Untuk Studi Gambut, 69 Ekspert Dari 9 Negara Kunjungi Palangkaraya

(Foto: International Peatland Society/AK9)

Palangkaraya, Gatra.com - Rangkaian kegiatan International Peatlands Roundtable atau IPR yang berlangsung sejak 1 November di Jakarta kini berlanjut dengan agenda kunjungan ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sebanyak 69 ekspert dari 9 negara lakukan studi gambut di lima lokasi untuk melihat langsung proyek percontohan pengelolaan gambut yang dilakukan oleh BRG dan peneliti dan (Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland) CIMTROP.

 

Lima lokasi itu antara lain base camp CIMTROP, lokasi pembuatan sekat kanal dan proyek pembuatan dumur bor di Desa Taruna Jaya, Kabupaten Pulang Pisau. Dr. Ici Piter Kulu, Kepala Central for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) dari Universitas Palangkaraya menyambut gembira kedatangan 69 peserta peatland roundtable yang teridi dari ilmuwan, peneliti, lembaga donor, NGO, kampus, dan dari kalangan pemangku kebijakan.

 

“Acara ini sangat luar biasa dan diharapkan dapat membawa kabar baik dalam managemen gambut di Indonesia Indonesia dan dunia,” katanya melalui rilis yang diterima Gatra. Sebanyak 69 pemerhati ini terdiri dari ilmuwan, peneliti, lembaga donor, LSM, kampus, dan dari kalangan pemangku kebijakan yang berasal dari Jepang, Jerman, Finlandia, Mexico, Singapura, Malaysia, Vietnam, Belanda, dan Indonesia.

 

Dalam kesempatan yang sama, Dr Hidenori Takahashi mengatakan ilmuwan Indonesia dan Jepang punya sejarah kolaborasi ilmiah. Khusus soal gambut, beberapa penelitian telah dijalin antara beberapa kampus di Jepang dan Indonesia, dalam hal ini Badan Restorasi Gambut.

 

Sementara itu, Bambang Setiadi peneliti dan salah satu pendiri CIMTROP ( Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland) mempunyai harapan besar dengan pertemuan ilmuwan gambut dunia di Jakarta kali ini. “Ada keseriusan bersama untuk menyelamatkan ekosistem gambut dari kerusakan yang makin massif,” ungkapnya.

 

Salah satu tujuan kegiatan ini ialah untuk menemukan teknologi terbaik yang bisa diterapkan bersama sehingga upaya upaya pengelolaan dan penyelamatan lahan gambut bisa lebih efektif dengan merangkul semua pihak. “Tidak hanya sebatas deklarasi, namun setelah ini akan ada upaya nyata untuk menyelamatkan ekosistem gambut,” kata Kepala Badan Restorasi Gambut Indonesia, Nazir Foead.

 

CIMPTROP sendiri berdiri sejak 1998, dan telah melakukan berbagai penelitian tentang lahan gambut. Salah satunya, menginisiasi riset tentang status hidrologi gambut pada proyek PLG 1997. Pada 2000, Universitas Helsinki Finlandia tertarik untuk melakukan riset tentang emisi karbon dan membangun tiga (3) kanal. Tahun lalu, EU RESTORPEAT Project telah mendirikan kamp permanen, melakukan revegetasi kanal bloking, membuat TIM SERBU API dan melakukan pemberdayaan komunitas.


Editor : Sandika Prihatnala

Share this article