Home Ekonomi Perang Israel Vs Iran Sulitkan Presiden Terpilih Prabowo Subianto

Perang Israel Vs Iran Sulitkan Presiden Terpilih Prabowo Subianto

Jakarta, Gatra.com – Guru Besar Ilmu Ekonomi Prof. Didik J. Rachbini, menilai perang atau konflik Israel versus (Vs) Iran akan menyulitkan Indonesia, khususnya Presiden baru terpilih, Prabowo Subianto jika eskalasiya terus berlanjut.

“Bagi Indonesia, bagi Presiden baru terpilih, kondisi tidak pasti ini bisa dan akan membuat berantakan dalam menjalankan kebijakan ekonominya dan sekaligus menambah beban baru bagi masyarakat,” katanya pada Kamis (18/4).

Menurutnya, sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga angan-angan dalam kampanye mungkin harus dilupakan. Fokus pada daya tahan masyarakat, daya beli mereka, menahan agar tidak terjadi pengangguran yang besar adalah keniscayaan.

“Kebijakan menjaga inflasi dan harga-harga kebutuhan pokok merupakan kebijakan utama untuk melindungi golongan bawah yang rentan,” ujarnya.

Ekonom pendiri Indef ini menyampaikan, serangan mengejutkan dari Iran sebagai balasan terhadap Israel membuat dunia terkejut dan sekaligus meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Ini pasti menimbulkan dampak yang luas pada perekonomian nasional dan global, yang mutlak harus diantisipasi dengan kebijakan,” ujarnya.

Menurutnya, ekslasi lanjutan masih belum dapat dipastikan, tetapi faktor yang mendamaikan hampir tidak ada sama sekali sehingga ketenganan muskil akan segera berhenti. Antisipasi mitigasi kebijakan perlu dirumuskan dan dijalankan dengan kondisi lingkungan yang tegang.

Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini, lebih lanjut menyampaikan, ada 3 kebijakan yang harus diutamakan untuk menjaga dan melindungi golongan bawah dan rentan. Untuk menjaga daya beli tidak turun, maka pemerintah harus sekuat tenaga dan segala kemampuan mengendalikan harga-harga atau menjaga inflasi.

“Ini merupakan duet pemerintah dan Bank Indonesia. Dalam kebijakan ini, Bank Indonesia berperanan penting mengendalikan dari sisi moneternya,” ujar dia.

Didik menilai, sejauh ini Bank Indonesia (BI) cukup baik dalam melaksanakan pengendalian inflasi dan lebih keras lagi menjalankannya pada saat dunia dalam ketegangan yang memuncak.

Pada sisi sektor riil, lanjut Didik, pemerintah pusat dan daerah sudah wajib memantau harga-harga kebutuhan pokok rakyat dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Di daerah, ada TPID, yakni lembaga yang Prabowo tidak menjawab pertanyaan Jokowi dalam debat beberapa waktu lalu.

“Kebijakan yang kedua adalah fiskal, satu-satunya instrumen kebijakan yang langsung bisa dipakai oleh pemerintah,” katanya.

Kebijakan ini harus dijaga agar pengeluaran produktif mampu membantu masyarakat bawah dan rentan. Kebijakan fiskal yang baik adalah prudent, berhati-hati dan mampu mengendalikan defisit, jangan jor-joran, kendalikan proyek besar, dan populisme jangan serampangan.

“Kebijakan untuk mempertahankan produktivitas dan dunia usaha di dalam negeri. Harus diingat bahwa sektor dalam negeri adalah bagian terbesar, yakni 75 persen. Meskipun eksternal guncang tetapi menjaga ekonomi dan usaha dalam negeri terutama menengah kecil sangat penting di masa genting,” ujarnya.

Menurut Didik, kebijakan perdagangan luar negeri diarahkan ke kawasan yang sedikit terpengaruh perang. Jalur ke Eropa dan Timur Tengah pasti terganggu. Tetapi mitra dagang di kutub ekonomi lainnya akan hidup terus, seperti mitra Jepang, Cina, Asean, India, dan lain-lain.

“Sekarang saja dampak psikologisnya sudah terasa. Pemerintah perlu ahli komunikasi publik yang mengerti masyarakat, terutama calon pemerintah baru mulai sekarang untuk melakukan kebijakan komunikasi publik berkaitan dengan antisipasi kebijakan dari dampak perang Iran Israel,” ujarnya.

234