Home Regional Embung Kurang Signifikan, Suplai Pertanian Andalkan Sumur Bor

Embung Kurang Signifikan, Suplai Pertanian Andalkan Sumur Bor

Sragen, Gatra.com - Kebutuhan air untuk pertanian di musim kemarau mengandalkan upaya mandiri petani. Keberadaan embung atau fasilitas irigasi milik pemerintah itu kurang signifikan menyuplai kebutuhan petani.

Salah satunya Embung Guworejo di Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Fasilitas irigasi milik Pemprov Jawa Tengah itu kini mengering. Embung tadah hujan itu tinggal menyisakan air di cekungan dasarnya saja. Para petani tak terlalu mengandalkan suplai air pertanian dari embung itu karena kurang signifikan.

"Lebih tinggi sawahnya daripada embung itu. Seperti hanya sekadar ada saja. Untuk mengairi sawah juga sulit. Para petani memilih pasang sumur sibel (sumur bor dalam)," kata Sekretaris Desa Guworejo, Istanti Handayani kepada Gatra.com, Rabu (4/10).

Di muka bangunan tertulis DPU SDA Taru Provinsi Jawa Tengah. Pagar besi mengelilingi bibir embung berbentuk persegi. Sebuah tonggak tertancap sampai dasar. Di ujungnya tertera angka 7,5 meter, menandakan ukuran kedalaman embung. Selokan irigasi sampai ke pintu air kering kerontang dan dipenuhi semak belukar.

Istanti mengatakan, meski embung itu kurang signifikan menyulai air irigasi teknis, namun masih bermanfaat bagi warga. Dinas Peternakan dan Perikanan Sragen rutin mengisi embung dengan bibit ikan.

"Ada tiga embung di desa ini. Dua diantaranya digadang-gadang untuk pertanian. Sedangkan embung Guworejo milik pemprov itu juga diisi benih ikan. Baru sepekan kemarin dipancing. Lumayan buat pemasukan kas Karangtaruna Guworejo," ujarnya.

Ia berharap Pemprov membenahi embung tersebut, supaya lebih bermanfaat bagi petani dan masyarakat sekitar. Mengingat, 70 persen warga desanya bertani di lahan berukuran 386.176 hektare.

"Baru 2017 lalu dipasang pagar dan dibuat bangunan permanen serta paving memutari embung. Sebelumnya hanya cekungan saja. Kami sangat butuh sumber air permanen untuk irigasi bantuan pemerintah," imbuhnya.

Parni, warga Desa Guworejo mengatakan embung terakhir kali dimanfaatkan petani pada Juli lalu. Setelah itu elevasinya terus menurun.

"Sawah di sini tadah hujan. Hanya dua kali panen. Kecuali petani yang punya sumur dalam, bisa panen sampai tiga kali. Embung ini susut airnya saat kemarau. Nanti terisi lagi musim penghujan. Bisa sampai meluber," tuturnya.

Diketahui saat kemarau, para petani di sawah tadah hujan mengganti komoditas tanamnya dengan kacang. Meskpun hasilnya masih kurang bagus.

1054