Ketua MPR: Saat Ini Pancasila Seperti Dikotak-Kotakkan

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Ketua MPR Zulkifli Hasan menilai Pancasila saat ini kembali dipahami rakyat Indonesia. Setidaknya Pancasila kembali menjadi bahan obrolan dan bahan diskusi mulai dari level warung kopi sampai diskusi ilmiah di kampus-kampus. Ketua MPR RI Zulkifli Hasan melihat hal tersebut sangatlah baik dan luar biasa.  Tetapi, katanya, sebenarnya rakyat Indonesia sudah tidak perlu lagi diminta menghafal Pancasila sebab seluruh rakyat Indonesia sudaj sangat hafal Pancasila. Yang diperlukan saat ini adalah pemahaman dan implementasi.

"Saat ini malah lebih kompleks lagi, saat ini rakyat mesti bisa membedakan apa itu Pancasilais dan tidak Pancasilais. Sebab saat ini apalagi pasca pilkada, Pancasila seperti dikotak-kotakan.  Pancasilais hanya disematkan untuk mendukung calon tertentu dan jika tidak mendukung maka tidak Pancasilais. Pemahaman begitu sangat ngawur," ujarnya, saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR kerjasama MPR dan PWNU Jawa Barat kepada ratusan santri, dan para pendidik di Ponpes Assalafie Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Senin (11/9) dalam rangka rangkaian kegiatan kunjungan kerja Ketua MPR RI di Cirebon.

Berbicara Pancasilais, lanjut Zulkifli Hasan, artinya bicara keberpihakan kepada rakyat. Pancasilais adalah ketika negara berpihak kepada rakyat.  Pancasilais adalah ketika rakyat tidak mengalami kelaparan atau tewas sia-sia karena sakit dan  ditolak berobat karena miskin.



"Belum lama ini kejadian itu seorang anak dari keluarga miskin sampai meninggal dunia karena ditolak berobat oleh sebuah rumah sakit. Kita mengutuk itu. Tidak Pancasilais. Kita lihat juga di berbagai daerah, betapa sangat marak eksploitasi kekayaan alam daerah hanya untuk keuntungan segelintir orang kaya. Eksploitasi besar-besaran tersebut bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi masyarakat sekitar. Masyarakat hanya mendapatkan hutan, gunung dan sungainya menjadi rusak total.  Rakyat tidak dapat apa-apa. Petani tidak bisa bertani, air menjadi kering. Itulah namanya tidak Pancasilais," lanjutnya.

Diutarakan Zulkifli Hasan, semestinya ada manfaat besar dari hasil eksploitasi lahan untuk masyarakat sekitar.  Sehingga masyarakat memiliki banyak alternatif kesejahteraan selain mengolah hasil kekayaan alam. Masyarakat dari hasil eksploitasi kekayaan alam tersebut untuk sekolah yang tinggi, membuat lahan baru, atau membuka usaha lain.  

Jangan sampai rakyat tidak mendapatkan apa-apa dan negara harus hadir membela rakyatnya, itulah Pancasilais, itulah kesetaraan, itulah senasib sepenanggungan. "Generasi muda seperti para santri harus paham akan hal ini sehingga ke depan tidak mudah menerima pemahaman yang salah soal Pancasila," ucapnya.


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Nur Hidayat

 

 

Share this article

Tagged under