Home Nasional Dapat Celana Batik Rp15 Ribu, Jokowi Mau Produk Lokal Tembus Afrika: UMKM Naik Kelas Bertahap, Tak Bisa Ujug-ujug Jadi Pengusaha Besar

Dapat Celana Batik Rp15 Ribu, Jokowi Mau Produk Lokal Tembus Afrika: UMKM Naik Kelas Bertahap, Tak Bisa Ujug-ujug Jadi Pengusaha Besar

Bantul, Gatra.com – Bertemu dengan lima ribu nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) di program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) di Kabupaten Bantul, Presiden Joko Widodo memborong berbagai produk lokal berharga murah. Bangga dengan kualitas produk yang kompetitif, murah, dan berdesain bagus, Jokowi ingin produk lokal mampu menembus pasar Afrika.

Bertemu di Lapangan Sabdodadi, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (30/1) siang, Presiden sebelum acara membeli celana batik, kaos, dan tas traveling.

“Di depan tadi saya beli celana. Jangan ditepuk tangani dulu, ini belum cerita. Celana batik ini harganya Rp15 ribu. Di sini sangat murah, sangat kompetitif, dan sangat bisa bersaing dengan negara-negara lain kalau memang harganya Rp15 ribu,” kata Presiden Jokowi.

Dengan ongkos produksi Rp10-12 ribu, harga jual tersebut menurut Presiden sudah memberikan keuntungan pada penjual. Ini artinya produk-produk tersebut sangat bisa bersaing.

“Jangan takut bersaing. Kalau jumlahnya (produksi) memenuhi kontainer, saya kira bisa jual banyak di Afrika. Asal harganya Rp15 ribu atau berarti satu dollar, biar laku. Pasti laku biar orang Afrika pakai batik semuanya,” ucapnya.

Tak hanya dari sisi harga, Presiden Jokowi juga menyebut desain berbagai produk yang dihasilkan ibu-ibu nasabah PNM Mekaar harus tetap dijaga.

Berpengalaman sebagai pengusaha, Presiden Jokowi meminta pelaku UMKM harus terus bersemangat dan tidak nglentruk atau nglokro. Persoalan apapun yang ada harus dihadapi.

“Contoh, dulu saat dagangan lagi laris-larisnya, tahu-tahu Covid. Kita tetap harus tetap jalan atau membelok. Kemarin bertemu dengan UMKM kerajinan di Magelang yang berpindah jalur berjualan makanan lalu belok lagi ke kerajinan. Menghadapi kondisi yang yang berat harus memutar otak agar usaha itu berjalan,” jelasnya.

Presiden Jokowi memberikan apresiasi pada program PNM Mekaar karena pada 2015-2016 hanya memiliki nasabah 400 ribu dan hari ini berkembang hingga 15,2 juta nasabah.

Demikian juga dengan nilai pinjaman yang disalurkan, yakni dari sebelumnya Rp800 miliar sekarang menjadi Rp237 triliun. Adapun tingkat kredit macetnya kecil sekali yakni hanya 0,5 persen.

“Program yang kita desain ini disambut dengan baik oleh pengusaha UMKM dengan harapan bisa naik kelas. Mikro naik kelas ke kecil, kecil naik ke kelas menengah, dan kelas menengah ke besar. Tidak bisa ujug-ujug jadi pengusaha menengah atau besar. Tidak bisa,” tegasnya.

Presiden Jokowi juga berpesan bahwa menjadi pengusaha sukses itu kuncinya adalah disiplin, khususnya dalam membayar angsuran. Berkomitmen pada pembayaran cicilan sesuai waktunya, menurut dia, mendidik pengusaha untuk disiplin. Jika bisa dilakukan, hal itu akan memperbesar peluang untuk mengajukan pinjaman yang lebih besar ke bank.

“Namanya usaha, tahap demi tahap. Belum bisa ekspor, tunggu tanggal mainnya bisa ekspor. Merintis sepuluh tahun lagi naik kelas ke tingkat atas. Sekarang naik sepeda motor, sepuluh tahun lagi naik mobil semuanya,” tutupnya disambut ucapan amin oleh hadirin.

40