Korban Salah Tangkap Demo PLTP: Ditegur, Aparat Malah Berbalik Menangkap  

 

Korban salah tangkap dalam pembubaran paksa demonstrasi menolak PLTP masih dirawat di RS. (GATRA/Ridlo Susanto/HR02)

Purwokerto, gatracom – Anjar Setiarma (20), seorang korban salah tangkap dalam pembubaran paksa demonstrasi menolak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden di depan Pendopo Sipanji, Purwokerto, Senin malam (9/10) lalu hingga kini masih dirawat di RSUD Margono Sukarjo, Purwokerto. Anjar harus dirawat di rumah sakit lantaran luka-luka yang dideritanya cukup parah akibat diseret dan dipukul aparat.

 

Ia menjadi salah satu dari 24 orang yang ditahan Polres Banyumas sejak pembubaran paksa tersebut. Padahal, Anjar tak mengikuti dan bukan menjadi bagian dari aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Selamatkan Slamet tersebut.

 

“Saya angkat tangan dan bilang bahwa saya bukan peserta aksi, tapi saya tetap dibawa,” kata Anjar, di RSUD Margono Sukarjo Purwokerto, Kamis (12/10).

 

Anjar menjelaskan, Senin malam itu, ia bersama temannya tengah mampir ke tenda wedhang ronde, sebelah selatan Alun-alun Purwokerto. Sementara, di sisi utara Alun-alun, berhadapan langsung dengan Pendopo Sipanji Purwokerto, ratusan demonstran sedang berunjuk rasa menolak Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden. Dipisahkan lapangan rumput Alun-alun, jarak dia dengan para demonstran sekitar 100 meter.

 

“Jaraknya jauh. Ada 100 meter. Saya di sisi selatan Alun-alun dari demonstran yang sedang berorasi,” ujarnya.

 

Lantas, Anjar mendengar kegaduhan dari arah demonstran. Penasaran, ia pun berjalan sekitar 20 meter dari tenda wedhang ronde ke arah sumber kericuhan untuk mencari tahu apa yang terjadi. Saat itu, ia melihat ratusan polisi dan Satpol PP mengejar para demonstran seratus meter lebih dari gerbang Pendopo Sipanji. Di depan matanya, aparat mengejar demonstran sembari mengumpat kasar.

 

Anjar mengaku menegur seorang polisi yang berkata-kata kasar. Diduga lantaran tersinggung, anggota polisi itu berbalik arah dan menangkapnya. Ia mengaku dipiting sembari diseret ke arah mobil dalmas. Sejumlah anggota polisi dan Satpol PP lainnya turut menyeret Anjar dan memukulinya.

 

“Kemudian saya dimasukkan ke truk,” kata mahasiswa Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto ini.

 

Menurut Anjar, penganiayaan itu ia sebut terus terjadi di truk dalmas. Akibatnya, ia terluka di dagu, memar di kepala dan bagian belakang telinga, serta sakit perut karena pukulan. Tak hanya itu, ponselnya juga dirampas dan belum kembali sampai saat ini.

 

Dalam kondisi luka seperti itu, Anjar langsung dimintai keterangan oleh polisi pada Senin malam hingga dinihari. Ia baru dibebaskan pada Selasa 10 Oktober 2017 siang, dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Hal itu dilakukan usai polisi menyadari telah salah tangkap.

 

Ayah Anjar, Jupri (60) mengatakan Kapolres Banyumas telah menjenguk anjar pada Rabu malam, 11 Oktober 2017. Menurut Jupri, Kapolres meminta maaf atas insiden itu dan akan mengusut tuntas peristiwa salah tangkap ini. Kapolres juga akan menanggung biaya perawatan Anjar di rumah sakit.

 

Dikonfirmasi, Kasatreskrim Polres Banyumas AKP Djunaedi mengatakan akan menindakalanjuti kasus ini dan juga kasus dugaan penganiayaan lainnya. Ia mengaku sedang berada di luar daerah untuk sebuah tugas. “Yang jelas akan ditindaklajuti,” kata Djunaedi, pendek.


 

 

Reporter: Ridlo Susanto

Editor: Rosyid

Share this article