Koalisi LSM dan Perusahaan Sepakat Terapkan Metodologi Global Anti Deforestasi 

Ilustrasi (GATRA/Jongki Handianto/AK9)

Bandung, GATRAnews - Kelompok koalisi yang terdiri dari pihak industri dan lembaga sosial non pemerintah, melakukan kesepakatan dalam merumuskan metodologi perlindungan hutan. Hasil dari kesepakatan itu tertuang dalam sebuah toolkit atau panduan metodologi untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan hujan tropis.

Metodologi bernama High Carbon Stock (HCS) Approach ini dinilai sebagai trobosan baru dalam penyelamatan lingkungan. HCS Approach berlaku secara global dan bertujuan untuk mengidentifikasi lahan yang digunakan sebagai areal produksi secara bertanggung jawab.

HCS Aprroach Toolkit ini akan diterapkan oleh pihak perusahaan, masyarakat, institusi maupun praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi. Hutan alam menyediakan cadangan karbon penting bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

Co-Chair HCS Steering Group, Grant Rosoman mengatakan, tak bisa dipungkiri bahwa hutan alam yang telah dieksploitasi harus mendapatkan perlakuan khusus sebagai upaya konservasi.

“Membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan jadi hal biasa di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” ujar Rosoman saat meluncurkan HCS Approach Toolkit, Rabu (3/5) di Le Meridient Hotel, Jimbaran, Badung, Bali.

Sebelumnya, para pemangku kepentingan yang telah melakukan berbagai upaya untuk menyepakati pendekatan global sebagai upaya untuk mencegah deforestasi.

"Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil," ungkap Rosoman.

Metodologi yang dirumuskan telah menghasilkan produk yang menjawab kekhawatiran terhadap dampak pembabatan hutan, termasuk perubahan iklim, keanakaragaman hayati dan hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan.

"Kami menyambut positif atas diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung-jawab,” urai Rosoman.

Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis pada April 2015. Versi baru yang telah disempurnakan yang dirilis hari ini telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan

masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach.

Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya, sebagai hasil dari kesepakatan konvergensi antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016 lalu.

Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS.


Reporter: Rizaldi Abror

Editor: Nur Hidayat

Share this article