Home Internasional Kemana Warga Rafah Akan Mengungsi? Bahkan PM Israel Tidak Tahu Jawabannya

Kemana Warga Rafah Akan Mengungsi? Bahkan PM Israel Tidak Tahu Jawabannya

Rafah, Gatra.com - Tentara Israel berencana melancarkan serangan militer di Rafah, tempat bagi lebih dari 1 juta warga Palestina yang mencari perlindungan dari perang

Ditengah ketegangan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjanjikan "perjalanan yang aman" untuk puluhan ribu warga Palestina keluar dari kota paling selatan Gaza itu. Namun, tidak jelas akan kemana warga Palestina yang mengungsi .

Netanyahu, dalam sebuah wawancara yang disiarkan hari Minggu di acara "This Week" ABC menegaskan kembali niatnya untuk memerintahkan pasukan Israel menyerang empat batalion Hamas di Rafah, dengan mengatakan kemenangan tidak dapat dicapai atas militan di Gaza tanpa membersihkan mereka dari kota di perbatasan Mesir.

Ditengah tekanan internasional Netanyahu tetap mengatakan, "Kami akan melakukannya. Kami akan melakukannya itu sambil memberikan jalan yang aman bagi penduduk sipil sehingga mereka bisa pergi." Ketika ditanya ke mana warga Palestina akan pergi- yang sebagian besar sudah berlindung di tenda-tenda darurat -, Netanyahu hanya mengatakan bahwa para pejabat Israel "sedang menyusun rencana yang terperinci", seperti dilaporkan laman Voanews, Minggu (11/2).

Joe Biden: "Sudah Kelewatan"

Beberapa pejabat dunia menyatakan keprihatinan mendalam tentang rencana perang Israel di Rafah dan janjinya akan keselamatan warga Palestina di sana.

Presiden Joe Biden berbicara dengan Netanyahu melalui telepon pada hari Minggu dan mengatakan kepadanya bahwa Israel tidak boleh melanjutkan operasi militer di Rafah tanpa "rencana yang kredibel dan dapat dieksekusi untuk memastikan keamanan dan dukungan bagi lebih dari satu juta orang yang berlindung di sana," demikian pernyataan Gedung Putih. Biden, mengatakan pekan lalu bahwa bagaimanapun juga kampanye militer Israel di Gaza "sudah kelewatan."

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa akan ada risiko "tragedi besar" jika Pasukan Pertahanan Israel memperluas serangan mereka ke kota tersebut.

"Kami tidak akan mendukung pemindahan paksa, yang bertentangan dengan hukum internasional," kata juru bicara Guterres kepada wartawan pada hari Jumat tentang kemungkinan evakuasi Rafah.

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock menulis di platform media sosial X, "Orang-orang di Gaza tidak bisa menghilang begitu saja," dan menambahkan bahwa serangan Israel ke Rafah akan menjadi "bencana kemanusiaan yang sedang terjadi."

Reaksi Hamas

Serangan darat Israel ke Rafah juga dapat menimbulkan dampak lain. Televisi Al-Aqsa yang dikelola Hamas mengutip seorang pejabat senior Hamas yang mengatakan bahwa setiap serangan darat Israel ke Rafah akan "mengacaukan" negosiasi untuk menghentikan pertempuran dan kemungkinan pembebasan sekitar 100 sandera yang ditahan oleh para militan.

Bahkan dengan serangan darat yang membayangi, serangan udara Israel telah menargetkan Rafah. Associated Press, mengutip pejabat kesehatan dan saksi mata, melaporkan sedikitnya 44 orang tewas hari Sabtu - termasuk lebih dari selusin anak-anak - ketika serangan udara menghantam beberapa rumah di daerah Rafah.

Para pejabat Mesir telah memperingatkan bahwa setiap operasi darat di Rafah atau pengungsian massal melintasi perbatasan akan merusak perjanjian perdamaian yang telah berlangsung selama 40 tahun dengan Israel.

Rafah juga merupakan pintu masuk utama bantuan kemanusiaan ke Gaza dan pertempuran sengit dapat semakin menghambat upaya-upaya bantuan.

Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry, memperingatkan bahwa setiap serangan darat Israel ke Rafah akan menimbulkan "konsekuensi yang sangat buruk," dan menyatakan bahwa Israel pada akhirnya bertujuan untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka.

Situasi kemanusiaan yang mengerikan ini telah memicu kekhawatiran Arab dan PBB bahwa warga Palestina pada akhirnya akan terdesak melewati perbatasan. Mesir telah mengirimkan sekitar 40 tank dan pengangkut personel lapis baja ke Sinai timur laut dalam dua minggu terakhir sebagai bagian dari serangkaian tindakan untuk meningkatkan keamanan di perbatasannya dengan Gaza, kata dua sumber keamanan Mesir.

18