Home Internasional Tiga Orang Tewas dalam Penembakan di Universitas Nevada, Las Vegas AS

Tiga Orang Tewas dalam Penembakan di Universitas Nevada, Las Vegas AS

Las Vegas, Gatra.com - Tiga orang tewas dan seorang lainnya terluka parah oleh pria bersenjata yang berakhir ditembak mati polisi di sebuah universitas Nevada, Las Vegas, Amerika Serikat pada Rabu (6/12).

Insiden di Universitas Nevada, Las Vegas, tidak jauh dari pusat perjudian Las Vegas Strip yang ramai dikunjungi turis, adalah yang terbaru di Amerika Serikat, di mana kekerasan bersenjata sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Tiga korban dipastikan meninggal,” kata Sheriff Las Vegas Kevin McMahill pada konferensi pers, dikutip AFP, Rabu (6/12).

Dia mengatakan korban keempat terluka parah akibat penembakan tersebut, namun kondisinya kemudian membaik dan sudah stabil.

Presiden AS Joe Biden dalam sebuah pernyataan mengecam tindakan kekerasan senjata yang mengerikan, terbaru yang meneror kampus.

“Polisi merespons dalam beberapa menit, terhadap adanya laporan penembak aktif pada pukul 11.45 (02.45 waktu Jakarta), kata McMahill pada konferensi pers.

“Dua petugas segera terlibat baku tembak dengan tersangka, dan tersangka "tertembak dan meninggal saat itu," kata kepala polisi universitas Adam Garcia.

Peristiwa tersebut bermula saat sedang berlangsungnya pertemuan mahasiswa di luar ruangan.

“Para siswa sedang bermain game dan makan, ada meja yang disiapkan untuk mereka membuat Lego,” kata McMahill.

“Jika bukan karena tindakan heroik dari salah satu petugas polisi yang merespons, mungkin akan ada banyak korban jiwa tambahan,” tambahnya.

Polisi tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai identitas korban atau pria bersenjata, dan sedang dalam proses memberi tahu keluarga terdekat.

Ledakan Boom

Seorang wanita mengatakan kepada penyiar lokal KVVU bahwa dia mendengar serangkaian suara keras dan melarikan diri ke sebuah gedung di kampus, dan kemudian dia dievakuasi oleh polisi.

"Saya baru saja sarapan dan kemudian saya mendengar tiga ledakan keras," katanya kepada stasiun televisi tersebut.

"Kemudian dua lagi, dan kemudian polisi muncul di sana dan berlari ke dalam... Tapi kemudian setelah dua menit, boom, boom, boom, tembakan lagi. Jadi saya berlari ke ruang bawah tanah, dan kemudian kami berada di ruang bawah tanah selama 20 menit," ujarnya.

“Petugas terus melakukan penggeledahan di kampus tersebut, yang akan tetap ditutup hingga Jumat, namun tidak ada lagi ancaman terhadap komunitas kami," kata sheriff.

Las Vegas adalah pusat perjudian dan hiburan yang menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya, banyak di antaranya datang untuk menyaksikan acara besar dan terkenal.

Bulan lalu, kota ini menjadi tuan rumah Grand Prix Formula Satu perdananya. Saat ini mereka menjadi tuan rumah Piala NBA bola basket di arena T-Mobile, hanya dua mil (tiga kilometer) jauhnya dari lokasi penembakan.

Bintang Los Angeles Lakers LeBron James menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang terkena dampak selama konferensi pers hari Rabu. Ia juga menyuarakan kemarahan atas ketidakjelasan penembakan massal.

“Tidak masuk akal jika kita terus menerus kehilangan nyawa orang tak berdosa, di kampus, sekolah, di pasar perbelanjaan dan bioskop dan sebagainya. Ini konyol,” ujarnya.

Tidak normal

Penembakan massal sangat umum terjadi di Amerika Serikat, negara dengan jumlah senjata lebih banyak dibandingkan jumlah penduduknya dan upaya untuk menekan penyebarannya selalu mendapat perlawanan keras.

Negara ini telah mencatat lebih dari 600 penembakan massal tahun ini, menurut Gun Violence Archive, sebuah organisasi non-pemerintah yang mendefinisikan penembakan massal sebagai empat orang atau lebih yang terluka atau terbunuh.

The Washington Post, yang mencatat jumlah penembakan massal, hingga Senin, telah terjadi 38 insiden yang menewaskan sedikitnya empat orang.

Las Vegas adalah salah satu lokasi penembakan massal paling mematikan di Amerika, ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di sebuah festival musik yang ramai pada tahun 2017, menewaskan 60 orang.

Upaya untuk memperketat pengawasan senjata selama bertahun-tahun menghadapi perlawanan dari Partai Republik, yang merupakan pembela setia dari apa yang mereka tafsirkan sebagai hak konstitusional, yang tidak terbatas atas persenjataan.

Kelumpuhan politik masih terus terjadi meskipun ada kemarahan yang meluas atas penembakan yang berulang kali terjadi.

“Ini tidak normal dan kita tidak boleh membiarkannya menjadi normal,” kata Biden.

“Untuk semua tindakan yang telah kita ambil sejak saya menjadi Presiden, epidemi kekerasan bersenjata yang kita hadapi menuntut kita berbuat lebih banyak lagi. Namun kita tidak bisa berbuat lebih banyak tanpa Kongres,” katanya.

23