Kompetisi Wirausaha Bantu Pemerintah Atasi Pengangguran

Konferensi pers Soprema 2017 oleh Plt. Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora RI Jonni Mardizal (kedua kanan), Senior Vice President BRI Agus Rachmadi (paling kanan), dan Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat drg. Ika Dewi Ana.

Yogyakarta, gatracom - Penyelenggaraan Socioprenuer Muda Indonesia (Soprema) oleh Universitas Gadjah Mada DI Yogyakarta didukung Kementerian Pemuda dan Olahraga karena turut membuka peluang kerja dan mengatasi pengangguran. 



Di ajang ini, sebanyak 1.132 pelajar dan mahasiswa dari 29 provinsi berkompetisi menciptakan model usaha sebagai solusi masalah sosial dan upaya memberdayakan warga.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora Jonni Mardizal menyatakan saat ini banyak anak muda yang belum produktif, padahal kehadiran mereka sebagai bonus demografi sangat menguntungkan pembangunan nasional di tahun-tahun mendatang.

“Dari 61,68 juta pemudaa1 tercatat ada 15,38 persen yang masih menganggur, sementara banyak lapangan kerja yang justru diisi oleh tenaga kerja asing. Padahal, kemampuan yang dimiliki pemuda Indonesia tidak kalah bersaing dengan tenaga kerja asing,” jelas Jonni saat menjadi pembicara dalam seminar Aksi Wirausahawan Sosial Muda Indonesia di Kampus UGM, Kamis (12/10).

Saat ini, Jonni mengatakan sebanyak 74.183 tenaga kerja asing menempati posisi yang sebetulnya bisa diisi oleh pemuda Indonesia.

Sebagai upaya menurunkan tingkat pengangguran, Kemenpora mengembangkan sejumlah program kewirausahaan pemuda sesuai Pasal 27(3) UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. 

Program itu mencakup pelatihan hingga bantuan akses permodalan, seperti 1.000 bantuan modal usaha wirausaha pemula muda, pelatihan e-commerce, pelatihan pemuda tani organik, dan pelatihan programming industri manufaktur.

“Tak hanya itu, saat ini kami juga menguatkan komunitas pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia yang telah menunjukkan komitmen dalam kewirausahaan sosial agar kami dapat mendampingi dan memantau keberlanjutan bisnis para pemuda tersebut,” imbuhnya.

Apalagi gelaran Soprema dalam dua tahun ini mendukung tujuan Kemenpora dalam menyaring bibit-bibit wirausahawan muda yang memiliki potensi untuk membangun bisnis dan tidak hanya berorientasi profit, tapi juga berkontribusi bagi masyarakat dengan menyediakan lapangan kerja dan memberikan manfaat sosial.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ika Dewi Ana menyatakan sebagai socio-enterpreneur university, UGM telah mengembangkan sejumlah program kewirausahaan seperti Innovative Academy. Di ajang ini, mahasiswa berkolaborasi mengembangkan produk dengan pendampingan dari industri seperti Google.

“Di masa depan, untuk menjadi negara yang berdaulat dan maju, Indonesia harus mengembalikan kecintaan generasi muda Indonesia pada penciptaan-penciptaan atau manufaktur,” tutur Ika.

Senior Vice President BRI Agus Rachmadi menambahkan kewirausahaan dapat dilakukan oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang tidak berpendidikan tinggi selama ia mendapat dukungan perbankan yang tepat, seperti BRI.

“BRI mendukung pihak-pihak yang akan berbisnis sosial, apalagi pemuda,” tuturnya.

Ajang Soprema 2017 telah meloloskan dua puluh tim sebagai finalis yang terdiri dari 10 tim untuk masing-masing kategori kick off (usaha di bawah satu tahun) dan start up (usaha usia 1-3 tahun).





Reporter: Arief Koes H
Editor: Rosyid





Share this article