Menaruh Asa pada Konservasi Laut Tomia-Wakatobi

Jakarta, GATRAnews - Buih putih yang muncul dari ombak khas musim hujan menambah kesan misterius saat kaki kami masuk dalam perahu made in suku Bajo di pelabuhan Wanci yang terletak di Kecamatan Wangi-Wangi, Ibukota Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Angin menyapa dengan kencangnya diselingi suara wanita paruh baya menawarkan jagung rebus pelepas rasa lapar bagi penumpang perahu. Aktifitas nelayan yang biasanya ramai disekitar lokasi pun tidak tampak kala itu.

 

Di depan kami, sejauh mata memandang, hanya ada lautan biru dengan gelombong ombak yang berhubungan langsung dengan laut Banda dan laut Flores. Cuaca rupanya kurang bersahabat dalam perjalanan GATRAnews akhir Januari menuju Kecamatan Tomia. Maklum saja, pada bulan Januari-Februari menurut Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merupakan puncak dari musim penghujan yang berkelanjutan serta tidak mengenal waktu. Baru pada bulan April-Juni serta Oktober-Desember cuaca terbilang cocok untuk berkunjung ke negri segitiga karang dunia tersebut.

 

Tomia merupakan satu dari tujuh kecamatan yang ada di Kabupaten Wakatobi serta memiliki destinasi wisata berkelas dunia. Posisinya juga tepat di atas Kepulauan Tomia: satu dari tiga gugusan pulau utama yang membentuk nama Wakatobi yakni Wangi-Wangi, Kalidupa dan Binongko. Pada 1996, Kabupaten Wakatobi telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Wakatobi dengan total area 1,39 juta hektar dan menempati salah satu posisi prioritas dari program konservasi laut di Indonesia.

 

Kapal kayu kami pun mulai melaju. Dua mesin Yamaha yang digunakan sebagai tenaga pendorong melaju dengan kecepatan sedang membelah ombak di lautan seluas kurang lebih 18.377,31 km persegi tersebut. Bau asin, jernihnya laut biru dan panorama alam sekitar laut merupakan obat alami penyembuh rasa mual. Pulau Tomia, 180 menit dari Pelabuhan Wanci, akhirnya kami sampai juga!

 

Ritual Popanga Menyambut Festival Selat Kasilapa

Seorang tetua desa mulai merapal mantra sambil memejamkan matanya di depan kuburan sederhana berbentuk segi empat. Ukurannya cukup kecil, tidak ada ornamen atau nisan sebagai penanda di sini telah terbaring orang sakti atau menunjukan kuburan 'strata' tertentu. Kombinasi semen dan batu karang, kiranya cukup mengokohkan kuburan berusia ratusan tahun tersebut. Situs itulah pertama kali dijumpai saat berada di Desa Teemoane, salah satu desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tomia.

 

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai 'kuburan buaya' yang bernama La Pipi. "Buaya itu memiliki kembaran manusia perempuan. Kami memanggilnya Wa Ufa. Saat lahir dilepaskan ke laut sedangkan kembaran satunya ke gunung," ujar Kepala Desa Teemoane, Alimudin Abibu. Sesajen berupa telor, beberapa butir kelapa, nasi dengan kombinasi empat warna kemudian diletakan di atas kuburan. La Pipi, dari penuturan Alimudin, dulunya adalah penghuni selat Kasilapa, sebuah selat dengan lebar kurang lebih 500 meter yang memisahkan Pulau Tomia dengan Tolandono.

 

Pada waktu itu ada seorang nelayan yang sangat marah tatkala memeriksa jaring ikannya. Pada jaring yang terpasang di selat Kasilapa selalu habis begitu diambil. Kemarahannya memuncak, sebab berulang kali kejadian itu terjadi. "Nelayan itu bersumpah, kalau menemukan siapa yang mengambil ikannya akan dibunuh," ujar Ali. Suatu waktu tertangkaplah sang buaya. Si nelayan pun terkejut karena dugaannya meleset, bukan manusia yang melakukannya tetapi justru La Pipi.

