Kementerian Desa dan PDT Berencana Hidupkan Kembali Permainan Tradisional

Komunitas Hong di Desa Ciburial, Bandung (Dok. Desa Ciburial/FT02))

Bandung, Gatra.Com - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDT) berupaya menghidupkan kembali berbagai permainan tradisional Indonesia yang sudah punah dan hampir punah. Komunitas Hong yang konsen dalam melestarikan permainan tradisional digandeng Kementerian PDT sebagai mitra untuk mengedukasi masyarakat.

Komunitas Hong adalah komunitas yang berisi para penggiat seni dan budaya asal Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang konsen melestarikan berbagai permainan dan mainan tradisional sejak 2003 silam. Komunitas ini telah menghidupkan ratusan permainan dan mainan tradisional asal Jawa Barat.

Staf Khusus Menteri Desa dan PDT, Syaiful Huda mengatakan Kehadiran gadget dan derasnya penggunaan teknologi informasi yang begitu masif saat ini diakui secara nyata telah menggeser minat anak-anak Indonesia untuk bermain permainan tradisional.  Sebagai salah satu upaya mengembalikan minat anak-anak Indonesia untuk bermain permainan tradisonal, kata dia, dengan menggandeng berbagai komunitas dan penggiat seni budaya untuk terus menyosialisasikan dan melestarikan berbagai permainan dan mainan tradisional asli Tanah Air, salah satunya Komunitas Hong.

"Kementrian Desa bersyukur Komunitas Hong mau berkolaborasi dengan kami untuk menghidupkan kembali dolanan (permainan) desa. Banyak filosofi seperti kebersamaan, filosofi saling menghargai, filosofi kembali pada jati diri kita sebagai anak-anak bangsa," kata Huda di sela-sela deklarasi Gerakan Nasional Komunitas Desa bersama 500 kepala desa (kades) dari seluruh kabupaten di Jawa Barat di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis (7/12).

Huda menambahkan, upaya Komunitas Hong dan Kementrian Desa PDTT menghidupkan kembali minat anak-anak bermain permainan tradisional dipastikan bakal memanfaatkan jaringan Gerakan Nasional Komunitas Desa yang telah dideklariskan. Menurut Huda, komunitas desa itu bisa menjadi wadah inovasi untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Sebab kata dia, pembangunan desa tidak hanya melulu urusan infrastruktur.

"Kita akan dorong para kepala desa menjadi lokomotif penggerak penggalian tradisi daerah. Kami juga ingin Komunitas Hong menularkan virus penguatan permainan tradisional ini ke seluruh desa. Kami akan buat workshop-workshop kecil di seluruh desa di Indonesia yang sesuai dengan akar tradisi masing-masing," ujar Huda.

Rencana menghidupkan kembali mainan dan permainan tradisional akan direalisasikan Kementrian Desa PDTT pada 2018 mendatang melalui alokasi dana desa. Menurut Huda, dari Rp 60 triliun anggaran dana desa pada 2018 mendatang, sekitar 40 persennya bakal dimanfaatkan untuk pengembangan dan penguatan tradisi lokal desa yang didalamnya mengakomodir program-program pengembalian minat anak-anak desa untuk bermain permainan tradisional. 

"60 persennya masih infrastruktur karena masih sangat dibutuhkan," jelas politisi PKB itu. Pria kelahiran Cirebon itu berharap dengan upaya tersebut anak-anak Indonesia sedikit demi sedikit bisa mengurangi penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak Indonesia diharapkan mencintai dan ikut melestarikan berbagai mainan dan permainan tradisional.

"Anak-anak hari ini sudah kehilangan dunia anak-anaknya yang berbasis tradisi akar budaya bangsa. Itu risikonya besar. Permainan tradisional sangat dibutuhkan bagi anak-anak kita di saat cara pandang kita berbeda, di saat kita susah bersatu dan sebagainya. Saya kira benteng itu ada di desa akan kita gali melalui Komunitas Hong," tutur dia.

Di tempat yang sama, Pendiri Komunitas Hong Zaini Alif mengatakan, Indonesia adalah negara dengan permainan anak-anak tradisional terbanyak di dunia.  Ada 2.600 permainan yang ditemukan (dari seluruh Indonesia) dan itu terbanyak di dunia. "Negara lain paling banyak 800 permainan," ungkap Zaini.

Zaini optimistis dengan menghidupkan kembali permainan anak tradisional, perekonomian desa di seluruh Indonesia bisa berkembang dengan cepat.  "Permainan hanya gerbangnya saja, tapi dari permainan itu nantinya akan tergali budaya-budaya lain untuk mendukung kemajuan desa itu sendiri. Disamping kemajuan akalnya yang bersifat pada bentuk lahir seperti jalan yang makin bagus, fasilitas makin tersedia, sarana dan prasarana juga terbangun, masyarakat desa makin berbudi dan berakhlak baik," beber Zaini.


Reporter : Mohammad Zainal Muttaqin

Editor : Sandika Prihatnala

Share this article