Main Menu

Taufiq Ismail Tegaskan, Kretek Bukan Warisan Budaya

Tian Arief
01-10-2015 08:44

Taufiq Ismail (Dok persepsipost.com)

Jakarta, GATRAnews - Sastrawan Taufiq Ismail menegaskan, rokok kretek bukanlah warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi Undang-undang dan dipromosikan. "Itu cuma akal-akalan korporasi rokok. Tembakau dan cengkeh kan bukan tanaman asli Indonesia," kata Taufiq, seusai pertemuan Urun Rembug Para Tokoh Bangsa dalam Membentuk Sumber Daya Manusia yang Cerdas, Sehat dan Tangguh Menghadapi Persaingan Global di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta, Rabu (30/9).

Sastrawan anti-rokok yang membuat puisi "Tuhan Sembilan Senti" itu, menjelaskan, mengisap rokok adalah kebiasaan asing yang dibawa ke Indonesia melalui aktivitas perdagangan.

Dokter hewan yang memiliki pengalaman pribadi kehilangan adik sepupu akibat rokok itu, menolak dimasukkannya ayat kretek dalam rencana undang-undang (RUU) Kebudayaan.

Dia menilai, itu adalah "titipan" pengusaha rokok. "Sepuluh orang terkaya di Indonesia itu adalah pengusaha rokok, yang rumahnya di California. Saya menyebut mereka bukan pengusaha tapi pembunuh massal."

Taufiq menjelaskan, salah satu bukti politisi Indonesia sudah menjalin kongkalingkong dengan pengusaha rokok, adalah Indonesia tidak meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau (FCTC) badan kesehatan dunia (WHO).

"Dari 80 lebih negara, yang tidak ikut FCTC cuma ada tiga negara, termasuk Indonesia dan dua negara Afrika seukuran Jawa Barat. Kalau saya pergi ke kantor perusahaan-perusahaan rokok, di ruang tamunya ditulis: dilarang merokok. Coba, kemunafikan macam mana lagi yang lebih dari itu?" ujarnya, seperti dikutip Antara.

Taufiq menjelaskan, industri rokok mempunyai dampak mematikan. Menurut WHO, delapan juta orang mati di seluruh dunia akibat paparan asap rokok pada tahun ini. "Di Indonesia, rokok membunuh 400 ribu orang setahun, 1.500 orang sehari. Jadi, saya menolak pasal kretek itu," ujarnya menegaskan.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
01-10-2015 08:44