Napi Kabur, Kemenkumham Bakal Modernisasi Lapas Nusakambangan

Seorang napi berhasil ditangkap, setelah kabur dari Nusakambangan (Dok.Polres Cilacap/HR02)

Cilacap, GATRAnews – Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) berencana menerapkan pemanfaatan teknologi modern untuk lebih mengoptimalkan keamanan di Lapas-Lapas yang ada di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Hal itu dilakukan sebagai hasil evaluasi atas kaburnya tiga napi lapas Nusakambangan sebulan terakhir dan lima napi sejak awal tahun 2017 ini.

 

Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Tengah, Bambang Sumardiono mengatakan modernisasi di sisi teknologi itu untuk mengantisipasi kurangnya petugas di lapas Nusakambangan. Diakuinya, jumlah petugas di enam lapas Pulau Nusakambangan sangat kurang dan tak sebanding dengan jumlah napi, yang sebagian resiko tinggi, dan luas Pulau Nusakambangan.

Dia mengungkap, beberapa yang akan dilakukan antara lain dengan memasang lebih banyak Closed-Circuit Television (CCTV) di beberapa titik rawan. Selain itu, Kemenkumham juga berencana mengoptimalkan penerapan finger print (sidik jari) dan kartu akses khusus (ID Card) di beberapa pintu utama Nusakambangan.

CCTV akan ditambah. Kemudian penerapan teknologi di pintu-pintu utama Nusakambangan juga akan dilakukan. Ya dengan finger print. Dengan kartu akses khusus,” katanya, Sabtu (15/7).

Menurut Bambang, kartu identitas khusus itu merupakan kartu yang berfungsi untuk membuka pintu berpengaman. Hanya orang-orang yang memiliki kartu khusus itu lah yang bisa membuka pintu tersebut. Hal itu, berguna untuk mengantisipasi adanya penyelundup yang menyaru sebagai petugas lapas atau keluarga petugas lapas yang tinggal di perumahan di komplek Lapas.

“Kita mencoba untuk mengoptimalkan teknologi. Untuk bagaimana nanti ke depan, kita masih dalam proses, karena ini berkaitan dengan biaya juga ya. Untuk kartu, jadi nanti orang yang tidak punya kartu akses tidak tidak bisa membuka akses nanti. Itu yang nanti coba kita optimalkan di sana (Nusakambangan). Finger print juga kita optimalkan juga untuk pengunjung,” jelas Bambang Sumardiono, Sabtu (15/7/2017).

Bambang mengakui, selain kerawanan di dalam lapas atau pintu-pintu legal, pihak Lapas juga berhadapan dengan banyaknya pintu illegal atau jalur tikus yang berjumlah puluhan di seantero Pulau Nusakambangan. Jalan tikus itu, biasa digunakan oleh masyarakat lokal di sekitar Pulau Nusakambangan yang memiliki izin untuk berkebun atau melakukan aktivitas lainnya.

“Nusakambangan seluas itu, kan banyak pintu-pintu yang illegal. Kalau orang bilang itu jalur tikus. Semua itu, kita tidak bisa mengawasi,” ujarnya.

Menurut Bambang, hasil evaluasi lainnya adalah merehabilitasi beberapa bangunan yang telah rapuh lantaran termakan usia. Sejumlah Lapas merupakan peninggalan masa kolonial. Di beberapa bagian, bangunan telah lapuk dan rawan penerobosan.

“Kami juga akan melakukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) petugas Lapas, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” tandasnya.

Seperti diketahui, Dua napi dari Lapas Kelas II A Besi, Nusakambangan, Hendra bin  Amin dan Agus Triyadi bin Masimun kabur pada Minggu (9/7). Keduanya lantas tertangkap pada Rabu (12/7/2017). Sebelumnya, seorang napi Lapas Permisan kasus perampokan disertai kekerasan, Kadarmono, juga kabur pada 19 Juni 2017 lalu. Hingga kini Kadarmono belum tertangkap. Sebelumnya, pada awal 2017, dua napi, yakni Syarjani Abdullah dan M Husein juga kabur. Namun, tak lama kemudian keduanya tertangkap.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Share this article