Pelaksana Proyek PLTP Belum Bayar Penuh Klaim Ganti Rugi Petani Ikan

[19:35, 10/12/2017] Rosyid: Pembudidaya ikan di Karangtengah Kecamatan Cilongok, Banyumas mengeluh lantaran harus sering membersihkan kolam dan mengevakuasi ikan agar tak sakit sejak air keruh akibat proyek PLTP Baturraden. (Gatrafoto/Ridlo Susanto/AK9).

Banyumas, gatracom – Pelaksana Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden, PT SAE disebut belum membayar penuh ganti rugi yang diklaim para pembudidaya ikan dewa di Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok yang mengalami kerugian akibat keruhnya aliran Sungai Prukut sejak November 2016 lalu.



Seorang Pengelola, Sukaryo mengatakan, dari klaim sebanyak Rp 225 juta yang disetujui akan dibayarkan oleh PT SAE, pihaknya baru menerima sebesar Rp 100 juta. Sementara, sisanya, masih belum jelas kapan bakal ditunaikan.

“Belum ada kejelasan. Belum ada respon,” katanya, Kamis (12/10).

Padahal, angka kesepakatan Rp 225 juta itu menurut dia jauh dari total kerugian yang dialami kolam budidayanya. Dia berhitung, sejak November hingga Mei 2017 lalu, pihaknya mengalami kerugian hingga Rp 780 juta. Namun, angka Rp 225 juta menurut dia adalah win-win solution, dan merupakan angka yang wajar.

“Kerugiannya itu, ya diklaimnya itu, nggak sampai Rp 1 miliar. Hanya Rp 700 juta sekian lah. Perjanjiannya itu akan membantu Rp 225 juta. Baru dikasih Rp 100 juta. Yang sudah keluar itu tidak ada separuhnya,” ujarnya.

Sukaryo menjelaskan, pada periode November 2016-Mei 2017 lalu, pihaknya berhenti memijahkan indukan ikan dewa. Pasalnya, dalam kondisi air keruh, ikan dewa tak mau memijah. Bahkan, ikan dewasa pun terkena penyakit akibat kotornya air. Kebanyakan ikan dewasa terkena cacar. Penyakit itu kali pertama kelihatan di bagian perut. Namun, lama kelamaan cacar akan menyebar ke seluruh tubuh, jika tak segera diobati. Pada ikan dewasa, penyakit cacar biasanya bisa diobati

Kerugian kedua, kata Sukaryo, adalah kematian ikan usia muda karena tak kuat bertahan dalam kondisi air keruh. Angkanya, menurut dia, ratusan ribu. Padahal, ikan muda itu akan dijual sebagai pendapatan utama. Ikan dijual sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ukuran 1 centimeter dijual dengan harga Rp 1.000, 2 centimeter Rp 2.000, hingga 5 centimeter Rp 5.000. Benih itu sebagian besar dijual ke Palembang dan Pati.

“Kerugian terbanyak ada di pembenihan. Dalam sebulan itu, pembelian benih, saya mendapat pesanan benih saja sekitar 200 ribu benih,” ungkapnya.

Dalam kesempatan terpisah, Humas PT SAE, Riyanto Yusuf menegaskan, PT SAE selalu siap menerima aduan masyarakat terkait klaim ganti rugi. Namun, menurut dia, prosedur baku pembayaran klaim ganti rugi tetap harus dilakukan. Antara lain, pelaporan, dan kemudian verifikasi oleh tim dari PT SAE.

“Pada prinsipnya, kami selalu siap untuk menanggapi semua aduan kerugian yang dialami oleh masyarakat. Silahkan laporkan ke Posko kami,” jelas Riyanto.

Terkait klaim ganti rugi yang diajukan oleh masyarakat pada periode sebelumnya, Riyanto mengklaim bahwa PT SAE telah memproses ganti rugi. Namun, ia mengaku tak begitu paham dengan perkembangan terbarunya.



 

Reporter: Ridlo Susanto
Editor:Rosyid


Share this article