Ahok Bela e-Budgeting, Meski Minim Pembangunan di Jakarta

Jakarta, GATRAnews - Basuki Tjahaja Purnama membela penggunaan sistem elektronik budgeting (e-budgeting) yang diterapkan di APBD 2014. ‎Meskipun, akibat e-budgeting mengakibatkan rendahnya serapan anggaran dan kurun satu tahun ke belakang minim pembangunan fisik di Ibu Kota. 


Basuki justru menyalahkan anak buahnya yang menolak mengaplikasikan sistem itu. Menurutnya, jika tidak dipaksakan banyak anggaran tidak jelas muncul atau menghilang seperti pada kasus pembelian truk sampah beberapa waktu lalu.

"Memang mereka sengaja agar tidak e-budgeting. Kalau enggak pakai itu, beli truk sampah (anggarannya) bisa hilang setengahnya," ucap Basuki di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (15/12).

Dari Rp 72,9 trilyun di tahun 2014, serapan anggaran yang diserap per November 2014 baru sebesar 36,7 persen atau 19 persen lebih rendah dari tahun 2013 pada periode yang sama. Sementara 2015, anggaran DKI diperkirakan Rp 76,9 trilyun, meningkat Rp 4 trilyun dari sebelumnya.

Penerapan e-budgeting juga berdampak pada tingginya sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) tahun 2014. Sejumlah kalangan memprediksi, termasuk DPRD DKI Jakarta memperkirakan silpa menembus Rp 30 trilyun lebih (40 persen dari anggaran).

Pria yang karib disapa Ahok ini menegaskan akan 'menyingkirkan' sejumlah pejabat di DKI yang menentang e-budgeting. Ahok mengisyaratkan banyak kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lebih memilih cara tender penunjukan langsung daripada e-budgeting.

"Yang ngomong ngoceh-ngoceh penunjukan langsung, saya sudah tahu semuanya. Yah sudah kita singkirkan mereka, kita potong mereka. Kita lakukan ini supaya bisa masuk ke e-budgeting yang memang benar dan seharusnya," tukas Ahok. {jcomments on}



Penulis: Abdul Rozak
Editor: Arief Prasetyo

Share this article