 

Karena pantang menarik sumpahnya kembali, ia kemudian mengambil sebilah golok untuk menyembelihnya. Alkisah, ternyata sang buaya tak melawan sama sekali. Ia malah memohon agar diperlakukan sebagai seorang manusia. "Buaya itu bicara dan menceritakan bahwa kembarannya adalah seorang manusia. Sebelum dibunuh, ia minta dibawa ke darat dan diperlakukan seperti manusia. Disinilah kemudian ia dikubur," jelasnya. Sejak saat itu kuburan tersebut ramai dikunjungi penduduk desa setempat maupun desa-desa lainnya. Mereka percaya, sebelum membuat hajatan besar maka situs tersebut harus dikunjungi, sebagai penolak bala, meminta perlindungan atau bagi pemuda yang hendak merantau ke daerah lain agar diberi keselamatan dan kesuksesan.

 

Nah ritual itu juga dilakukan untuk Festival Kasilapa yang hendak diadakan di Tomia. Cuaca yang cukup ekstrim, gelombang serta arus laut yang kuat dikhawatirkan dapat mengganggu hajatan besar tersebut. "Kami menyebutnya dengan ritual Popanga, ritual untuk menolak kesialan dan penolak bala. Saat ini kan angin laut kencang sekali, minta agar bisa ditenangkan. Biar semua kegiatan lancar," kata Ali.

 

Sehari setelah ritual dijalankan, festival pun dimulai. Semangat gotong royong penduduk membangun beberapa lapak sederhana di sekitar areal sehari sebelumnya memberikan warna tersendiri dalam festival, belum lagi keterlibatan aktif pelajar SMP maupun SMA dalam acara tersebut. Berduyun-duyun masyarakat dari 10 desa yang ada di Kecamatan Tomia mulai memadati lokasi acara. Antusiasme mereka benar-benar terasa, apalagi suguhan-suguhan acara seperti pencak silat, pembuatan kue Karasi (kue tradisional berbahan tepung dan gula), pemilihan duta karang, pameran hasil kerajinanan serta musik dangdutan menjadi sajian dalam acara tersebut.

 

Digelarnya festival Kasilapa, bagi masyarakat setempat merupakan bentuk penghormatan sekaligus komitmen untuk menjaga kelestarian laut yang beberapa tahun belakangan ini sering terabaikan: pembiusan, penagkapan ikan secara berlebihan bahkan pemboman kerap dilakukan untuk mengambil kekayaan laut.

 

Kampanye Konservasi dengan 'Suguhan Kopi Hitam'

Konsep festival Kasilapa sebenarnya dimulai dari tegukan kopi hitam beberapa pemuda di sebuah warung. Obrolan santai, cerita tentang kembang desa atau pengalaman melaut menjadi bahan cerita pembuka untuk terlibat aktif dalam program konservasi laut. Pendekatan inilah yang digunakan Andi Subhan, 34 tahun, salah satu staf Taman Nasional Wakatobi Seksi Wilayah 3 Tomia-Binongko, Kementerian Kehutanan, Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Bagi Andi, pendekatan kepada masyarakat yang melulu bersifat formal acapkali menimbulkan perlawanan bahkan berujung pada tindakan anarkis warga.

 

"Jangan terlalu kaku dengan aturan, apalagi melihat latar belakang pendidikan masyarakat yang tidak seberapa. Saat kita sosialisasi program konservasi selalu menggunakan kata tidak boleh, itu tidak boleh, ini tidak boleh, pokoknya semua dilarang, makanya masyarakat tidak bisa menerima. Sebelum kita ada, masyarakat ini yang lebih dulu ada, untuk itu buatlah masyarakat dihargai karena ini dari kita untuk kita," papar Andi saat berbincang dengan GATRAnews, Sabtu (18/1).

 

Ayah dua anak ini sadar betul, dari pengalaman petugas Taman Nasional sebelumnya yang menggunakan gaya pendekatan serba konvensional menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat. Sosialisasi zona larangan tangkap, pemahaman Undang-Undang justru ditentang habis-habisan oleh masyrakat. Petugas, dianggap telah membatasi mata pencaharian masyarakat bahkan dituding ingin menghilangkannya. "Kita dulu demo habis-habisan. Tidak mau ikut sosialisai konservasi karena tidak mengerti. Sepertinya petugas ini ingin melarang kita," ucap Asianah, 41 tahun, warga Desa Lamanggau.

