Main Menu

Raymond R. Tjandrawinata: Jadi Saintis Cara Mulia Membangun Negara

Andhika Dinata
07-01-2017 14:53

Raymon Tjandrawinata (GATRA/Jongki)Jakarta, GATRAnews - “Negara tanpa riset industri tidak akan bisa maju dan akan hanya menjadi pasar bagi produk negara lain.” Begitu kata Raymond R. Tjandrawinata, ilmuwan farmasi Indonesia yang telah menorehkan segudang prestasi. Pria kelahiran Jember, 7 Januari 1964, itu pendiri sekaligus Direktur Pengembangan dan Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), sebuah lembaga riset obat bahan alami di Indonesia. Berkat pengabdiannya, Raymond meraih Habibie Award 2016 bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi, Oktober silam.

 

Penghargaan yang diberikan di kediaman BJ Habibie di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan itu, untuk mengapresiasi dedikasi Raymond dalam meneliti obat-obatan berbasis bahan alami tanah air. Setidaknya tujuh produksi farmasi hasil riset DLBS yang telah banyak digunakan para dokter, baik lokal maupun internasional. Salahsatu temuan Doctor of Philosophy (Ph.D) di bidang Biochemistry itu di antaranya DLBSS233 yang dikenal dengan nama Inlacin. Inlacin dikenal sebagai obat herbal bagi penyandang diabetes dan kebal insulin.


Sebagai produk asli Indonesia, Inlacin menjadi salahsatu alternatif bagi penderita diabetes, karena mampu menurunkan kadar HbA1C (Hemoglobin yang berikatan dengan glukosa) hingga 1,13 persen. Kepada GATRA, Raymond menjelaskan penderita diabetes rentan mengalami komplikasi. Nah, Inlacin mengatasi resistensi tersebut dengan memberikan efek insulin sensitivitas lewat ramuan fraksi biokatif dua herbal, yaitu kulit kayu manis, dan daun bungur. Dengan paduan tersebut, gula darah pasien bisa turun dan mencapai target pengobatan. “Dengan menggunakan Inlacin, pasien-pasien yang tadinya mengalami komplikasi kronis bisa dicegah oleh aksi molekuler dari obat tersebut.” paparnya.


Obat herbal lain yang menjadi kebanggaannya yakni Dismeno yang banyak banyak diresepkan oleh para dokter kebidanan dan kandungan kepada para pasien wanita karena kasus nyeri saat menstruasi yang disebabkan penyakit organik seperti endometriosis (penyakit pada sistem reproduksi atau dinding rahim). Kemunculan obat Dismeno yang dikeluarkan Dexa Medica itu juga memberi jawaban pada kasus-kasus medis yang dialami pasien wanita.


Sebagai peneliti, Raymond hafal betul dengan ragam istilah dan jenis tanaman obat di Indonesia. Hal itu didapatinya dengan kegemaran membaca buku. Pengampu mata kuliah teknobiologi Universitas Atmajaya, Jakarta, itu seringkali memperoleh inspirasi dari literatur yang dibacanya. Bahkan dari pengalaman orang-orang sekitarnya. Bahkan penelitian tentang kayu manissebagai ide awal meramu obat Inlacin, diperolehnya dari teman sejawat yang biasa mengonsumsi kayu manis yang diseduh secara tradisional untuk pengobatan diabetes.


Keahliannya dalam meriset obat diperolehnya sejak menimba ilmu di Amerika. Raymond sekolah di negeri Uwak Sam hingga meraih doktor. “Pada waktu saya kuliah S1 di pertengahan tahun 1980-an, penelitian rekayasa genetika baru saja dimulai,” katanya. Raymond bisa disebut sebagai putra Indonesia yang pertama kali mempelajari ilmu rekayasa genetika di era 80-antersebut—dimana menurutnya pada rentang waktu tersebut, ilmu rekayasa di Indonesia belum sepenuhnya dipahami.


Dengan mengambil jalur yang berbeda, Raymond lalu mempelajari ilmu tersebut dengan menempuh berbagai percobaan menggunakan teknik kloning sel dan sejenisnya. “Ilmu dasar ini yang harus kita kuasai sebagai saintis,” ujarnya. Kesukaannya pada penelitian bioteknologi membawanya menempuh kuliah pasca sarjana S2 dan doktoral di University of California, Riverside, Amerika dengan memilih jurusan biokimia medis. Raymond mengaku bersyukur dapat mengikuti bangku kuliah sesuai dengan jalur yang digemarinya. Saat menjalani prodi S2 dan S3, iamulai meneliti senyawa biokimia poliamin dengan menggunakan teknik biokimia maupun rekayasa genetika.


