Home Regional Ribuan Hektare Sawah Kekeringan, Harga Beras Lampaui HET

Ribuan Hektare Sawah Kekeringan, Harga Beras Lampaui HET

Pati, Gatra.com - Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengungkapkan kenaikan harga beras yang mencapai Rp14.000 jauh melebihi harga eceran tertinggi (HET). Disinyalir bencana kekeringan menjadi penyebab, lantaran banyaknya lahan pertanian yang keringan pada musim tanam (MT) tiga Juli-akhir Oktober.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disdagperin Pati, Kuswantoro mengatakan, HET beras di Pulau Jawa untuk medium adalah Rp10.900 perkilogram, sedangkan premium Rp12.900 perkilogram.

"Kenaikan harga itu jauh melampaui HET. Harga beras konsisten naik sejak beberapa bulan terakhir. Terus mengalami kenaikan sejak bulan Juli tepatnya. Sekarang harga beras sudah diangka Rp12.500 perkilogram dan premium di pasaran yakni Rp14.000 perkilogram," ujarnya, Kamis (14/9).

Hal itu dipengaruhi lantaran tidak adanya musim padi di kabupaten berjuluk Bumi Mina Tani yang merupakan satu dari sekian lumbung padi di Nusantara. Mengingat, saat ini sawah-sawah penghasil gabah di Pati kebanyakan bersifat tadah hujan sehingga kurang mendukung untuk menanam komoditas tersebut.

"Selama musim kemarau dan tak memasuki musim tanam padi, harga beras terus mengalami lonjakan. Bahkan kondisi ini mendapat perhatian dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Jawa masuk zona I, bersama Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi," bebernya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Pati, Nikentri Meiningrum mengungkapkan, dari seluruh 56.000 hektare sawah di Pati hanya 8.500 hektare sawah yang mengalami gagal panen pada MT tiga. Dari puluhan hektare itu, pada MT tiga tidak semuanya menanam padi, ada juga yang beralih ke palawija. Mengingat sebagian besar merupakan sawah tadah hujan, khususnya yang di wilayah Pati Selatan.

"Untuk yang saat MT tiga saat ini hanya sedikit yang panen kalau dibandingkan dengan MT pertama dan kedua. Produksi gabah saat ini mengalami penurunan. Akibatnya ada lonjakan harga gabah, sekarang Rp6.000 perkilogram," imbuhnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Pati Martinus Budi Prasetya menerangkan, selain ribuan hektare lahan pertanian terdampak, ada sebanyak 7.949 KK yang terdampak atau 37.114 jiwa kesulitan untuk mengakses air bersih pada musim kemarau kali ini. Puluhan ribu warga itu tersebar di 9 kecamatan. Mulai dari Kecamatan Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Gabus, Kayen, Sukolilo, Tambakromo, dan Tayu. Sehingga dalam waktu dekat Pati bakal mengaplikasikan tanggap darurat bencana kekeringan.

"Kalau status tanggap darurat ditetapkan, semua OPD harus memberikan atensi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Misalnya logistik, kekeringan ini kan membuat harga beras naik. Panen gagal, bulog akan melakukan operasi pasar untuk menurunkan harga beras," ungkapnya.

 

97