Main Menu

Pemuda Peduli Nias Melawan Isu Negatif

Averos Lubis
29-03-2017 22:07

Artikel Terkait

Jakarta,GATRAnews- Budaya suku-suku bangsa di Indonesia demikian unik, sehingga banyak pihak yang tidak paham bahkan cenderung menyimpulkannya secara negatif. Seperti juga Suku Nias, yang memiliki salah satu adat yang unik yaitu fangowalu (adat pernikahan-red), ternyata ada pihak yang malah membuat berita negatif terkait adat istiadat ini. 

 

Hal ini terjadi ketika seorang pemilik akun Facebook berinisial MH, yang bukan dari suku Nias menuliskan dalam statusnya, bahwa terdapat ritual aneh dala proses pernikahan Suku Nias. Dia mengatakan bahwa: Ayah pengantin pria yang menjalani malam pertama dengan pengantin wanita beberap waktu lalu.

Kabar itu, bagi perkumpulan Pemuda Peduli Nias (PPN) dianggap sebagai isu negatif yang telah tersebar sehingga memperburuk citra masyarakat Nias. Maka dengan menyelenggarakan diskusi dengan tema "Mengenal Adat Istiadat Suku Nias" elemen masyarakat Nias ini mencoba menjelaskan kabar negatif dan tidak bertanggung jawab sebagaimana ditulis oleh MH dalam akun media sosialnya.

Ketua Panitia Penyelenggara acara diskusi, Bruno Adolf Richard Telaumbanua menjelaskan, bahwa acara diskusi bukan hanya untuk membantah isu negatif yang selama ini ditujukan kepada Suku Nias. Melainkan bertujuan untuk memperkenalkan keunikan adat istiadat dan budaya kepada masyarakat luas. “Masyarakat Suku Nias selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat istiadat serta mengedepankan etika ,moral, dan kehormatan keluarganya,” ujarnya, Selasa (28/3).

Sementara budayawan sekaligus Pendiri Museum Pusaka Nias, Pastor Johannes Hammerle Ofm.Cap mengataka, bahwa salah satu kata kunci untuk Nias ialah NIHA (manusia). Sebab itu, dia melanjutkan, kepulauan yang terletak di sebelah Barat Sumatera itu disebut Tanö Niha. Adalah tanah yang merupakan kediaman manusia. “Dalam setiap proses kehidupan masyarakat Suku Nias, selalu mengedepankan perbuatan yang manusiawi. Pernyataan negatif yang selama ini beredar, tidak benar! Sama sekali tidak ada dalam budaya Suku Nias,” tuturnya.

Sementara itu, menurut Dr. Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengatakan bahwa, pemerintah memberikan perhatian lebih pada pelesatarian kebudayaan di Indonesia. Adapun pada periode di April 2017 ini pemerintah akan mengesahkan Rancangan Undang-undang tentang Kebudayaan menjadi Undang-undang. “Dalam Undang-undang tersebut mengatur tentang sanksi bagi pelaku penghinaan yang ditujukan kepada kebudayaan suku-suku di Indonesia,” ujarnya.



Reporter  : Averos Lubis
Editor      : Mukhlison

Averos Lubis
29-03-2017 22:07