Senyawa alami selalu menjadi obyek dalam berbagai topik penelitiannya. “Kesukaan pada penelitian, membawa saya ingin untuk meneliti lebih lanjut lagi,” ungkapnya. Pada saat menempuh studi paskadoktoral di bidang Farmasi Molekular (1994-1996), Raymond mulai tertarik mengkhususkan penelitiannya untuk mengembangkan teknik rekayasa untuk mematikan sel-sel kanker.Ia mulai mencari obat-obat analog prostaglandin dan poliamin (senyawa lipid) yang berperan untuk mengatasi penyakit kanker. Kedua senyawa tersebut menurutnya mempunyai efek penyembuhan yang tinggi terhadap penyakit kanker.


Berkutat dengan dunia ilmu sains dan biomedik selama puluhan tahun membuatnya kemudian menjadi peneliti yang handal. Bahkan dirinya berkisah bagaimana ilmu biomedik pada awalnya menjadi ilmu yang tak banyak diminati. Bahkan Raymond mengenang bagaimana rekan sejawatnya selepas lulus SMA, lebih memilih jurusan dengan profesi yang pasti, seperti: insinyur, dokter, administrasi bisnis, farmasi dan sebagainya. “Namun saya percaya bahwa ilmu yang saya pelajari kelak akan berguna bagi banyak orang,” katanya.


Untuk mencapai perjuangan yang panjang sebagai ilmuwan biologi molekular, Raymond harus menghabiskan waktu selama 13 tahun, sejak lulus SMA hingga menempuh pendidikan pasca doktoral. Dengan kurun waktu yang selama itu, ia mengaku banyak menghabiskan waktu di laboratorium, memulai riset tentang obat-obatan herbal.


Selepas menjalani pendidikan posdoktoral di Amerika, serta riset fellowship di University of California, San Francisco, pada tahun 2000 Raymond pulang. Niat awalnya pulang ke tanah air dalam hal pencarian obat herbal. Dirinya mengaku Indonesia sebagai tanah yang subur yang mampu menghasilkan berbagai produk jenis tanaman alamiah, yang tidak didapatinya di Amerika. Raymond juga melihat potensi pengembangan obat baru berbasis bahan herbal di Indonesia, karena keberadaan industri kimia di tanah air menurutnya sudah cukup mumpuni. “Saya melihat banyak peluang di Indonesia dalam hal pencarian obat-obat baru.” katanya.


Pengalaman meracik bahan-bahan herbal pertama kali didapatinya dari perusahaan farmasi terkemuka di Amerika yaitu Smithkline Beecham. Di perusahaan tersebut, ia belajar teknik riset laboratoris yang sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan farmasi di Amerika. “Di sana saya banyak belajar cara mengembangkan obat baru menggunakan teknik riset translasional dari lab ke pasien.” Berbekal pengalaman uji klinik yang dilakukannya di Amerika, Raymond berkesimpulan Indonesia layak menjadi target pengembangan terhadap produk-produk obat berbahan herbal.


Setiba di tanah air pada tahun 2000, Raymond langsung diajak bergabung oleh perusahaan Dexa Medica. Saat itu pendiri Dexa, Rudy Soetikno (alm.) memang sudah lama bercita-cita membangun industri obat dengan mengembangkan riset berbasis bahan alam. Raymond menerima ajakan tersebut dengan menjadi peneliti di perusahaan tersebut. Pada 2005, iapun dipercaya mendirikan Pusat Riset Dexa Medica yang lazim dikenal sebagai Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS). Pada awal berdirinya, DLBS baru memiliki lima (5) orang peneliti, dengan Raymond sebagai Ketua Tim.


“DLBS ini saya konsepsikan sejak awal menjadi rumah bagi para periset industri handal tanah air, apapun latar belakang edukasinya. ”Pelan tapi pasti, DLBS lalu menjelma menjadi pusat riset industri farmasi pionir di Indonesia. Sejak awal berdiri hingga saat ini, DLBS telah mengeluarkan sembilan (9) obat berbasis Obat Herbal Terstandar maupun Fitomarfaka. Dari sisi SDM, saat ini DLBS sudah memiliki 160 saintis. Bahkan tahun ini saja, terang Raymond, DLBS akan mengembangkan dua puluhan obat baru, yang siap diresepkan dokter. “Tantangan untuk lebih banyak mengembangkan obat baru inilah yang selalu saya rasakan.” Katanya.