 

"Kita didemo terus, lihat kita kayak mau 'makan' saja. Karena bicara konservasi berarti soal larang-larang. Saat ditetapkan sebagai Taman Nasional kita mulai sosialisasi tetapi tidak ada yang datang, penyuluhan juga tidak ada yang datang," sambung Andi lagi. Situasi ini tidak menyurutkan niat Andi bersama rekan-rekannya yang lain untuk mengabdi pada tugas. Menjaga areal kelautan dari Tomia sampai Binongko tetap dilakukan meski dengan sarana yang minim. Perahu kepompong (perahu tradisional dengan bentuk agak lonjong) digunakan untuk patroli, mengejar pelaku pemboman maupun mengawasi areal pantai.

 

"Pada 1999 itu masih minim pegawai apalagi hampir tiap hari kita dengar suara bom. Armada seperti speed boat juga belum ada, tapi kita tetap pakai kepompong, patroli. Ngeri sekali waktu itu, karena kita hampir ditombak atau dilempar bom," kenang Andi. Keadaan mulai berubah sejak 2003, dimana sarana dan prasarana untuk patroli mulai tersedia. Para pembom yang notabene berasal dari luar Tomia mulai diringkus karena nekad mencuri ikan di wilayah konservasi.

 

Monitoring terumbu karang seperti acropora formosa, hycinthus, psammocora profundasafla maupun spesies ikan seperti argus bintik (cephalopholus argus), ikan merah (lutjanus biguttatus), ikan napoleon (Cheilinus undulatus) juga giat dilakukan. "Pada 2003-2004-2005 program ini mulai berjalan rutin," singkatnya. Totalitasnya dalam menjaga wilayah Tomia, sedikit demi sedikit merubah pandangan masyarakat. Apalagi sejak 2010 Andi tergabung sebagai salah satu siswa di organisasi konservasi internasional, RARE. Ia dilatih untuk mengubah cara pandang masyarakat saat bersentuhan dengan alam.

 

Metode ini, jelas Andi, disebut Pride Campaign (kampanye Pride) yang menekankan kebanggaan terhadap spesies dan habitat yang ada diwilayah setempat. Bekal yang didapat selama mengikuti studi kemudian mulai ia terapkan, masalah mulai dipetakan, komunikasi kepada masyarakat mulai dirubah menggunakan kampanye pride yang didasarkan pada sistem pemasaran sosial. Penerapan sistemnya pun terbilang sederhana yakni mengetuk hati masyarakat dengan bahasa yang mereka paham, sesuai dengan kebiasaan serta mengetahui apa yang mereka suka. Praktisnya, Andi mampu membuat anatomi masalah yang ada di Tomia.

 

"Pada 2012 saya mulai melakukan pendekatan itu, pemuda-pemuda yang dulu suka demo, merusak kantor kami saya kumpulkan terlebih dahulu. Pertama-tama saya hanya ingin berteman dengan mereka, saya traktir kopi tapi tidak ingin bilang kalau saya dari Polhut," ujar Andi yang juga menjabat sebagai Campaign Manager Bangga Perikanan Berkelanjutan RARE. Dari situ dia mulai tahu bahwa masyarakat kian gelisah dengan menurunnya hasil tangkapan ikan.

 

Beberapa spesies ikan yang dulunya dengan mudah ditemukan kini jarang didapat meski telah menunggu berjam-jam di laut. Berangkat dari situ, program konservasi laut serta pemetaan zona mulai ia sosialisasikan. Caranya, "Saya tanya, acara apa yang menarik di Tomia? Oh, masyarakat senang dangdut, oke kita buat dangdutan. Sepak bola, kita buat. Semua panitia dipegang olah masyarakat, pemuda-pemuda yang dulu suka demo saya tempatkan menjadi panitia dan ketua pelaksana," ujarnya bangga.

