Home Lingkungan Bahasa Isu Krisis Lingkungan Terlalu Tinggi, Anak Muda dan Warga Desa Bingung Mau Melakukan Apa

Bahasa Isu Krisis Lingkungan Terlalu Tinggi, Anak Muda dan Warga Desa Bingung Mau Melakukan Apa

Yogyakarta, Gatra.com – Penggunaan bahasa untuk menjelaskan krisis iklim dan lingkungan dianggap masih eksklusif dan kurang dipahami masyarakat perdesaan atau kelas menengah ke bawah. Isu itu pun lebih banyak diperuntukkan bagi warga kota, sehingga anak-anak muda di perdesaan tidak tahu harus berbuat apa.

Kondisi ini terungkap dalam pemaparan program peserta ‘Bengkel Hijrah Iklim, Anak Muda dan Aksi Iklim di Akar Rumput’ yang digagas Kolaborasi Umat Islam untuk Dampak Iklim (Muslims for Shared Actions on Climate Impact/ Mosaic), Selasa (21/11), di Kota Yogyakarta.

Mosaic menghadirkan dua peserta dari lima yang lolos pendanaan program inkubasi penanganan kerusakan lingkungan itu. Pertama adalah Aniati Tokomadoran, penerima inkubasi program advokasi iklim dan pendidikan krisis iklim di pesantren. Kedua, Kholida Annisa, penerima inkubasi program My Green Leaders, gerakan untuk mendorong lahirnya pemimpin muda yang peduli iklim.

“Di pesantren, para santri sebenarnya mendapatkan pendidikan mitigasi iklim melalui keberadaan kebun kecil di depan kelas. Namun mereka tidak tahu itu bagian kecil dari upaya pelestarian iklim,” kata Aniati.

Bahkan dalam modul pelatihan, ia melihat hukuman menanam pohon sebenarnya sangat baik untuk diperluas. Namun jika ditilik lebih jauh, program ini menanamkan paradigma ke anak muda bahwa pelestarian lingkungan dengan penanaman pohon adalah suatu hukuman sehingga dianggap tidak baik.

Yang lebih memprihatinkan, selama ini kelompok di perdesaan dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah ternyata sama sekali belum memahami tentang krisis iklim yang sudah menjadi permasalahan global.

“Bahasanya terlalu tinggi dan terkesan eksklusif, sehingga kita mencari analogi sederhana mengenai dampak perusakan lingkungan pada mereka. Kita mencontohkan bentuk ozon itu seperti baju yang sekarang berlubang dan sinar matahari langsung menyentuh kulit karena tidak ada pelindungnya,” lanjutnya.

Dengan penggunaan bahasa dan analogi yang sederhana, Aniati menyatakan isu-isu krisis iklim menjadi lebih mudah dipahami masyarakat desa dan warga menengah ke bawah.

Pengalaman berbeda disampaikan Kholida Annisa. Ia memiliki program pembentukan pemimpin muda yang peduli pada penyelamatan lingkungan melalui jaringan pemuda Muhammadiyah. Saat ini Ida menjabat sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup di Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

“Di 111 daerah yang kami beri pelatihan, anak-anak muda yang masuk golongan generasi Z sebenarnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan namun mereka tidak tahu harus memulai dari mana,” jelasnya.

Menurut Ida, dalam kondisi inilah dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu memberi contoh dan memastikan ada banyak langkah yang bisa dilakukan anak muda untuk menyelamatkan bumi.

Keberadaan pemimpin yang peduli lingkungan ini, menurut Ida, sangat penting karena agar generasi muda tidak kecewa karena seruan dan aksi nyata kepedulian lingkungan selama ini tidak dipedulikan negara.

“Jangan sampai seperti di luar negeri. Setelah aksi kepedulian pada lingkungan, anak-anak mudanya bunuh diri karena merasa apa yang dilakukannya tidak dipedulikan negara,” paparnya.

Kehadiran pemimpin muda yang peduli lingkungan di masa depan akan sangat membantu generasi muda memahami lebih jauh bahaya dampak krisis iklim. Pemimpin yang baik, sebut Ida, mampu mendekatkan isu lingkungan dengan anak-anak muda.

Dalam tanggapannya, peneliti di Departemen Sosiologi dan Pusat Kajian Kepemudaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Ragil Wibawanto, menyebut Aniati dan Kholida adalah anak muda yang cocok jadi pemimpin di masa depan yang peduli pelestarian lingkungan.

“Di masa depan kita butuh pemimpin yang mengalami perjuangan dan berhubungan langsung dengan upaya-upaya penyelamatan serta pelestarian lingkungan. Mereka memiliki konsistensi karena mengalami langsung, sehingga memudahkan memberikan pemahaman atas tantangan krisis iklim ke masyarakat,” jelasnya.

Ia menjelalskan, dampak krisis iklim yang berbeda-beda akan melahirkan para pemimpin di tingkat lokal yang memiliki visi misi atas masa depan alam Indonesia. Jika visi misi mereka tersebar luas, pemimpin yang diharapkan akan muncul dari level lokal ke nasional.

162