Home Hiburan Kemendagri Gandeng Hanung Bramantyo Garap Film Doku-Drama

Kemendagri Gandeng Hanung Bramantyo Garap Film Doku-Drama

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggandeng sutradara Hanung Bramantyo memproduksi dua film dokumenter drama (doku-drama) tentang kehidupan desa. Keduanya bakal ditayangkan untuk kali pertama di Djakarta Theater pada 2-4 Desember mendatang. Kolaborasi yang juga melibatkan Bank Dunia dan Direktorat Bina Pemerintahan Desa Kemendagri ini sudah dimulai sejak enam bulan lalu.

Dua film berjudul "Jawara Desa" dan "Desa Para Pemimpi(n)" itu mengambil latar di beberapa desa. Satu film berlatar di Nagari Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, dan Desa Mandalagiri, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Satu lagi berlatar di Desa Akebay, Kota Tidore, Kepulauan Maluku Utara, dan Desa Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

"Ini baru pertama kali Kemendagri memproduksi film dokumenter. Tujuan utamanya meyakinkan masyarakat bahwa di desa masih ada harapan. Kalau ingin maju dan sejahtera, bangunlah desa. Di film ini juga kami ceritakan tentang desa sudah banyak berubah, banyak inovasi yang dilakukan," ujar TB Chaerul Dwi Sapta, Direktur Lembaga Kemasyarakatan dan Adat Desa, PKK, dan Posyandu Kemendagri, dalam konferensi pers di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (29/11).

Baca Juga: JAFF ke-18 Digelar, Menjaga Pijar Film Asia di Kancah Sinema Dunia

Film-film yang dihasilkan pun diangkat dari kisah nyata yang digali via riset Hanung dan timnya. Maka itu, khawatir hasilnya menjadi tontonan yang kering, Chaerul pun mendorong Hanung agar menggarap doku-drama. Artinya, ada kontruksi ulang sinematik yang juga dibalut plot berdasarkan tuturan narasumber.

"Kisah-kisah perjuangan desa. Nah, di sini kami menggambarkan gotong royong warga dan pemerintah desa. Kami ingin sampaikan bahwa di desa masih ada harapan untuk tumbuh dan berkembang," papar Chairul.

Dari 10 kisah potensial yang didapat dari hasil riset, tim kolaborasi pun sepakat mengangkat empat kisah dengan masing-masing tokoh kuncinya. Ada kisah Del Fajri dan Dadih Leo, misalnya, yang tak lain adalah mantan preman yang kemudian insaf dan tobat, lalu malah aktif membangun desanya. Atau kisah Ado, seorang chef yang pulang ke kampung halamannya untuk mengenalkan Desa Tanjung Setia, wilayah pesisir berpasir putih dengan pantai yang menggulung-gulung, kepada dunia.

Baca Juga: Visual Hitam-Putih dalam Film Terbaru Yandy Laurens

"Empat tokoh di film ini kami angkat sebagai representasi dari narasi yang ingin kami gaungkan, yaitu membangun Indonesia dari desa. Bahwa urbanisasi adalah bahaya laten yang harus kita cegah. Caranya dengan memberikan kesadaran bahwa desa adalah jantung Indonesia. Indonesia akan maju, jika desa berdetak dan berkembang," kata Hanung dalam kesempatan yang sama.

Hanung juga memastikan bahwa kisah-kisah tersebut didukung oleh fakta yang akurat. Ini juga menjadi pengalaman pertamanya menggarap film berformat doku-drama. Di dalamnya ada konflik, intrik, persaingan, cinta, dan pengorbanan tanpa menghilangkan sajian terpentingnya: dokumenter.

104