Home Gaya Hidup Thanksgiving dan Warna Warni Keberagaman di Amerika

Thanksgiving dan Warna Warni Keberagaman di Amerika

Washington D.C, Gatra.com – Bagi Jeneba Ghatt, nasi jollof, hidangan tradisional dari Sierra Leone, merupakan bagian penting dari perayaan Thanksgiving keluarganya sehingga tradisi liburan tidak akan berarti tanpa nasi tersebut.

Ketika ibu Ghatt sakit tahun lalu dan tidak bisa memasak hidangan nasi yang diolah dengan saus tomat dan disajikan dengan sup daging sapi, ayam, atau ikan itu, liburan tersebut terasa belum lengkap.

“Itu seperti Thanksgiving yang gagal karena tidak ada nasi jollof,” kata Ghatt, yang datang ke Amerika Serikat (AS) dari Sierra Leone saat masih kecil dan sekarang tinggal di pinggiran kota Maryland, Washington.

Ghatt kini belajar memasak nasi jollof dan akan menyajikan hidangan tersebut bersama kalkun Thanksgiving ketika suami, anak-anak, dan tiga saudara kandungnya merayakannya tahun ini. “Inilah rumah, kenyamanan, dan keluarga,” ujar Ghatt sembari menggambarkan nasi jollof yang dihidangkan di meja Thanksgiving-nya.

Ghatt adalah salah satu dari banyak orang Amerika yang memasukkan resep leluhur mereka ke dalam sajian Thanksgiving. Beberapa keluarga Tionghoa-Amerika menambahkan isian ketan ke dalam hidangan Thanksgiving mereka, sementara beberapa keluarga Meksiko-Amerika menyajikan tamale.

Nataliya Mikhnova menyajikan borsch Ukraina, sup bit, untuk hidangan Thanksgiving. Keluarganya menerima dua undangan Thanksgiving pertama mereka tahun lalu setelah menetap di AS menyusul invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022.

Mikhnova mengatakan, dirinya menyukai perpaduan budaya yang merupakan bagian dari Thanksgiving pertamanya di negara baru. Keluarganya tiba dengan pakaian Ukraina dan belajar cara memasak hidangan tradisional Thanksgiving.

“Ini adalah liburan keluarga yang hangat. Perayaan ini patut kita syukuri saat ini karena banyak hal yang bisa kita syukuri. Kami merasa aman,” kata Mikhnova.

Warisan Italia Rosemarie DeLuca telah lama menjadi inti hidangan Thanksgiving keluarganya. Ayahnya menolak daging unggas setelah makan ayam mentah saat bertugas di luar negeri bersama Angkatan Darat pada tahun 1950-an, sehingga “hari kalkun” keluarga tersebut menjadi identik dengan lasagna buatan sendiri.

Memasak dari ingatan resep warisan leluhur keluarga di Naples, Italia, nenek DeLuca menyusun lapisan keju dan pasta yang lezat menjadi lasagna yang disajikan dengan sosis dan bakso yang direndam dalam saus buatan sendiri.

Ibu DeLuca akhirnya mengetahui resepnya. Namun, karena keluarganya sensitif terhadap gluten, lasagna sekarang dihidangkan hanya saat perayaan besar Thanksgiving ketika saudara-saudara DeLuca berkunjung. Saat tumbuh dewasa, DeLuca tidak pernah melewatkan makan malam kalkun yang disantap keluarga lain. “Kami pikir kami keren. Kami orang Italia dan kami makan pasta,” kata Mikhnova.

118