Tiga Kali Mangkir, Pakar; KPK Bisa Panggil Paksa dan Tahan Setnov

Ketua DPR Setya Novanto bersaksi dalam sidang kasus korupsi KTP elektronik (KTP-el) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (3/11). (ANTARA/Hafidz Mubarak A/FT02)

Jakarta, gatracom - Komisi Pemberantasan Korupsi bisa memanggil paksa Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Setya Novanto (Setnov) setelah tiga kali mangkir untuk diperiksa. “Saya menganggap kalau kita bicara mengenai kekuatan atau power, KPK bisa melakukan hal tersebut (Panggil paksa), salah satunya juga bisa menahan yang bersangkutan. Alasan menahan karena merintangi penyidikan, menghilangkan barang bukti, atau mengubah keterangan pihak yang berkaitan. Ada kondisi objektif yang mengharuskan tersangka ditahan,” tegas Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, (14/11).

 

 Setnov yang pernah memenangkan gugatan praperadilan melawan KPK ini, kembali ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik (e-KTP). Pembenaran yang dikemukakan Setnov bahwa wakil rakyat dilindungi hak imunitas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3) tidak berlaku untuk kasus korupsi. Pasal 245 Ayat 1 UU MD3 yang sudah diuji materi oleh Mahkamah Konstitusi mensyaratkan pemeriksaan anggota DPR harus seizin Presiden. 

Namun pada Pasal 245 Ayat 3 menyatakan bahwa ketentuan Ayat 1 tidak berlaku apabila anggota DPR melakukan tindak pidana khusus, termasuk korupsi.

Menurut Refly, sebagai seorang wakil rakyat, Setnov telah memberikan contoh yang buruk bagi publik, khususnya komitmen dalam memberantas korupsi di Indonesia. Dia harusnya datang dan bersedia diperiksa oleh lembaga pemburu koruptor tersebut. 

“Tidak boleh berlindung di balik prosedur dan hak Imunitas. Padahal hak Imunitas atau izin dari Presiden tidak berlaku sekali lagi untuk kasus korupsi yang digolongkan sebagai kejahatan khusus atau extra ordinary crime,” tegas dia. 


Reporter : Wem Fernandez

Editor    : Cavin R. Manuputty

Share this article

Tagged under