Main Menu

Mengadang Asap di Palembang

Sandika Prihatnala
12-08-2018 06:21

Gubernur Sumsel, Alex Noerdin pimpin Rakor Karhutla di Griya Agung, Palembang. (GATRA/Tasmalinda/FT02)

Palembang, Gatra.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Sumsel menjadi salah satu ancaman dalam pelaksanaan Asian Games XVII di Palembang. Apalagi, memasuki bulan Agustus yang menjadi puncak musim kemarau, Sumsel akan dihadapkan pada kebiasaan membuka lahan guna memulai musim tanam baru.

 

Kebiasaan membuka lahan dengan membakar memang dinilai efektif dan cepat namun memproduksi asap yang memperburuk kondisi udara di Palembang. Kawasan Jakabaring Sport City (JSC) yang berada di kawasan hulu kota Palembang diapit oleh Kabupaten Banyuasin dan Ogan Ilir termasuk wilayah sekitarnya yakni Ogan Komering Ilir (OKI). Ketiga wilayah ini juga pernah terbakar hebat tahun 2015 lalu. Ketiganya juga menjadi kabupaten prioritas guna pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu Gubernur Sumsel, Alex Noerdin berbagai upaya dilakukan dengan melibatkan unsur TNI-Polri dalam pecegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan termasuk melibatkan personil pengamanan dari perusahaan perkebunan dan kehutanan pemilik lahan. Sumsel sudah memasuki status siaga sejak Februari lalu dan menjelang Agustus, Dansatgas Karhutla yakni Danrem 44/Gapo juga status siaga merah merupakan puncak upaya pencegahan.

“Di Sumsel, terdapat lebih dari 7.500 orang yang tergabung dari TNI, Polri, unsur pemerintah, masyarakat dan perusahaan. Jumlah personil inipun disesuaikan pada fungsinya. Kesiagaan merah berlangsung sampai dengan pertimbangan lebih baik atau setelah Asian Games,”terang Alex.

Operasi pencegahan dan penanggulangan karhutla di Sumsel dibawah komando Dansatgas, Kolonel Inf Iman Budiman. Dikatakannya, berdasarkan arahan Panglima TNI, terdapat tiga langkah yang dapat dilakukan guna mencegah karhutla yakni teknik pembahasan kawasan gambut, yang diawali dengan pemasangan alat sensor ketinggian muka air. Pengukuran muka air ini bertujuan mengetahui batas ambang ketinggian air di kawasan gambut.

Alat pengukuran muka air yang merupakan produk teknologi dari BPPT dan sudah ditempatkan pada lembung gambut di beberapa kabupaten. Selain itu, pencegahan kebakaran hutan dan lahan dilakukan melalui hujan buatan atau dinamakan teknologi modifikasi cuaca dengan menabur garam di langit Sumsel. Sejak awal Agustus lalu, bekerjasama dengan BPPT juga melakukan water boombing kembali dilakukan pada daerah terbakar. Aktivitas water boombing disesuaikan dengan kondisi dan potensi awan pembawa hujan di langit Sumsel.

“Jika potensi awannya banyak, water boombing bisa dilakukan minimal dua kali dalam sehari. Namun karena Agustus merupakan puncak musim kemarau, potensi awan menurun dibandingkan beberapa bulan lalu,”terangnya.

Pencegahan lainnya dilakukan dengan penguatan kekuatan di darat, yakni penguatan TNI-Polri dan perangkat desa di 55 desa siaga di Sumsel, terutama desa-desa yang berada di kabupaten yang berbatasan secara topografi pada kawasan. Untuk pemantauan kondisi udara, Gubernur Alex menambahkan, telah dipasang beberapa titik pemantauan cuaca baik di pusat kota Palembang atau kawasan Jakabarig. Pemasangan alat pengukur ini akan memberikan informasi real tme kondisi cuaca termasuk informasi dari pengukuran yang dilakukan oleh lembaga BMKG

“Terpenting bagaimana gambut dan lahan tidak terbakar, sehingga tidak terdapat asap,”pungkas Alex.


Reporter : Tasmalinda

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
12-08-2018 06:21