 

Tidak menunggu waktu lama, pihak-pihak yang dulunya menentang mulai paham akan maksud baik dari program konservasi laut. Pesan yang diselipkan dari kontes dangdut antar desa, pembuatan poster-poster kampanye, baju serta berbagai karikatur membekas dengan baik dalam benak masyarakat. Terdapat beberapa zonasi yang disosialisasikan kepada masyarakat yakni Zona Inti, Zona Perlindungan Bahari (boleh menyelam, untuk penelitian dan sebagainya tapi harus ada izin), Zona Pariwisata (tidak boleh memancing atau menjaring ikan hanya diperbolehkan menyelam), Zona Pemetaan Lokal (untuk kegiatan memancing atau menagkap ikan khusus masyarakat Wakatobi) serta Zona Pemetaan Umum.

 

Satu contoh yang diambil oleh Andi, misalnya, menghilangkan kata 'larangan' mengambil ikan (no take zone) di Zona Pariwisata. Dia menggantinya dengan 'daerah tabungan ikan' dimana masyarakat tetap dilarang memancing disitu. "Ibaratnya tabungan di bank berarti modal dasarkan tidak boleh diambil hanya bunganya saja diambil. Sama seperti daerah tabungan ikan, disitu merupakan tempat ikan bertelur dan berkembang biak. Masyarakat hanya boleh mengambil 'bunga-bunga'nya saja diluar wilayah itu. Syukurlah, masyarakat sudah mulai terima. Mungkin kita berbuat sesuatu dengan niat yang tulus, niat biak," tandas Andi.

 

Insaf, Para Pembom dan Bius Ikan Jadi Masyarakat Mitra Polhut (MMP)

Perjuangan Andi dan rekan-rekannya sebagai Polisi Kehutanan (Polhut) tidak berhenti dalam upaya penyadaran masyarakat. Sebab tidak bisa dipungkiri, aksi illegal fishing disekitar wilayah Tomia maupun zonaisasi laut yang dilarang kerap dilakukan oleh nelayan-nelayan tertentu. Menggunakan armada kapal yang kapasitasnya jauh lebih besar, bom, bius maupun jaring, mereka dengan leluasa mengambil ikan dalam jumlah banyak. Belum lagi kerusakan terumbu karang akibat aktifitas tersebut. "Kebanyakan nelayan dari luar dari Kendari atau dari daerah lain. Apalagi sejak ada zonaisasi, ikan telah bertambah banyak. Nelayan kita (Tomia) kalau mengambil ikan dalam jumlah yang kecil sedangkan dari luar karena kapalnya besar ikannya banyak," ujar Andi.

 

Dengan potensi ancaman yang kerap terjadi, Andi kemudian mengajak beberapa pemuda yang dulunya adalah pelaku illegal fishing untuk terlibat aktif dalam menjaga wilayah konservasi laut. Bekal pengelaman mereka selama dilaut serta kemampuan membedakan mana nelayan yang melakukan pemboman atau membius ikan sangat dibutuhkan dalam upaya menjaga kelestarian laut. Maka dibentuklah Masyarakt Mitra Polhut (MMP) yang disamping menjadi nelayan juga berperan sebagai polisi di laut. "Sebenarnya MMP itu kita inisiasi bersama-sama dengan masyarakat. Karena Kita cuma 6 orang (petugas Polhut di Tomia) jadi kalau masyarakat tidak bantu kita kesulitan juga. Kolaborasi itu buat kerja kita jadi bagus," papar dia. Ketua Koordinator MMP untuk Desa Lamanggau, Asianah, 41 tahun menambahkan, waktu kerja MMP kebanyakan dilakukan pada malam hari sebab tindakan illegal fishing juga sering terjadi pada waktu-waktu tersebut.

 

Soal beban kerja, menurutnya tidak terlalu sulit karena 15 orang anggota MMP yang ada di desa Lamanggau melakukannya saat aktifitas melaut. "Kebanyakan (illegal fishing) dilakukan malam hari. Ini juga sudah profesi kita, jadi bisa kita mengerti," ujarnya santai. Saat bertugas, sambung Asianah, metode persuasif tetap digunakan agar pelaku illegal fishing urung melakukan tindakannya. Namun, situasi waspada tetap dikedepankan mengingat pelaku tidak segan-segan melemparkan bom jika dicegat anggota MMP. "Mereka brutal, siap melempar kita. Bisa saja saat kita mendekat dihantam menggunakan bom," singkat dia.

