Atlet Taekwondo Indonesia Butuh Jam Terbang Lebih

Taekwondoin Tim Putri Indonesia Berlaga di Kelas Poomsae Team Female (ANTARA/Rosa Panggabean)Jakarta, GATRAnews - Pelatih taekwondo Indonesia Rahmi Kurnia menyatakan, potensi juara anak asuhnya masih sangat tinggi. Masalahnya mereka hanya kekurangan pengalaman bertanding saja. Dari sejumlah laga Asian Junior Taekwondo Championship, skill para taekwondoin Tanah Air dinilai cukup bagus. Masalah muncul saat penerapan strategi dan mental bertanding. Hal ini dianggap sangat wajar, mengingat pengalaman tanding mereka di event internasional belum begitu banyak.

"Mudah-mudahan lepas dari event ini, mereka akan kembali kita godok dalam Pelatnas jangka panjang PBTI," ujarnya di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu, (23/6).

Mantan atlet yang meraih medali perak di Olimpiade 1992 ini menilai mereka adalah bibit unggul yang patut mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak. Ia tidak berkecil hati dalam menghadapi ketatnya persaingan atlet yang berlaga dalam event di Jakarta ini. Justru event tingkat Asia ini kelak akan bisa semakin menambah pengalaman atlet junior untuk siap tampil maksimal di berbagai event internasional lainnya.

"Prinsipnya kita sudah punya banyak bibit unggul yang dapat menyaingi keunggulan atlet negara lain. Tentu saja pengalaman bertanding di tiap evet seperti kejuaraan Asia ini menjadi modal untuk menambah jam terbang atlet,"ujarnya.

Kendati demikian, Rahmi mengakui laga persaingan di kejuaraan Asia junior ini amat ketat. Pasalnya kemampuan skil atlet dari negara-negara peserta sudah merata dan sulit untuk diprediksi siapa yang menang maupun kalah di masing-masing kelas yang dipertandingkan. Hanya saja, harapnya, tim nasional Indonesia harus terus mempersiapkan diri untuk menghadapi event internasional lainnya di masa mendatang.

"Skill atlet peserta kejuaraan Asia ini sudah merata dan pengalaman tanding atlet dari beberapa negara seperti Korea, Iran dan China Taipei memang lebih unggu. Tapi itu semua merupakan tantangan dan bahkan peluang bagi kita bila ingin taekwondo nasional dapat kembali ke zaman keemasan seperti dulu," tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh Dasantyo Prihadi, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBTI. Menurutnya, peta persaingan sudah begitu ketat mengingat kekuatan yang merata dari beberapa negara peserta. Hal ini memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang kita dalam menghadapi laga di Olimpiade mendatang.

"Bila sudah mencanangkan target untuk merih prestasi Olimpiade, kita tidak bisa berleha-leha usai kejuaraan ini. Mengingat peta kekuatan sudah mulai merata. Tapi tak usah khawatir, menurut saya masih cukup waktu untuk menggembleng mereka agar siap turun berlaga di Olimpiade mendatang," ujarnya. (*/WN) {jcomments on}

Share this article