Menurutnya ada kegembiraan tersendiri bagi seorang peneliti ketika berhasil menemukan obat-obat baru bagi para pasien. Terlebih lagi bila produk obat yang dihasilkan mampu mengatasi permasalahan terhadap penyakit kronis dan komplikatif. “Tiada hal yang lebih menggembirakan bagi saya sebagai seorang saintis, selain obat yang kita kembangkan diresepkan dan pasiennya menjadi sembuh,” katanya.


Raymond juga aktif menulis penelitian ilmiah terkait obat-obatan herbal. Tak kurang lebih dari 95 paper yang dituliskan dipublikasikan di Inggris. Tak hanya itu, pria yang doyan membaca Novel itu juga tengah mengantongi empat (4) hak paten dalam negeri dan 16 paten di luar negeri. Misalnya produk obat Inlacin dipatenkan di Amerika, dan berbagai negara lainnya.Menurutnya DLBS selalu bertekad untuk melakukan paten dari obat-obat yang dihasilkan. Paten di dalam negeri diperoleh lewat Dirjen Hak Kekayaan Intelektual di Kementerian Hukum & HAM. Sementara Paten di luar negeri diperoleh dari Patent Cooperation Treaty.


Menurutnya, belajar dari pengalaman yang ada, banyak produk herbal Indonesia yang diriset di luar negeri dipatenkan oleh peneliti luar negeri. Kondisi tersebut jelas merugikan perkembangan obat herbal di tanah air. “Dan kita hanya merenungi nasib saja,” ungkapnya.
***


Salahsatu prestasi besarnya saat terlibat dalam proyek penelitian dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika (NASA), pada 1991. Seorang astronot wanita bernama Dr. Millie Hughes-Fulford mengajaknya dalam proyek penelitian Spacelab Life Sciences (SLS 1) dengan menerbangkan pesawat ulang alik ke luar angkasa. Dr. Lilie juga dikenal sebagai seorang Principal Investigator di University of California, San Fransisco. Proyek tersebut juga disebut-sebut sebagai misi spacelab pertama yang didedikasikan untuk penelitian biomedik.


Penelitian tersebut bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah ekspresi gen tulang manusia dalam kaitannya dengan pengeroposan tulang pada kondisi gravitas nol. Raymond mengaku bersyukur karena terlibat pada tiga (3) eksperimen terpisah dalam misi pesawat ulang alik program STS-76, 81 dan 84. Bekerja hampir 24 jam selama beberapa minggu di NASA Centre Cape Canaferal merupakan pengalaman berharga. “Pengalaman bekerja dengan para saintis di NASA adalah pengalaman yang sangat memperkaya perspektif saya sebagai seorang saintis biomedis,” katanya.


Berkat buah kerja keras sebagai penemu obat, Raymond berhasil meraih penghargaan Habibie Award 2016. “Saya menganggap hadiah ini bukan untuk saya, namun bagi para saintis di Dexa Medica, sekaligus juga untuk para saintis yang bekerja di industri.” ungkapnya dengan penuh syukur. Peneliti berumur 52 tahun itu menyebutkan visi mulia seorang saintis yaitu untuk membangun dan mengembangkan industri obat di tanah air.


Ia berpandangan dewasa ini kondisi Indonesia mulai mengalami deindustrialisasi. Serbuan produk impor berupa makanan dan obat menjadi tantangan tersendiri, agar peneliti domestik lebih meningkatkan daya saingnya. Ia menghimbau agar Pemerintah mendorong penyederhanaan ijin dan penggunaan produk hasil riset di tanah air. “Pemerintah juga harus memfasilitasi dan menghargai berbagai penelitian yang dilakukan industri,” kata Raymond.


Dirinya juga memapar harapan agar produk dan obat herbal Indonesia pada program BPJS masuk dalam formularium obat nasional. “Sayangnya, walaupun Indonesia memiliki 30.000 lebih tanaman obat, tidak ada satupun obat herbal yang masuk kedalam formularium nasional.” tukasnya. Meski demikian ia mengaku bangga menjadi seorang peneliti obat tanah air. Menjadi seorang peneliti menurutnya upaya mulia yang dapat dilakukan untuk membangun negara. “Menjadi saintis adalah cara yang mulia membangun negara,” pungkasnya.


Penulis: Andhika Dinata

Ikon GATRA 2016,  Edisi Khusus Majalah GATRA nomor 09 tahun ke XXIII, Beredar 29 Desember 2016

 

 

Andhika Dinata
07-01-2017 14:53