 

Abdi, salah satu warga desa di Tomia juga mengakui kerap melakukan pembiusan. Ikan dalam jumlah besar serta rupiah yang dia dapatkan membuatnya sulit berpindah profesi. Namun, semenjak rutin mengikuti sosialisasi petugas Polhut, ia akhirnya sadar bahwa suatu saat generasi yang hidup setelahnya bisa-bisa tidak menikmati lagi keindahan bawah laut di Pulau Tomia. "Saya dulu pelaku pengrusakan, pembiusan dan pemboman. Namun setelah ketemu Andi pelan-pelan saya berubah, saya sadar," ucapnya.

 

Abdi yang kini bertugas sebagai kapten kapal Polhut ini, juga rutin mengikuti patroli petugas pada malam hari. Tidak sedikit aksi kejar-kejaran yang ia lakukan dengan pelaku illegal fishing saat turun kelaut. "Sekarang saya marah, kalau ada masyarakat yang mulai jelek-jelekan petugas Taman Nasional. Karena tugas kita berat, hadapi ombak, badai dan berhari-hari bisa tinggal di pulau tidak berpenghuni," kata dia. Sebelum terjun sebagai MMP, para masyarakat yang ada di Desa Lamanggau, Teemoane, Waiti maupun Waiti Barat mengukuti pelatihan yang diberikan oleh staff Taman Nasional setempat berupa pengoperasioan sistem komunikasi semisal aplikasi GPS maupun kamera.

 

Saat melaut, jika ditemukan pelaku illegal fishing, anggota MMP bisa langsung melakukan laporan kepada petugas untuk ditindaklanjuti. "Kita beri pelatihan dari tanggal 29 Juni-30 Juni. 2013 lalu dengan jumlah MMP sebanyak 30 orang. Tentunya dalam bekerja, mereka butuh titik koordinat kalau ada orang merusak didokumentasi. Semua anggota kita fasilitasi dengan kamera dan GPS yang ada koordinat daerah tabungan ikan. Seteh itu patroli berbasis masyarakat mulai jalan," tambah Andi.

 

Aktifitas mengawasi tidak dilakukan setiap hari oleh anggota MMP karena mereka hanya akan turun pada bulan Oktober saat purnama muncul. Saat yang bersamaan, pelaku illegal fishingpun akan menjelajah daerah tabungan ikan melakukan aktifitas pemboman atau membius ikan. "Banyak yang sudah proses di 2013 ini. Ada 21 orang nelayan dari Kendari yang sudah P21. Ini berkat laporan masyarakat semua," imbuh Andi. Dia berharap, pengawasan berbasis masyarakat ini lebih banyak diikuti oleh masyarakat. Mengingat, luas wilayah perairan Tomia tidak bisa diawasi sekaligus oleh Polhut maupun MMP. "Harapan saya ya, ada orang-orang lain yang mengikuti jejak mereka," pungkas dia.

 

Akses Informasi Kurang, Sektor Pariwisata di Darat Minim Perhatian

Salah satu destinasi wisata bawah laut yang terkenal di Kecamatan Tomia adalah 'mari mabuk,' wilayah tabungan ikan yang sering direkomendasikan untuk olahraga diving. Spesies ikan kakap merah, kakap hitam dan keindahan koralnya sungguh mengagumkan. Nama 'mari mabuk' yang diambil pun bukan sembarang nama, karena wisatawan bisa terlena dan 'mabuk' lantaran terpesona dengan banyaknya ikan dilokasi tersebut.

