Main Menu

Media Massa Wajib Sediakan Ruang Sastra untuk Regenerasi

Fahrio Rizaldi A.
28-04-2016 23:23

Jakarta, GATRAnews - Para penulis sastra menilai ruang apresiasi karya sastra di media massa mulai berkurang. Banyak media yang akhirnya menghapus rubrik sastranya karena alasan ekonomi. Penulis sekaligus sutradara, Djenar Maesa Ayu menilai media memiliki peran besar untuk menciptakan sastrawan baru. Atas dasar itu, penulis cerpen Lintah ini menginkan media masa harus terus menyediakan ruang untuk karya sastra.

"Agak ironis ya, ketika ruang sastra harus hilang hanya karena alasan untung rugi. Saya takut generasi muda yang punya potensi menulis tidak lagi memiliki medium untuk karyanya. Sastra koran harus selalu ada untuk regenerasi," ungkapnya, Kamis (28/4), di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Djenar sendiri merasakan masa-masa emas media cetak, terutama koran dalam memberi ruang apresiasi untuk seni sastra. Nama Djenar mulai dikenal saat cerpennya berjudul Lintah dimuat di Kompas akhir pekan pada tahun 1999 silam. "Itu bukti ruang sastra di media, saat itu saya nggak mimpi jadi penulis. Bagi saya, satu cerpen saja cukup. Akhirnya saya dihubungi Gramedia dan diminta membuat buku," ungkapnya.

Di masa itu, Djenar mengakui persaingan antar penulis sangat ketat. Persongan itu dianngap sebagai kompetisi yang sehat oleh para penulis. Sebab, penulis mudah mengetahui bahwa karyanya belum layak dibaca ketika tidak dimuat oleh media. "Ini kompetisi sehat. Kami berperang lewat pikiran, tulisan, ide, dan kreativitas. Jangankan penulis baru, cerpen karya saya juga nggak selalu dimuat kok. Masih sering ditolak. Ini menandakan masih ada kesempatan untuk para penulis muda berani berkarya," tukas Djenar.

Hal senada diungkapkan oleh penulis sekaligus sutradara teater Agus Noor. Menurutnya, media cetak membantu mengedarkan tulisan sastrawan secara benar. "Media bersifat otoritatif, jadi nggak sembarangan muat. Sastra koran itu bersaing, yang dimuat hanya yang lulus penilaian redaktur. Tapi ini sifatnya persaingan sehat, jadi kalau tulisannya dimuat rasanya senang," tutur Agus Noor.



Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Edward Luhukay

Fahrio Rizaldi A.
28-04-2016 23:23