Wapres JK: Mengurus Masjid Suatu Keikhlasan dan Ibadah

 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) berbincang dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil (kedua kanan), disaksikan Wakil Presiden yang juga Ketua DMI Jusuf Kalla (ketiga kanan) disela pelantikan Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia, di Jakarta, Jumat (12/1). (Antara/HO/ama/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Wakil Presiden (Wapres), Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa pada hakekatnya, mengurus masjid merupakan suatu keikhlasan dan ibadah. Karena masjid adalah sebagai rumah Allah, tentu banyak hal yang perlu diurus sebagai umat Islam.

 

“Masjid di Indonesia jumlahnya sangat besar. Bahkan terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 900 ribu bangunan,” kata Wapres saat mengukuhkan kepengurusan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Periode 2017-2022 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (12/1).

Banyaknya masjid kata Wapres pertanda bahwa jumlah penduduk muslim di Indonesia juga terbanyak di dunia. Perbandingannya, jika penduduk Islam di Indonesia ada 230 juta, maka setiap 250 orang ada 1  rumah ibadah yaitu masjid atau mushalla. 

Menurut Wapres dalam kepengurusan DMI tidak mewakili organisasi dan jabatan di pemerintahan, karena DMI bukanlah organisasi yang berorientasi politik. Bahwa ada pengurus DMI yang juga pengurus partai politik, tentu itu hak masing-masing. 

“Di sini juga ada Wakapolri, bukan sebagai  Wakapolri, Pak Syafruddin, tetapi sebagai umat yang dekat dengan masjid yang harus mengabdikan dirinya juga pada masjid,” katanya.

JK mengatakan bahwa masjid bebas menjadi tempat ibadah, tidak ada kelompok-kelompok tertentu yang menjadi tempat ibadah tertentu untuk siapapun. Masjid merupakan suatu tempat yang bersifat lebih umum dibanding agama-agama lain.

“Tugas kita ialah memakmurkan dan dimakmurkan masjid. Masjid selain tempat ibadah, juga sebagai tempat berdakwah, berkumpul, tempat pendidikan, bahkan masjid bisa sebagai tempat pendorong ekonomi umat,” katanya.

JK bersyukur suasana keagamaan di Indonesia jauh lebih baik dibanding dengan negara-negara lain. Itu berbeda misalnya dengan Islam di Timur Tengah yang sering terjadi konflik satu sama lain. 

“Kita bukan Islam di Asia Selatan yang juga selalu konflik dan juga penuh dengan pertentangan-pertentangan. Alhamdulillah muslim di Indonesia yang muslim moderat, yang wasathiyah, penuh dengan hidmat, penuh dengan persaudaraan,” kata Wapres. 

Menurut Wapres 80% Masjid tempatnya untuk “mendengar” dan 20% tempat ibadah dan berdoa. Artinya artistik masjid itu harus lebih baik daripada sebelumnya. Untuk itu, teknologi itu penting dan begitu juga bagaimana ketimpangan umat dapat diperbaiki. 

“Masjid harus menjadi pendorong ekonomi umat bukan tempat penjualan,” katanya.

JK menyampaikan bahwa masjid bisa bekerjasama dengan perbankan dan para pengusaha untuk mendorong jamaahnya menjadi pengusaha-pengusaha yang baik, misalnya dengan melakukan pelatihan-pelatihan tentang keuangan masjid, tentang dakwah yang baik, sistem kebersihan, pendidikan tentang managerial masjid yang baik. 

“Tugas kita yang ada di sini untuk mengoordinasi itu secara nasional. Di sini hadir Budi Gunawan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang memberi nasihat untuk para pengurus. Bagaimana masjid itu tidak ada radikal, bagaimana ekonomi muslim dapat berjalan baik.  Juga ada Bapak Gubernur DKI, bagaimana kita semua bekerja sama dalam membangun. Juga penasihat para Kyai-Kyai,” katanya.


Editor: Anthony Djafar

Share this article