Insiden Natuna, Politisi Gerindra Minta Pemerintah Kaji Ulang Pengadaan Alutsista

Pameran alutsista TNI (GATRAnews/dok)

Jakarta, GATRAnews - Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Elnino Husein Mohi, meminta pemerintah untuk mengkaji kembali proses pengadaan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista). Langkah ini perlu dilakukan agar insiden tewasnya empat prajurit TNI di Natuna, Kepulauan Riau, tidak terulang kembali.


“Pemerintah harus kembali melihat bahwa proses pelaksanaan pengadaan alutsista dikaji lagi. DPR enggak tahu lho itu merk apa, harganya berapa, mana DPR tahu? DPR hanya sampai di satuan dua saja kayak pembelian meriam, titik. Kita enggak tahu itu meriam apa dan dari mana,” tegas Elnino di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (18/5).

Apalagi, Alusista itu digunakan di Natuna yang notabene dipakai sebagai ujung tombak Indonesia dari konflik berkepanjangan Laut Cina Selatan (LCS). Informasinya, Meriam 23mm/Giant Bow yang digunakan dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) buatan Cina.

“Dan di konflik LCS itu yang berpotensial bermasalah kan Cina. Jadi kita pakai alat Cina untuk hadapi Cina? Ya enggak mungkinlah. Pasti kan yang dikasih bekas-bekasnya, rusak-rusaknya,” kata politisi Gerindra ini.

Investigasi dalam kasus ini juga harus dilakukan. Komisi I DPR akan memanggil TNI dan Menteri Pertahanan agar informasi insiden ini dapat diketahui dengan pasti.

“Ini kedaulatan NKRI dan kewibawaan TNI, jangan sampai ada lelucon ‘enggak usah tembak prajurit Indonesia (Karena) mati sendiri. Kayak pesawat kita, enggak ditembak jatuh sendiri. Ini masalah sangat serius, menyangkut kedaulatan dan mengancam moral publik. Jangan sampai kita mati di alat sendiri,” jelas Elnino.

TNI AD saat ini masih melakukan investigasi terkait insiden naas saat gladi bersih latihan PPRC di Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (18/5) kemarin. Meriam 23mm/Giant Bow yang digunakan dalam latihan diduga malfungsi dan menyebabkan 4 prajurit Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) 1/Kostrad tewas.

Kadispenad, Brigjen TNI Denny Tuejeh dalam pesan singkat yang dierima wartawan hari ini mengatakan, pihaknya tengah melakukan investigasi guna mengetahui penyebab kecelakaan ini. Secara teknis, tegas dia, Meriam 23mm/Giant Bow yang digunakan dalam latihan itu masih dalam kondisi baik dan dipelihara dengan baik di satuan Yonarhanud-1/K.

"Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari TNI AD nantinya akan dilaporkan kepada Panglima TNI," tutur dia.


Reporter: Wem Fernandez 
Editor: Arief Prasetyo
 

Share this article