Home Hukum Tersangka Kasus Penambahan DPT di Kuala Lumpur yang Buron Menyerahkan Diri

Tersangka Kasus Penambahan DPT di Kuala Lumpur yang Buron Menyerahkan Diri

Jakarta, Gatra.com - Tersangka kasus dugaan pelanggaran pemilu di PPLN Kuala Lumpur, Malaysia yang masuk dalam daftar pemcarian orang (DPO) yaitu Masduki menyerahkan diri ke polisi pagi ini (13/3). Direktur Tindak Pidana Umum (Dirttipidum) Bareskrim Polri Brigjen Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan pihaknya saat ini akan menyerahkan tersangka kepada jaksa penuntut umum (JPU).

“Lagi didalami, selanjutnya akan kami serahkan ke JPU,” Kata Djuhandhani kepada wartawan, Rabu (13/3).

MKM masuk DPO karena tidak kooperatif selama pemeriksaan. Sedangkan, enam tersangka lainnya kooperatif dan tidak dilakukan penahanan.

Untuk diketahui, Dittipidum Bareskrim Polri menetapkan tujuh PPLN Kuala Lumpur ini sebagai tersangka kasus dugaan pelanggaran Pemilu 2024 di Kuala Lumpur, Malaysia pada Rabu, (28/2). Penetapan tersangka dilakukan setelah gelar perkara.

Penyidik menemukan para tersangka terlibat atas dugaan penambahan jumlah pemilih. Berdasarkan fakta yang ditemukan polisi, ketujuh PPLN itu terlibat lobi-lobi soal daftar pemilih tetap (DPT) pemiliha presiden (pilpres) dengan partai politik (parpol) di Indonesia.

"Daftar Pemilih Tetap dan Data Pemilih telah ditetapkan oleh PPLN Kuala Lumpur tersebut, dilakukan dengan cara tidak benar dan tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan, hanya berdasarkan perhitungan prosentase dari kesepakatan lobi-lobi dengan perwakilan partai politik," kata Djuhandhani saat dikonfirmasi, Kamis, (29/2).

Djuhandhani menyebut enam tersangka di antaranya diduga melakukan tindak pidana pemilu berupa sengaja menambah atau mengurangi daftar pemilih dalam pemilu setelah ditetapkannya daftar pemilih tetap dan/atau dengan sengaja memalsukan data dan daftar pemilih.

"Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 545 dan/atau Pasal 544 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang terjadi di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia," ungkap jenderal bintang satu itu.

Sedangkan, satu tersangka lainnya menjadi tersangka karena diduga melakukan tindak pidana pemilu dengan sengaja memalsukan data dan daftar pemilih. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang terjadi di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia.

105