Main Menu

Asian Games Terancam Polusi Udara

Sandika Prihatnala
12-08-2018 05:37

Airvisual monitor. (Dok.Airvisual/RT)

Jakarta, Gatra.com - Polusi udara dan ancaman kabut asap menghantui pelaksanaan Asian Games 2018. Namun Dinas Lingkungan Hidup DKI membantah. Mustahil menekan polusi udara di Jakarta dalam waktu singkat.

 

Kondisi udara di Jakarta tidak sehat. Begitulah kesimpulan yang didapatkan dari sebuah pemantau kualitas udara Airvisual. Padahal, Ibu Kota sedang giat-giatnya bersolek, bersih-bersih sana sini menyambut Asian Games ke-18. Bantaran sungai dan pedagang kaki lima bisa dirapikan, bahkan sejumlah ruas jalan pun ditutup agar lalu lintas tidak semrawut. Tapi bagaimana membersihkan udara yang kotor dalam waktu singkat?

Indeks Udara Jakarta, menurut Airvisual pada 25 Juli lalu sempat menyentuh 183 poin sekaligus menobatkan Jakarta sebagai kota paling berpolusi. Angka ini terpaut dua poin saja dari kota Krasnoyarsk, Rusia, yang berada di peringkat kedua.

Kota-kota lain yang berada di 10 peringkat teratas tersebut adalah: Lahore India di peringkat ketiga, menyusul Vladivostok, Kabul, Kolkata, Shanghai, dan Mumbai. Air quality index Airvisual tersebut mengambil data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Airnow yang memonitor kualitas udara dengan alat pantau di dua Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Buruknya kualitas udara Jakarta ini, menurut Manager Perkotaan Walhi Dwi Sawung, tak lepas dari polusi kendaraan pribadi, transportasi, dan industri. “Jakarta konsisten dengan pencemaran udaranya,” katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA, Kamis, i Agustus lalu.

Dibandingkan dengan Palembang, yang juga sebagai kota penyelenggara Asian Games, penanganan di Jakarta lebih sulit. Di Palembang, ancamannya hanya satu sumber, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Tidak bisa seminggu atau dua minggu penanganannya. Minimal setahun sampai dua tahun sebelumnya,” ujar Sawung. Salah satu alasannya, belum kunjung diterapkannya standar emisi Euro 4 bagi kendaraan di Indonesia. Sempat direncanakan berlaku pada 2017, namun tertunda.

Soal polusi Jakarta, Sawung mengkritik penanganan yang belum maksimal. Sebenarnya bisa dilakukan dengan pengetatan bahan bakar transportasi publik atau pembuatan taman kota yang lebih banyak. Namun, masih jauh dari kata ideal. Penurunan emisi dari penerapan ganjil genap mungkin bisa jadi solusi jangka pendek, meskipun tidak signifikan.

Namun Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji, menolak klaim Airvisual itu. Menurutnya, kualitas udara di Jakarta, khususnya di area pelaksanaan Asian Games seperti Gelora Bung Karno dan sekitarnya masih terkategori baik. Dasarnya, pantauan dari Stasiun Pemantauan Kualitas Udara(SPKU) Ambien Otomatis yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Justru, standar pengukuran yang menurutnya membuat pandangan kualitas udara di Jakarta berbeda. Standar pengukuran yang dilakukan di Indonesia itu menggunakan pengukuran PM10 atau partikel tak kasatmata berukuran 10 mikron (mikrometer). Dalam pengukuran ini, nilai ambang batas (NAB) konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara itu 150 µgram/m3

Nah, standar yang digunakan di Kedubes Amerika Serikat, yang dijadikan sebagai acuan menilai kualitas udara Jakarta, adalah PM2,5. Yaitu, partikel tak kasatmata berukuran 2,5 mikron. Ukurannya yang sangat kecil, jika diibaratkan hanya 3% dari diameter rambut manusia. Dalam standar ini, NAB yang diperbolehkan berada dalam udara sebesar 65 µgram/m3

Nah, pada 25 Juli itu, berdasarkan pantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di GBK milik KLHK, parameter polutan PM10 terukur sebesar 52ug/Nmł dan masih jauh di bawah baku mutu yang dipersyaratkan, yaitu 150 ug/Nmł, sedangkan parameter PM2,5 terukur 43 ug/Nmł dari baku mutu 65 ug/Nmł.

“Perlu diketahui juga, baku mutu udara yang digunakan pemprov sebesar PM10 itu mengikuti ketentuan PP Nomor 41/1999 dan Peraturan Menteri LH Nomor 45/1997,” katanya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA, Rabu, 1 Agustus lalu.

Meski begitu, Isnawa melanjutka, bukan berarti ini mengabaikan perhitungan PM2,5. Tahun ini juga, Dinas KLH DKI sudah mulai tahapan penghitungan, namun masih menunggu alat yang memadai. “Kami tetap tetap berupaya memperbaiki kualitas udara termasuk untuk menyukseskan Asian Games,” kata Isnawa.

Salah satu strategi yang sudah dilakukan dan terbukti efektif adalah perluasan penerapan sistem ganjil genap. Berdasarkan pantauan, telah terjadi penurunan 3 konsentrasi gas, yaitu CO, NO, dan THC yang banyak bersumber dari kendaraan bermotor.

Dari hasil monitoring didapatkan kualitas udara di Stasiun DKI 1 Bundaran Hotel Indonesia terjadi penurunan konsentrasi CO sebesar 26,92% dan konsentrasi THC sebesar 12,62%. Stasiun DKI 2 di Kelapa Gading juga terjadi penurunan konsentrasi CO sebesar 10,19%, konsentrasi NO turun sebesar 12,33% dari NO2 turun sebesar 1,48%. Sementara itu, di Stasiun DKI 4 Lubang Buaya terjadi penurunan konsentrasi CO sebesar 6,75% dan NO sebesar 22,97%. “Tentu dengan kebijakan ganjil genap kendaraan akan semakin berkurang. Misalnya, sehari ada 5.000 kendaraan bisa saja turun menjadi 3.000 hingga 3.500 kendaraan,” kata Isnawa.

Untuk perbaikan kualitas udara jangka panjang lebih kepada kesadaran untuk uji emisi kendaraan secara berkala. Untuk mempermudahnya, akan ada aplikasi yang mempermudah pengguna untuk mengecek masa uji emisi.

Senada dengan Isnawa, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Karliansyah menyebut pemberlakuan sistem ganjil-genap kendaraan bermotor dan pengalihan arus lalulintas di beberapa ruas jalan menjadi upaya pengendalian kualitas udara yang kini ditempuh. Upaya lainnya, mengimbau masyarakat menggunakan transportasi massal dan mempercepat penerapan standar emisi Euro 4.

Untuk kawasan Palembang, KLHK menerjunkan satgas di lapangan yang bertujuan sebagai deteksi dini kebakaran hutan. Hasilnya, ia mengatakan, walaupun ada kebakaran kecil, namun bisa ditanggulangi sejak dini. “Insya Allah aman dari kabut asap,” katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah, ia yakin, kualitas udara di Jakarta akan membaik. Sementara itu, Palembang udaranya tergolong lebih bagus, karena kadarnya hanya 12 mikrogram per meter kubik. “Dengan pengaturan dan segala macam Insha Allah bisa tercapai. Termasuk nanti kendaraan operasional harus menggunakan bahan bakar gas,” katanya lagi.


Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
12-08-2018 05:37