layak.

“Akad Massal KPR dilakukan serentak di seluruh Indonesia,” kata Nixon dalam keterangan tertulis diterima pada Kamis (10/8).

Selain mendukung program pemerintah, Akad KPR Massal yang dipusatkan di Perumahan Puri Delta Tigaraksa, Tangerang, Banten, tersebut juga dalam rangka menyemarakkan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) 2023.

“Kami ingin terus menjadi bagian penting pemerintah dalam menyejahterakan rakyat dalam mewujudkan rumah yang layak huni,” ujarnya.Akad Massal tersebut terdiri dari KPR Bersubsidi, KPR Nonsubsidi, pembiayaan syariah, dan KUR. Bank BTN juga fokus mendukung upaya pemerintah mengintegrasikan pembangunan perumahan dengan sarana transportasi massal atau transit oriented development (TOD).

Salah satunya, lanjut dia, Perumahan Puri Delta Tigaraksa yang dekat dengan Stasiun Tigaraksa dan Stasiun Tenjo. Perumahan tersebut sesuai dengan Konsep TOD, karena jarak dengan stasiun dekat sekali. Ini akan memudahan mobilisasi mereka yang bekerja di Ibu Kota Jakarta.

Ia mengungkapkan, tahun ini pihaknya menargetkan dapat menyalurkan pembiayaan rumah subsidi, baik KPR FLPP maupun KPR Tapera sekitar 182.250 unit dengan nilai mencapai Rp26,77 triliun. Target tersebut sekitar 80% dari total target pemerintah 2023, baik KPR FLPP maupun KPR Tapera yang sekitar 230.000 unit.

Untuk mencapai target tersebut, lanjut Nixon, pihaknya berkolaborasi dengan sejumlah pihak, di antaranya BP Tapera meluncurkan produk Tabungan BTN Rumah Tapera. Ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh kalangan pekerja informal untuk bisa mendapatkan pembiayaan rumah subsidi melalui kredit pemilikan rumah (KPR) berskema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

“Diharapkan potensi pembiayaan rumah untuk sektor informal dengan skema saving plan akan menambah sekitar 5.000 unit setara dengan potensi penambahan penyerapan nilai pembiayaan sekitar Rp800 miliar hingga akhir tahun ini,” katanya.

Nixon menegaskan, pihaknya juga concern terhadap pemenuhan rumah untuk kaum milenial. Realisasi KPR Subsidi pada periode tahun 2020 hingga Juli 2023 didominasi kaum milenial sekitar 90,94%.

Sedangkan untuk tahun 2020, kaum milenial menyerap KPR Subsidi sebanyak 92.448 unit senilai Rp13 triliun, tahun 2021 angkanya mengalami kenaikan menjadi 96.700 unit senilai Rp13,728 triliun, tahun 2022 naik menjadi 123.133 unit senilai Rp18 triliun dan pada Juli 2023 telah mencapai 62.672 unit senilai Rp9,4 triliun.

“Kaum milenial sangat besar dalam menyerap pembiayaan perumahan di Bank BTN,” katanya.

Dirjen Perumahan Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, mengatakan, pihaknya mengapresiasi kolaborasi dalam akad massal serentak sekitar 10.000 unit tersebut karena kolaborasi dan sinergi merupakan kunci akselerasi pembangunan, khususnya perumahan.

PUPR mengharapkan Bank BTN dapat mendorong skema pembiayaan yang lebih inovatif dan kreatif, khususnya bagi generasi milenial yang banyak bekerja di sektor informal.

Selain itu, Kementerian PUPR juga mendorong pengembang untuk bersama-sama meningkatkan kualitas rumah untuk rakyat, salah satunya dengan konsep green housing serta menciptakan ruang lingkungan hunian yang lebih asri.

Sementara itu, Menteri BUMN, Erick Thohir, ?menyampaikan, ada sekitar sekitar 81 juta milenial yang belum memiliki rumah dan backlog perumahan mencapai 12,7 juta unit. Ia mengatakan, ini harus dicarikan solusinya.

Ia berpendapat, untuk mengatasinya, bisa dilakukan melalui kolaborasi dan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN serta swasta melalui ramuan strategi yang pas.

“Tadi disampaikan kenapa dibangun di daerah sini, karena ada apa? Fasilitas kereta atau akses publik,” ujarnya.

Erick menyampaikan, layanan atau akses transportasi publik merupakan hal yang tak kalah penting. Ini juga merupakan daya tarik bagi kaum milenial dan masyarakat pada umumnya untuk membeli rumah di suatu wilayah.

“Makanya tadi saya lihat, bahkan ada yang usia 20 tahun, udah beli rumah. Artinya apa? Mereka tahu bahwa ini adalah kebutuhan yang sanggat penting. Mereka punya uang sedikit nabung lalu beli rumah,” katanya.

Erick berharap generasi muda di era sosial media yang luar biasa ini, untuk tidak lupa membeli rumah sebagai kebutuhan yang mendasar. Jangan sampai lebih banyak melakukan kegiatan belanja dan gaya hidup yang akhirnya kebutuhan memiliki rumah malah jadi tidak terpenuhi, habis dipakai untuk hal-hal yang tidak berguna.

Ia lantas menceritakan kisah ayahnya, almarhum Muhamad Thohir awalnya membeli rumah yang sangat kecil. Menurut dia, rumah adalah rumah itu bukan hanya tempat tinggal, namun harapan untuk hidup yang lebih maju lagi.

“Nah, karena kita penting yang namanya keluarga yang baik tentu membangun rumah yang baik dan layak huni,” ujarnya.

28