Katapedia: Buzzer Ahok-Djarot Sulit Dilawan

Analisis Cuitan di Twitter pada 10-13 November 2016 (Dok. Katapedia)

Jakarta, GATRANews - Sengitnya pertarungan di pemilihan gubernur Jakarta kali ini menarik perhatian Katapedia untuk mengetahui apa yang terjadi di media sosial. Dan ternyata, dalam pengamatan Katapedia selama empat hari atau pada 10-13 November 2016, terlihat cuitan seputar pasangan Ahok-Djarot (kandidat nomor 2, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat) begitu mendominasi.

Selama empat hari, itu, Katapedia mengolah data Twitter saja sebanyak 184.093 tweets. "Jumlah tweets terbesar membicarakan pasangan Ahok-Djarot (92,47%), disusul jauh di belakangnya pasangan Agus-Sylvi (5,71%) dan yang terakhir pasangan Anies-Sandi (1,82%)," kata CEO Katapedia Deddy Rahman.

Katapedia adalah perusahaan penyedia layanan data analytics yang tersedia secara online, terutama media sosial. Menurut Deddy, Katapedia ditopang teknologi Artificial Intelligence, untuk melakukan pengolahan data media sosial dengan metode Text Mining. Dari data akun yang berhasil diperoleh Katapedia, dalam empat hari, telah terdeteksi jumlah akun-akun buzzer yang cukup besar. "Yang terbesar adalah buzzer Ahok-Djarot dengan jumlah diatas 40.000-an," kata Deddy.

Skor Efektifitas Kampanye di Media Sosial Tiga Pasang Calon Gubernur Jakarta 2016 (Dok. Katapedia)
Skor Efektifitas Kampanye di Media Sosial Tiga Pasang Calon Gubernur Jakarta 2016 (Dok. Katapedia)

Dilanjutkan dengan buzzer Agus-Sylvi dengan jumlah sekitar 3.000-an, dan terakhir buzzer Anies-Sandi sekitar 1.200-an saja.

Diperkirakan, bila ada polling online oleh media apapun dan siapapun, maka tim buzzer ini (cyber army) akan bekerja untuk memenangkan polling tersebut. "Jadi sudah pasti bisa ditebak pasangan mana yang akan memenangkan polling online tersebut," uajr Deddy.

Katapedia juga mengukur efektifitas kampanye online dari masing-masing kandidat. Untuk Agus-Sylvi efektifitas kampanye online-nya sekitar 32,40 %. Yang terendah adalah Ahok-Djarot, dengan efektifitas kampanye online-nya hanya 25,31 %.

Artinya, pembicaraan hanya didominasi oleh tim buzzer Ahok-Djarot, tidak memberikan efek signifikan untuk menginspirasi netizen memilih pasangan ini. Dan untuk Anies-Sandi, efektifitas kampanye online-nya yang tertinggi, yakni sebesar 49,07 %.

Katapedia juga mengumpulkan semua hashtag, sebagai bagian dari strategi kampanye online, dari semua pasangan calon gubernur Jakarta.

Dengan mengetahui semua hashtag yang ada pada pasangan tertentu, lanjut Deddy, maka kita dapat mengetahui apa saja tema kampanye dari setiap tim sukses-nya sekaligus untuk mengetahui serangan apa yang ditujukan kepada pasangan tersebut.

Untuk pasangan nomor 1, hashtag yang muncul (diurutkan dari yang terbanyak) sebagai berikut, #ahybersamarelas1, #jakartauntukrakyat, #ahybangunstadionpersija, #satukanjakarta,#kitaahy, #ahy, #agussylvi4dki, #tetapahy, #pidatopolitikagussylvi.

Juga ada kampanye dalam meraih simpati warga Betawi, yakni #mpoksylvinonebetawi #mpoksylvikerenbeud. Pendukung pasangan ini juga menyerang kubu sebelah dengan hashtag #buzzerahoaxsebarkanhoax.

Untuk pasangan nomor 2, hashtag yang dominan cukup banyak, yakni #ahok, #majuteruspakahok,#salam2jari, #kampanyerakyat, #savepakahok, #tetapahokdjarot, #ahokdjarotterbukti, #tetapahok, #savenkri, #ke2ja, #basukidjarot, #nggakikutdemo, #inibarujakarta, #kudetagagal.

Pasangan ini juga mendapatkan serangan dari pendukung aksi demo yang terjadi pada 4 November 2016, dengan hashtag sebagai berikut, #basukiditolakwarga, #mulutrusakbasukiditolak, #tangkapahok, #islamjagankri, #aksidamai411, #ahokbebanijokowi, #ahokbebanjokowi, #hmijanganmaudiadupenista.

Untuk pasangan nomor 3, hashtag yang dominan lebih banyak bicara tentang program kerja, seperti #hunian3majubersama, #bersamamuliakanperempuan, #salambersama, #majubersama, #jakartasatusuara, #aniessandi, #beradab, #livengaskusaniessandi.



Penulis: Rosyid
Editor: Dani Hamdani, Edward Luhukay

Share this article