Main Menu

Saung Juang Cirebon gelar diskusi seni merawat keindonesiaan

Andhika Dinata
13-02-2017 11:24

Cirebon, GATRAnews - Cirebon dikenal sebagai kota yang memiliki banyak Pondok Pesantren (Ponpes) besar. Ponpes Babakan Ciwaringin, tercatat sebagai salah satu Ponpes tertua yang ada di Indonesia. Hal itu, terungkap dalam acara Bedah Buku Baban Kana, karya KH Zamzami Amin, di Soft Opening Saung Juang “Taman Baca”, Kota Cirebon, dengan tema “Ngalap Jati” Jumat pekan lalu (10/2/17).

 

 

KH Zamzami Amin, menyampaikan karya yang ditulisnya berusaha memotret secara historis bagaimana proses kelahiran dan sumbangsih Pondok Pesantren tertua di Jawa Barat itu. Beberapa latar disampaikan dan dikuliti dalam cerita ini termasuk bagaimana Ponpes tersebut mengambil andil dalam perjuangan masa lalu.

 

Kajian sejarah, menurutnya, sangat penting. Karena lewat karya Baban Kana diungkapkan fakta sejarah yang selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. "Apalagi, khususnya, peran para kiyai dalam memimpin penjajahan Belanda pada masa itu," ungkapnya dalam siaran pers yang diterima GATRA News.

 

Perlawanan para kiyai dan santri terhadap penjajah tersebut, kata Zamzami, dikenal sebagai Perang Kedondong. "Dan dalam perang tersebut, penjajah kalah. Meskipun dengan cara dan dalam waktu yang sangat lama. Dengan demikian, Ponpes Ciwaringin, memiliki peran penting dalam hal melawan penjajah dalam Perang Kedongdong”.

 

Dalam pandangan terpisah, pengelola Saung Juang, Mujahidin Belantara, mengungkapkan, pihaknya sengaja menghadirkan KH Zamzami Amin sebagai narasumber dan pembedah karya tersebut. Menurutnya buku bertema sejarah itu sangat penting diceritakan kepada kalangan pesantren.

 

“Bukan hanya penting untuk para santri dan alumni, akan tetapi juga sangat penting disajikan untuk masyarakat pada umumnya. Generasi muda jangan sampai melupakan sejarah. Dan dengan adanya buku seperti Baban Kana ini, mengingatkan kita bahwa sejarah sangat penting,” ujarnya.

 

Tentang pengambilan tema Acara Ngalap Jati, Mujahidin menyebutkan tema tersebut sengaja diusung untuk menyampaikan pesan kesejatian bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan.

 

“Kami sengaja mengambil tema “Ngalap Jati”, yang menyampaikan (pesan) bahwa dari awal kehidupan manusia adalah mencari sebuah kesejatian hidup baik itu mahluk dengan mahluk, mahluk dengan Tuhan dan dengan dirinya sendiri,” kata dia.

 

Dalam acara diskusi seni yang digelar di hadapan ratusan santri Pondok Pesantren itu juga digelar beragam acara seperti: bedah buku, pentas musik, diskusi tentang merawat indonesia dan keindonesiaan.

 

“Upacara pembuka Ngalap Jati dimulai dengan dibedahnya buku Baban Kana karya Kang Zami yang menguak cerita masa penjajahan yang (kisahnya) dialami Ponpes tertua di Indonesia, yaitu Ponpes Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon,” pungkasnya.


Reporter : Andhika Dinata⁠⁠⁠⁠

Editor: Dani Hamdani 

Andhika Dinata
13-02-2017 11:24