 

Sebuah bola yang di cat hijau di letakan ditas laut menandakan wilayah seluas 43 hektar tersebut tidak bisa dijadikan lokasi pemancingan apalagi untuk membom. Mari mabuk merupakan satu dari sekian banyak destinasi wisata yang ada di Tomia. Di Desa Teemoane, misalnya para wisatawan dapat menikmati keindahan beberapa goa yang dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian warga dari incaran penjajah Jepang. Lia (bahasa setempat yang artinya gua) Titi, Lia Waselato, Lia Maranggo, Lia Paloso maupun 9 sumber mata air semisal Teelabalela, Teemoane, adalah destinasi wisata yang kurang sekali mendapat perhatian untuk dikembangkan.

 

Teemoane terdiri dari dua kata yakni Tee yang berarti air dan Maone laki-laki. "Di Teemoane ini unik sekali. Selain wisata dilaut di darat juga sangat bagus sebagai tempat wisata. Kita punya 9 mata air dan 9 gua yang kurang sekali mendapat perhatian pemerintah untuk dikembangkan," ujar Kepala Desa Teemoane, Alimudin Abibu kepada GATRAnews. Alimudin menuturkan, di atas gua-gua tersebut dulunya tempat bermukim penduduk Desa Teemoane. Kegiatan seperti bercocok tanam, berburu maupun ajang sosialisasi antar penduduk desa dilakukan disekitar lokasi.

 

Pada zaman penjajahan Jepang, gua tersebut merupakan tempat persembunyian yang aman bagi warga. Sayang, destinasi tersebut tidak bisa dijaga karena tidak bisa dijadikan sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat. "Kalau dulu ada, kerjasama dengan salah satu resort orang asing di Tomia. Namun, masyarakat tidak mendapat apa-apa. Ya terpaksa kita tutup," jelas Alimudin. Di Lia Rumambi, misalnya diyakini sebagai tempat berkumpulnya arwah semua warga desa yang ada di Kecamatan Tomia. Pada malam hari, bunyi pukulan gendang, suara orang dalam jumlah yang banyak kerap terdengar di goa tersebut. Sedangkan di lia Waselato merupakan tempat cari jodoh warga desa. "Di gua ini dulunya tempat membuat tikar jadi banyak wanita didalam. Kalau ada pemuda yang mau cari jodoh nanti datang ke gua, kemudian mengikat sabut kelapa pada seutas tali lalu menurunkannya melalui lubang gua. Kalau diambil berarti si gadis menerima cinta si pemuda," tutur Alimudin.

 

Berbagai destinasi wisata darat ini memang sulit sekali disosialisasikan kepada pihak-pihak lain lantaran minimnya akses informasi maupun jaringan internet. Para wisatawan, hanya mengetahui resort-resort yang ada karena memang lebih didukung infrastruktur telekomunikasi yang bagus. Berbagai seni kerajinan seperti gantungan kunci,miniatur hewan-hewan laut, kain tenun, maupun makanan tradisional juga sudah dibuat oleh kaum-kaum wanita. Kualitasnyapun tidak kalah bagus, namun dengan jumlah wisatawan yang kurang mengunjungi destinasi wisata darat, barang-barang tersebut jarang dibeli.

 

Senada dengan Alimudin, Wa Ode Sunawati, 32 tahun, ketua kelompok Sejahtera dari Desa Lamanggau mengeluhkan hal yang sama. Berbagai hasil kerajinan berbahan dasar tempurung kelapa telah dibuat oleh anggota kelompok yang kebanyakan wanita. Namun, karena masih menggunakan alat-alat yang sederhana, hasilnyapun masih terbatas. Padahal, penjualannya dapat menambah pendapatan keuangan keluarga. "Kita menunggu bantuan pemerintah untuk alat-alatnya supaya bisa dibuat lebih banyak. Ada gantungan kunci, manik-manik dari siput laut maupun baju-baju," jelasnya. Sunawati mengakui jika banyak wisatawan yang mengunjungi desa Lamanggau maka hasil penjualan kerajinan sangan membantu keuangan yang selama ini didapat dari sang suami yang berprofesi sebagai nelayan. "Tergantung dari banyknya turis. Dalam sehari kita bisa memperoleh uang Rp.2-3 juta," imbuhnya. 

Wem Fernandez & Adi Wijaya (Wakatobi)

Share this article