Main Menu

Pamer Kuliner di Indonesian Culinary Fair Tokyo 2016

Edward Luhukay
28-05-2016 13:35

Jakarta, GATRAnews - Sebagai salah satu negara dengan keragaman cita rasa masakan tradisional, Indonesia memiliki peluang besar untuk dikenal ke seluruh dunia dalam hal kuliner. Hanya saja diperlukan promosi dan upaya bersama dari warga Indonesia di mancanegara untuk menjadikan makanan Nusantara sebagai menu yang disukai di mana pun berada.

Itulah pesan yang ingin disampaikan melalui promosi dan pameran kuliner Indonesian Culinary Fair Tokyo 2016 di Shinagawa Prince Hotel, 16 Mei-30 Juni 2016. Acara yang digelar atas kerja sama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dan Djarum Foundation ini menampilkan 30 kuliner yang ditetapkan Kementerian Pariwisata RI sebagai aset kuliner terbaik Tanah Air.

Duta Besar RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra mengatakan, mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Thailand atau negara-negara lain di Asia, sebetulnya Indonesia sudah agak terlambat untuk mempromosikan kuliner Nusantara di negara-negara asing. "Kita perlu promosi besar-besaran dan standarisasi makanan kita, misalnya yang disebut pedas itu bagaimana, pedas sedang itu seperti apa. Ini yang perlu kita standarisasikan karena di mana-mana pedas kita itu berbeda," kata Yusron kepada wartawan, di sela-sela peluncuran pameran kuliner tersebut, seperti dikutip melalui siaran pers yang diterima GATRAnews.

Pakar kuliner Indonesia, William Wongso, yang didaulat untuk memimpin tim Indonesia dalam pengenalan masakan Indonesia di Jepang, mengatakan bahwa restoran-restoran Indonesia di luar negeri sebaiknya mulai berani menyajikan menu asli Indonesia dengan cita rasa khas Tanah Air. Standarisasi masakan juga diperlukan agar seluruh orang di dunia tahu bahwa masakan Nusantara memiliki karakter tertentu.

"Kalau selama ini restoran-restoran Indonesia lebih menyesuaikan rasa masakan Indonesia dengan konsumen, sekarang saatnya menambah menu-menu yang lebih otentik sebagai menu tambahan," kata William, yang selama ini menjadi mentor dan penasihat bagi sekolah-sekolah menengah kejuruan di Kudus, Jawa Tengah, binaan Djarum Foundation.

Selain itu, kata William, diperlukan pula peran serta warga negara Indonesia di luar negeri untuk menyebarluaskan kenikmatan masakan Indonesia. Kekuatan komunitas WNI di luar negeri dianggap perlu untuk meyakinkan dunia bahwa masakan Indonesia pun bisa setara dengan level dunia.

"Ada 60.000 orang Korea di Indonesia dan mereka setia makan makanan Korea di Indonesia sesuai cita rasa Korea. Pada akhirnya, orang-orang Indonesia pun bisa mengikuti dan menyukai masakan mereka dengan cita rasa mereka," katanya.

Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation Primadi H Serad mengatakan, seluruh KBRI di berbagai negara perlu memiliki standar khusus tentang masakan Tanah Air. Hal itu antara lain dapat dilakukan dengan menciptakan calon-calon tenaga profesional dari sekolah-sekolah kejuruan Indonesia.

Tujuannya untuk menciptakan calon-calon tenaga profesional di bidang kuliner dengan standar yang sama tentang masakan asli Indonesia.

"Kurikulum yang dibuat oleh pemerintah itu perlu disesuaikan. Yang kami berikan adalah kurikulum yang sesuai dengan industri saat ini," kata Primadi.

Untuk itu, sejak 2012, Djarum Foundation memberikan pembinaan terhadap 11 sekolah menengah kejuruan di Kudus, Jawa Tengah. Dua di antaranya adalah SMKN 1 Kudus dan SMK PGRI 2 Kudus jurusan Tata Boga, yang mendapatkan bimbingan khusus dari William Wongso selaku mentor. Dari pembinaan itu, empat siswi SMKN 1 Kudus saat ini dikirim untuk ikut serta memperkenalkan makanan Indonesia di Jepang.

"Kami upayakan mereka menjadi chef khusus di KBRI agar kita punya standar masakan Indonesia," kata dia.

Apa sih makanan asli Indonesia yang cocok di lidah orang-orang di Jepang? Yang paling cocok sebetulnya sejenis sup, misalnya soto lamongan. Tempe goreng, sate maranggi, hingga gado-gado pun pas untuk mereka.

Setidaknya itulah gambaran singkat dari program perkenalan kuliner Indonesia di Jepang dan pameran Indonesian Culinary Fair Tokyo 2016 di Shinagawa Prince Hotel, Tokyo. Serangkaian acara itu diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI dan Djarum Foundation serta didukung oleh Kementerian Pariwisata.

Salah satu acaranya adalah perkenalan makanan Indonesia di sekolah masak Hattori Nutrition College, Kamis (12/5/2016). Di situ, tim yang dipimpin oleh pakar kuliner William Wongso, termasuk empat siswi lulusan SMK Negeri 1 Kudus, mendemonstrasikan cara memasak soto ayam lamongan, asem padeh tongkol, dan rendang padang daging giling.

"Mereka paling suka soto lamongan, yang sup-sup gitu. Tempe juga mereka suka," kata Afifah Ramadani, lulusan SMKN 1 Kudus, dalam acara peluncuran Indonesian Culinary Fair Tokyo 2016.

Afifah bersama tiga rekannya dari SMKN 1 Kudus, yakni Meida Intan Anggraini, Hilmi Yolandi, dan Divia Amelia, secara khusus dikirim ke Jepang untuk membantu ahli kuliner Indonesia, William Wongso, dan timnya untuk memperkenalkan makanan terbaik Indonesia dalam pameran tersebut. "Bisa dilihat di acara ini, semua menu habis. Memang orang Jepang ini tidak suka pedas, seperti rendang. Jadi untuk rendang pedasnya kita sesuaikan," kata William, di sela-sela acara peluncuran pameran kuliner itu.

Hal serupa juga disampaikan oleh Peter, pemilik Pelangi Cafe di Shinagawa, Tokyo, Jepang. Pria asal Ambon yang pernah menekuni bisnis kuliner di Jakarta dan Singapura itu mengatakan, orang Jepang tidak suka makanan asin dan pedas. "Mereka lebih suka menu yang simpel dan cepat saji. Saya sendiri usahakan agar lima menit jadi," kata Peter.

Di restoran milik Peter, menu yang disajikan benar-benar asli Indonesia. Selain nasi dan mi goreng, ada pula gado-gado, hingga asinan. "Mereka nggak mau makanan yang banyak kalori. Nggak mau terlalu banyak penyedap rasa juga," ujarnya.



Editor: Edward Luhukay

Edward Luhukay
28-05-2016 13:35