Main Menu

Dayung-Kano Ulang Prestasi Asian Games 1990

Iwan Sutiawan
02-09-2018 13:16

Arena dayung Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan.(ANTARA FOTO/INASGOC/Iqbal Lubis/re1)

Palembang, Gatra.com - Pertandingan cabang olahraga dayung-kano resmi berakhir di Asian Games 2018 di Palembang, Jumat (1/9). Prestasi tim Indonesia dinilai lebih baik dan seolah mengulang prestasi Asian Games 1990 silam.

 

Wakil Ketua PB Podsi sekaligus Manajer Tim Dayung Indonesia, Budiman Setiawan, mengatakan, kemampuan atlet dayung Indonesia di Asian Games sudah cukup baik. Dengan perolehan medali yang sebelumnya ditargetkan emas, namun beberapa nomor memang harus kalah dalam hitungan waktu yang sangat tipis.

"Tahun ini seolah mengulang sejarah tahun 1990, dengan perolehan yang sangat baik. Dayung Indonesia masih sangat bisa dikembangkan dengan dukungan banyak pihak, terutama pemerintah," ujarnya usai konferensi pers di JSC Palembang.

Bedanya, pada Asian Games ini, jumlah negara yang bertanding lebih banyak, misalnya hadir negara Rusia. Dengan jumlah peserta yang kian banyak, sebenarnya kemampuan atlet Indonesia sudah sangat bisa bersaing. Beberapa negara, seperti Jepang dan China, memang masih mengungguli perolehan emas di cabor dayung kali ini.

"Meski mengulang sejarah, namun jumlah negara yang bertanding lebih banyak. Ada beberapa nomor, yang berselisih dekat dengan China dan akhirnya kalah dan menang tipis. Ini menjadi catatan evaluasi bagi Indonesia," katanya.

Kedepan, lanjut Budiman, tim dayung Indonesoa sudah bersip dengan Asian Games 2022, terutama untuk rowing dan nomor sprint. Beberapa nomor misalnya kano sudah memperlihatkan hasil maksimal, yakni tidak terlalu berbeda jauh dibandingkan China dan Jepang.

"Berbeda sedikit kelas dengan yang terbaik dunia, juga menjadi pencapaian yang harus berkesinambungan. Setelah Asian Games harus fokus pada Sea Games dan PON," ujarnya.

Indonesia membutuhkan kesinambungan pembinaan. Cabor dayung ini sangat membutuhkan dukungan pemerintah. Mengingat, olahraganya bukan merupakan jenis olahraga yang bisa dijual komersil seperti sepakbola, bulu tangkis, dan lainnya.

Kepastian program dalam jangka panjang, khususnya dari pemerintah daerah, kata dia, menjadi jawaban dalam pembinaan terhadap atlet. Pihak pemerintah pusat, seperti halnya kementrian sudah memberikan sumbangsihnya terhadap olahraga dayung dan kano, namun dukungan pemerintah daerah juga sangat diperlukan.

"Dayung Indonesia memiliki banyak atlet andalan, tapi yang dibutuhkan juga menjadi lapis-lapis lain dari atlet tersebut, yakni melalui pembinaan," katanya.

Di penutupan pertandingan, Indonesia berhasil meraih medali perak atas nama Riska Andriyani. Pendayung dari single women nomor 200 meter tersebut belum berhasil mengalahkan pendayung China, Mengya Sun dengan selisih waktu hanya 0,016 detik.

Riska mengungkapkan rasa syukur atas perolehan tersebut. Ia telah diberi kekuatan dan semangat yang lebih terutama dari penonton di Palembang saat berlaga, namun belum mampu menghantarkan bendera merah putih di tiang paling atas.

"Saya mohon maaf kepada semua pihak, karena lagu Indonesia raya belum berkumandang di rumah sendiri. Saya akan terus berusaha mambawa nama Indonesia dalam banyak kompetisi dayung lainnya. Semoga makin banyak pendayung di Indonesia yang berprestasi," ungkapnya.


Reporter: Tasmalinda
Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
02-09-2018 13:16